Pemuda Nusantara

Pemuda Nusantara

0
630

Personalitas vs Identitas

Mulai untuk memberi arti pada kehidupan ini, karena hidup tak sekadar hidup. Memberi warna pada sekitar adalah pilihan. Dalam proses memberi warna pada yang lain akan membawa kita untuk tujuan puncak yakni mengenali personalitas diri. Karakter orang dapat dibaca dari tingkah laku yang khas dari seseorang. Tingkah laku Personalitas adalah karakter yang muncul dari dasar diri. Berbeda dengan identitas yakni karakter yang dipengaruhi dari lingkungan.

Wahai pemuda, sekali-kali berdirilah di tempat yang tinggi. Mungkin kamu bisa pergi ke puncak gunung, atau sekadar bermain di atap rumah. Lihatlah lingkungan sekitarmu, masih asrikah atau sudah berubah menjadi lautan genteng, atap bertingkat atau semacamnya. Masih tersisakah lahan hijau di sepanjang pandanganmu. Masih dapatkah kau melihat indahnya persawahan serta masih menciumkah kesejukan udara pagi. Atau telah berubah menjadi kemacetan polusi sampai kau perlu menggunakan oksigen tambahan dari tabung.

Sesekali lihatlah asrinya bumi pertiwi. Petani yang sedang bercocok tanam. Lihatlah peternak yang sedang ngangon hewan ternaknya di ladang. Lihatlah perbedaan dulu dan sekarang. Siapa sebenarnya yang telah menyuruh para pemuda harus duduk di kursi kantor, mengabaikan atap teriknya matahari dan kerasnya batu cadas. Siapa yang sebenarnya telah mengubah pola pikir pejuang bangsa yang membela tanah air sampai mempertaruhkan nyawanya menjadi acuh tak acuh dengan logo “emang gue pikirin.” Mengapa mudah sekali terprovokasi dengan permainan psikologi massa terhadap trending topic yang berubah-ubah tiap bulannya. Tidakkah kalian sadar ada misi di balik gonjang-ganjingnya setiap isu. Dan kita turut serta (dengan antusias) dalam penyebarluasan isu yang tak memberi kesejahteraan masyarakat.  Seolah-olah itu sebuah bantuan yang harus disebarluaskan tanpa memikirkan efek sampingnya.

Tidak sadarkah berapa banyak keinginan yang tak sebenarnya muncul dalam diri alih-alih pengaruh dari luar yang berpura-pura menyusup dalam diri dan menyuruh untuk menuruti semua keinginan itu. Tidakkah diri ini sadar banyak keinginan-keinginan yang sebenarnya tak perlu segera direalisasikan namun malah didahulukan.  Hidup layaknya memakai topeng-topeng identitas dan diri ini bangga dengan hal itu. Identitas tetap diperlukan, itu bukanlah hal yang buruk. Namun, perlu kesadaran dalam penggunaannya.

Pemuda = Puasa

Masih ingatkah fase metamorfosis dari telur-larva-kepompong-kupu-kupu. Fase kepompong adalah fase pemuda. Bayangkan bentuk kepompong, dia harus bersembunyi dalam cangkangnya dan bergantung pada sebuah dahan pohon dalam waktu yang lama. Dia tak makan ataupun minum seperti fase sebelumnya, kita sebut saja fase berpuasa. Kepompong adalah perubahan larva menjadi kupu-kupu. Indahnya kepakan sayap kupu-kupu harus melalui fase puasa. Layaknya pemuda, dia juga mengalami fase puasa.  Pemuda mengalami perubahan baik psikis maupun fisik dari anak-anak menuju dewasa. Awalnya ditanggung menjadi menanggung. Ditanggung memang menjadi kodratnya untuk diasuh dan dipenuhi keperluannya oleh orang tua. Semakin dewasa dia pula berubah menjadi menanggung. Semakin berkembangnya fisik dan psikis untuk mampu hidup mandiri dan tidak menjadi beban orang tua lagi.

Pemuda perlu mandiri supaya (1) mampu mengenali diri sendiri dan tahu harus berdiri dimana, (2) mempunyai ketahanan fisik dan mental, (3) mempunyai sudut pandang yang jernih dalam memandang sebuah masalah, (4) Menjadi generasi penjaga. Apa-apa lagi empat hal di atas tersebut. Mari kita uraikan satu per satu.

Mampu mengenali diri sendiri dan tahu harus berdiri dimana, adalah sikap yang mawas diri. Semua tak ada yang sama semirip apapun orang kembar identik pasti ada titik yang memunculkan perbedaan. Mawas diri ini membawa seseorang untuk mengenali diri dan situasi serta kondisi sekitar sehingga perilaku kita bisa saja berubah-ubah.

Mampu mengenali diri sendiri akan membawa kita dapat berhubungan baik dengan orang lain. Maksud lainnya adalah bermanfaat kepada banyak makhluk, menguatkan pijakan kaki ke banyak wilayah di bumi, mempererat hubungan horizontal dengan sesama makhluk ciptaan-Nya. Dengan tertatanya hubungan baik ini, akan membantu individu dalam menyangga urusan diri menuju ke singgah sana (hubungan vertikal) yakni bersatu dengan cahaya ilahi.

Mempunyai ketahanan fisik dan mental , secara psikologi perkembangan pemuda pada taraf persilangan grafik akal dan fisik yang sedang sama-sama meningkat. Tak perlu ragu untuk membebankan urusan besar pada mereka. Pemuda berada pada fase energi yang melimpah serta pola pikir atau akal yang semakin meningkat. Sehingga sangat tepat bila pemuda dijadikan pemuka paling depan dalam menjaga bangsa. Setidaknya pemuda tidak menambah kerusakan alam ataupun tatanan negara. Itu saja sudah sangat membantu apalagi mampu membuat perubahan ke arah yang lebih baik.

 

Mempunyai sudut pandang yang jernih dalam memandang masalah yakni tak mudah terprovokasi dengan hal-hal yang masih berada di permukaan atau kulit. Maksudnya kita tak boleh menelan berita itu mentah-mentah. Ibarat makan durian tak mungkin kan  jika kau makan bersama kulitnya. Persiapkan sebilah pisau, lalu buka dengan saksama. Setelah itu baru terlihat buah yang manis di dalam permukaan yang berduri.  Seperti itulah kita memandang masalah. Namun banyak yang tak menyadari bahwa pengaruh lingkungan saat ini sangat kejam sehingga ide-ide original tak sempat keluar dari pemuda nusantara.

Menjadi generasi penjaga, dengan langkah kecil untuk tidak melakukan perbuatan yang semakin memperburuk keadaan saja itu sudah termasuk dalam mencintai bangsa. Setidaknya pemuda menjadi generasi penjaga. Bangsa akan sangat berterima kasih apabila hal itu disusul dengan pemuda mampu menginisiasi perubahan ke arah yang baik. Menuju kesejahteraan masyarakat yang tinggal di wilayah Nusantara ini, bahkan kebaikan untuk masyarakat lain yang berada di luar wilayah kita.

Masa tidak terulang dua kali, maka jangan sia-siakan masa mudamu. Tetap berharap bahwa kebaikan selalu menjadi kemungkinan yang diakadan disamping kenyataan pahit yang sedang dirasakan. Bahwa dalam Qur’an Surat Al-Insyiroh telah berulang kali diutarakan bahwa disamping kesulitan selalu berbarengan dengan kemudahan.

 

Buanglah sampah dari Otak

Masih pada bahasan yang sama, yakni berpuasa. Fase berpuasa itu adalah saatnya menahan segala keinginan-keinginan, biasa disebut hawa nafsu. Ingatlah keinginan berbeda dengan kebutuhan. Kebutuhan adalah sesuatu yang harus segera terpenuhi. Sedangkan keinginan adalah sesuatu yang tak harus dipenuhi. Sekarang hal-hal tersebut makin kabur, hampir-hampir keinginan tersamarkan menjadi kebutuhan. Semakin banyak keinginan yang dipenuhi, semakin tebal “sampah” yang menyelimuti dan menutupi kesadaran. Maka buanglah sampah pada tempatnya dan jangan simpan dalam otak.

Puasa sama dengan mengelola keinginan-keinginan yang muncul dalam diri.  Puasa menjaga seseorang dari keinginan atau hawa nafsu yang selalu ingin dituruti. Puasa memiliki sistem kerja yang kompleks dalam tubuh, begitu individu yakin untuk menahan makan, minum serta keinginan lainnya, maka tubuh pun memahami dan bekerja dengan baik dalam membantu proses berpuasa.  Mengelola hati juga tak kalah penting, hati akan sering goyah ketika indivdu membuka sedikit saja pertahanannya. Namun ketika dia mampu berpegang teguh pada keyakinannya, maka diapun dapat dengan kuat melampaui masalah-masalahnya.

 

Hadapi satu masalah tepat di depanmu

Suatu saat, dipertemukan dengan sebuah peritiwa dimana seorang dokter muda harus memilih di antara dua korban yang sama-sam tertimpa bencana. Sang tentara yang sedang mengevakuasi pun berkata pilih salah satu yang memiliki kemungkinan tertinggi untuk hidup. Karena kita tak dapat menolong keduanya, reruntuhan yang menimpa mereka berdua saling terhubung. Karena apabila satu kita bantu maka akan menjadi menjadi boomerang jadi korban lainnya.

Setelah mendiagnosis dua korban yakni tua dan muda. Dokter tampak sangat bingung, melihat pengorbanan sang kakek yang telah bekerja lama dalam kontruksi bangunan telah memahami bahwa saat itu tak mungkin untuk menyelamatkan dua korban sekaligus. Dia sempat berpesan untuk keluarganya dan memilihkan dokter untuk menyelatkan anak muda yang tertancap besi diatas sana. Dengan ikhlas bapak menyerahkan nyawanya. Dan memiliki pandangan yang  panjang terhadap masa depan pemuda tadi.  Sang dokter pun kembali menanyakan pada tentara setelah mendiagnosis pasca setiap korban di tolong. Sang tentara pun memberikan masukan. Kita tak memerlukan dokter yang ahli dalam hal genting seperti ini, kita juga tak perlu dokter yang mampu menemukan anti-virus. Namun, kita memerlukan keputusan dari dua pilihan tadi. Keputusan yang diambil adalah baik apapun pilihannya. Karena yang perlu dijalankan sekarang hanyalah urusan tepat di depan mata kita. Mengenai efek sampingnya itu adalah perjalanan selanjutnya.

 

Pemuda lagi….

Wahai pemuda nusantara, ingatlah kamu tinggal di wilayah agraris. Kenalkah kamu dengan personalitas dirimu. Dari mana pengaruh itu datang yang mengatakan bahwa petani dan peternak adalah pekerjaan rendahan dan pekerjaan kantor adalah pekerjaan bergengsi. Kita tak ingin membicarakan kaya dan miskin. kita seharusnya bersyukur diberi anugerah untuk mengelola secuil tanah surga yang tepat di jatuhkan di bumi nusantara ini. Bukan hendak menentang pekerja kantoran di berbagai sektor seperti manajemen ataupun sales marketing dsb. Mungkin memang kita tak sebagus luar negeri sistem manajemennya. Karena memang bukan personalitas kita. Peronalitas daerah kita ya memang sektor agraris. Tidak menolak bidang pekerjaan itu, hanya saja perlu kita sadari untuk tidak memandang rendahan pekerja di sawah dan di ladang.

Mereka yang bekerja di atas batu cadas dan beratapkan teriknya matahari tak pernah mengeluh walah gaji hanya cukup untuk makan sehari. Namun kekeluargaan sangatlah dijunjung. Keluarga adalah nomor satu, pengasuhan terhadap anak adalah utama. Berbagi makanan adalah kebiasaan yang membudidaya.

Ada satu kisah lucu yang membuat kita mengerutkan kening sambil tersenyum, seorang petani dari pelosok desa sedang main ke rumah temannya di perkotaan. Dia datang dengan membawa semua hasil ladangnya berupa padi berkarung-karung, pisang, jagung, dan sayuran hasil pangan lainnya satu mobil gundul. Niat untuk mempererat tali silaturahim tercapi sudah. Naik ke maksud yang kedua yakni jauh-jauh datang ke kota untuk mencari uang. Lembaran uang tak banyak ia genggam bila tinggal di desa.

Tuan rumah pun berpikir-pikir, nah hasil ladang mu saja banyak sedemikian rupa, sehingga tak pikir panjang membawakan ku semobil itu. Masih berpikir untuk mencari uang.  Sang orang desa tadi menjawab, masalah pangan itu tak untuk dijual pak. Namun kami terbiasa untuk membaginya ke tetangga-tetangga. Inilah personalitas asli nusantara. Hal ini sebaiknya menjadi rahasia kita sesama penduduk nusantara. Bila orang luar tahu maka habislah sudah. Padahal hasil ladang sedemikian banyaknya dapat dijual yang mampu tergantikan dengan lembaran uang. Tuan rumah hanya tersenyum dan menggeleng-geleng kan kepala.

Penulis : Mery Yulikuntari
Foto : kompasiana.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY