Ada banyak, banyak sekali hal yang tidak aku mengerti, tentang bagaimana sejatinya hidup, menyoal siapa sebenarnya diri. Hal itu menjadi pertanyaan besar yang selama ini masih tetap tersimpan, rapi. Aku terus mencari, berusaha menemukan jawabannya. Lama, teramat lama tak kunjung kutemukan. Tanyaku masih mengambang, dan jawabannya semakin menggoda . Setelah waktu menunjukkan masa depannya. Kini aku berhasil menemukan sedikit dari yang banyak. Hanya potongan-potongan kecil, pengobat rindu sementara.

Sejauh ini yang bisa aku tahu, aku hanya orang biasa yang mencoba untuk merangkai mimpi-mimpi besar. Mimpi yang tak semua orang berani membayangkannya. Kerasnya dunia menjadikan sebagian orang semakin penakut. Dan sebagian lain membusungkan dada, mendongakkan kepala, menyombongkan diri. Mimpi besarku itu sama sekali tak bermaksud menyombongkan diri, hanya saja ketika didapuk sebagai manusia yang hidup, aku merasa punya tanggung jawab yang besar pada kehidupan. Memayu Hayuning Bawana! Meski mungkin bagi orang lain, Aku hanyalah sosok yang tidak ada akupun tidak masalah, tidak ada yang merasa rugi. Hanya saja, aku yang rugi jika dalam hidup ini aku hanya biasa-biasa saja. Mimpi besar itu, menjadikan aku belajar membuat sekitar menikmati keberadaanku.

Perjalanan panjang telah dilalui, meski belum sepenuhnya. Namun jalan yang panjang itu, hasilnya masih tetap sama, aku belum bisa memahami siapa sebenarnya diri. Terkadangpun aku masih terjebak dalam rasa keakuan yang sangat kuat, merasa bahwa diri ini lebih hebat dari yang lain dan lebih segalanya. Ampun, kenyataannya tidaklah demikian, hanya omong kosong yang tanpa makna, sebatas menghibur diri.

 

Pos-pos Petunjuk

Sampai suatu ketika, ya benar, tepat saat itu. Saat semua orang menemukan pos-pos tertentu yang menyediakan banyak petunjuk untuk menyelami diri. Takdir mempertemukanku dengan sesosok bapak tua yang sederhana. Di balik kesederhanaan yang bersahaja. Petunjuk yang mencambuk, kata-kata itu, “Saat merasa bahwa dirimu hebat hal itulah justru yang akan menjadi kelemahanmu.”

Bapak tua yang ajaib. Semua tuturnya tak mudah luntur, setiap kata yang mengalun memberi kesejukkan baru. Kata-katanya, rasa-rasanya adalah jawaban yang selama ini begitu kurindukan. Benar-benar tak ku lupa, ada kata yang membekas ringan namun melekat kuat. Kata yang menjadi tanda awal bertemu, beliau sampaikan ke hadapan orang banyak tapi sepertinya itu spesial hanya untukku. “Untuk mengetahui dirimu, berkacalah dari orang lain dan jangan jadikan dirimu hanya sebatas milikmu sendiri.“

Dari kata-kata itu, aku mulai belajar mencerna dengan perlahan. Dan kesalahanku adalah, aku terlalu mendengarkan suara yang hanya dalam pikiran, tak pernah melibatkan suara hati. Suara hati, suara yang dikisahkan tak pernah berbohong pada diri. Karena suara hati adalah sejatinya suara yang telah dibisikkan olehNya. Suara yang mengandung cahaya, nur untuk bisa kita rasakan dan kita hayati.

Seberapa dalam rasa dan penghayatan itu. Ada kalanya kita juga berjalan tanpa kesadaran, tidak sadar melakukan sesuatu. Sebatas yang kutahu, ketidaksadaran muncul karena aku masih belum bisa merasakan suara hati sepenuhnya, dan terjebak untuk lebih mengikuti apa yang ada dalam pikiran. Maka, jika ingin berjalan dengan kesadaran penuh, diperlukan keseimbangan antara hati dan pikiran. Berjalan beriringan, tak ada yang lebih dominan. Saling mendukung, saling menyambung.

Mengenal Maiyah

Suatu malam, saat kaki melangkah berkunjung ke rumah bapak guru, sekadar menyampaikan kegelisahan-kegelisahan yang tengah membuatku sulit memejam mata. Tanpa ku duga bapak guru malah mengajak aku dan kedua sobat tercinta mengikuti sebuah pengajian yang beliau sebut dengan “maiyahan.” Sangat asing di telingaku, atau telinga manapun seusiaku. Baru kali itu aku mengetahui nama maiyah. Beliau mengatakan nanti akan ada mas “Noe letto”. Aku pun mengiyakan tanpa berpikir panjang, dengan alasan ringan, pingin bertemu dengan mas Noe yang memang sedari dulu sudah ku kagumi, sejak lama.

Namun tak dinyana, tidak pernah terbayang sebelumnya. Aku terpana dan kaku sesaat. Banyak sekali keganjilan-keganjilan yang aku temui, keganjilan yang malah menggenapi. Keganjilan yang aneh tapi juga menakjubkan. Rangkaian keganjilan-keganjilan yang semenjak saat itu, rutin berkunjung dan terus menerus bermunculan.

Pengajian ini sungguh berbeda, menarik dan penuh dengan makna. Jika pada umunya pengajian antara laki-laki dan perempuan akan dipisahkan oleh hijab, namun pengajian maiyah berbaur menjadi satu. Seolah menunjukkan bahwa tujuan kita sama, kegelisahanmu kegelisahanku juga. Maka tidak perlulah ada pemisah, tidak ada lagi perbedaan, semua berada pada taraf yang sama. Pejalan yang ingin mendekat pada tujuan.

Rangkaian musik yang menjadi pengiring pengajian tersebut juga tidak luput menambah ketakjubanku. Alat musiknya sebagian besar adalah musik tradisional yang dikombinasi dengan musik modern. Namun semua bisa berharmoni menciptakan nada-nada indah dan penuh dengan kehikmatan. Mengalun keras di telinga namun membelai mesra pada hati. Semua nampak khusuk mendengarkan alunan-alunan suara tersebut.

Dan yang lebih membuatku semakin terpana. Ada sosok yang tidak asing namun belum pernah kutemui sebelumnya, wajahnya amat teduh dan tutur katanya mengalir begitu lihai membaca hati ini. Sejak saat itu aku baru mengenal yang orang bilang bernama Cak Nun. Entah hitungan yang ke berapa, sekali lagi, aku terpana. Entah kekuatan apa yang telah membawaku bisa sampai sejauh ini, bertemu dengan orang-orang yang belumku kenal namun terasa sangat dekat, terikat dengan kuat oleh hati. Hingga, pertemuan itu membawa aku sampai pada titik ini, sedikit jadi manusia ngerti.

Nyuhani prasasti

LEAVE A REPLY