Kali ini aku ingin sekali bercerita dan berbagi rasa ketika aku menemui Padhang mbulan. Padhang mbulan sendiri merupakan salah satu istilah dari Jawa untuk menyebutkan bersinarnya bulan secara sempurna. Jika terkadang bulan malu-malu menampakkan sinarnya. Satu hari dalam satu bulan sekali, bulan dengan percaya diri menampakkan segala keindahan yang melekat pada dirinya.

Jika dibanyak anak muda lain menikmati sempurnanya cahaya bulan dengan kegiatan-kegiatan biasa. Seolah diri ini dipilih Sang Tunggal untuk menikmati fenomena alam ini dengan cara yang tak biasa. Ya kali ini, seolah diri diberi kekuatan, jalan dan kesempatan untuk hadir sejenak dalam sebuah acara. Acara penuh menikmati kesempurnaan sinar bulan dengan menghilangkan kedirian, keegoisan dan keduniaan. Karena dalam acara ini semua duduk bersila di tempat yang dirasa nyaman dan tepat untuk menyerap sinar-sinar bulan. Tidak ada yang merasa lebih pintar, lebih unggul atau lebih kuat. Semua yang hadir di sini semua merasa sebagai seorang yang sedang mencari kemurniaan dan keindahan dalam hidup.

Acara Padhang mbulan. Acara yang memang aneh dilakukan di sebuah desa yang terletak di kota santri. Kota santri memang melekat pada kota ini, karena banyaknya pondok pesantren yang berdiri dengan gagah. Keanehan bertambah ketika acara ini tidak dilakukan di salah satu pondok pesantren sedangkan di kota ini begitu banyaknya pondok pesantren yang berdiri. Oh, inilah tempat yang menghargai proses-proses bersinarnya bulan pada setiap individu. Jika di individu satu telah sempurna cahaya bulannya, di individu lain masih ada yang belum sempurna. Karena masih di ruang dan waktu yang berbeda untuk bersinar.

Meskipun aku merasa dalam diriku masih belum ada sinar bulan yang nampak. Namun ketika aku hadir duduk dan bersila dalam acara ini, aku menyerap setiap cahaya bulan yang dibawa oleh tiap-tiap orang. Tak banyak memang yang dapat kuserap dalam diriku, setidaknya ada untuk sekadar menerangi kegelapan hati dan pikiran ini. Kegelapan yang hadir karena kedirian, keegoisan dan keduniaan yang melekat pada diri ini.

Nikmat cahaya bulan

Nikmat cahaya bulan bukanlah sederhana. Setiap cahaya bulan, sebenarnya bukanlah cahaya bulan itu sendiri. Tetapi bulan mendapat cahaya dari matahari, kemudian bulan dapat bersinar di malam hari. Layaknya kehidupanan ini, Sang Tunggal menitipkan cahaya kepada kekasihNya, kemudian kekasihnya membagikan setiap cahayaNya untuk bulan dan bagian lain dari sisi lain bumi. Ketika menikmati cahaya bulan setiap manusia tidak begitu saja melupakan cahaya matahari pagi dan siang hari. Melihat bulan adalah jalan melihat cahaya matahari. Saat ini hati mulai terbuka dan mulai sadar, bahwa ketika melihat seseorang begitu bersinar dan bercahaya dalam kehidupannya. Seseorang itu telah berproses menjadi bulan dalam hidupnya, untuk mempelajari dan mendalami segala ilmu tentang kekasih Sang Tunggal.

Nikmat  gerak Padhang mbulan

Padhang mbulan tidak akan terjadi ketika bulan sejajar dengan matahari atau bumi. Karena apabila itu terjadi, maka yang akan nampak adalah gerhana bulan atau gerhana matahari. Inilah pula kehidupan kita, tak bisa mensejajarkan dengan matahari. Kita bukanlah matahari, kita adalah bulan dan bumi yang selalu menyerap cahaya-cahaya matahari. Semakin kita meninggikan kedirian, keegoisan diri dan keduniaan. Cahaya bulan tak terlihat, apalagi cahaya matahari. Semua terasa hidup di malam hari tanpa bulan. Tak ada cahaya yang dapat dinikmati selama malam menyelimuti dan menemani hati. Semua pun terasa di sini, tak ada yang merasa menjadi Padhang mbulan seutuhnya, apalagi merasa menjadi matahari. Karena yang duduk dan bersila di sini merasa hanyalah bulan yang berproses menuju Padhang mbulan total.

Bergerak layaknya bumi

Tak boleh dilupakan pula, bahwa bumi harus selalu bergerak untuk dapat menemukan indahnya bulan dan nikmatnya matahari. Bumi selalu berotasi untuk memenuhi kebutuhan akan matahari. Bumi membutuhkan matahari untuk tumbuhan bermetamorfosa dan manusia bermetabolisme. Begitu pula lah hidup saat ini, terkadang kita harus sepenuhnya melihat kekasih Sang Tunggal untuk dapat menemukan Sang Tunggal. Tetapi kita juga membutuhkan orang-orang yang telah berproses mencerna dan mendalami segala ilmu kekasih Sang Tunggal, sehingga kita mengenal kekasih Sang Tunggal dan Sang Tunggal itu sendiri. Karena ketika kita hanya hanya menyerap satu cahaya saja dari matahari, kita akan terbakar dengan keterbatasan tubuh ini.

Inilah perjalananku, ketika aku menikmati cahaya bulan malam hari ini. Aku tak begitu semena-mena melupakan cahaya matahari. Begitu pula aku juga tak begitu pula melupakan kesempatan dan kekuatan gerak yang ada pada bumi. Pelajaran ku saat ini pun, ketika aku melihat sempurnanya cahaya bulan dari keluarga Si Mbah. Keluarga Si Mbah menunjukkan pada diriku, untuk melihat cahaya dari kekasih Sang Tunggal. Beliau-beliau merasa hanya sebagai bulan, yang menemani kegelapan hati dan pikiranku untuk memahami cahaya kekasih Sang Tunggal. Sehingga aku dapat mengenal dan memahami Sang Tunggal.

Prisma Susila

LEAVE A REPLY