Di tengah kepalsuan, di mana kepercayaan diperjualbelikan, sulit sekali sekarang menemukan kejujuran bahkan dari hal kecil. Perjalanan ini tampak lebih sulit dari biasanya, bukan karena ketidakadaan fasilitas, sebaliknya ketersediaan semua fasilitas membuat hidup semakin membingungkan.  Dahulu zaman orangtua, tantangan zaman adalah untuk memenuhi segala kebutuhan. Untuk tahun ini, sedari kecil anak sudah tercukupi kebutuhan serta telah tersedia fasilitas. Sehingga anak-anak tidak terbiasa untuk berusaha lebih keras dalam memenuhi tantangan. Yang ada adalah kebosanan yang dialami anak-anak karena semua telah tersedia.

Namun, hal itu tak dapat dirasakan di cuilan surga di sebagian Nusantara. Di mana orang desa, baik kenal maupun tidak, setiap tamu disambut ramah. Tak peduli dewasa, orang tua maupun anak-anak. Meskipun tidak saling kenal, tapi entah mengapa mereka seperti memiliki kewajiban untuk mengantarkan kita ke mana pun untuk menikmati cuilan surga ini. Keindahan alamnya sangat menyejukkan pikiran.

Dengan mudahnya anak-anak berlarian ke sana ke mari. Bermain kereta-kereta yang terbuat dari botol. Berenang di telaga desa. Bermain di bawah pohon besar terletak di atas bukit. Tidak sulit untuk mengumpulkan anak-anak. Buat saja keramaian maka satu per satu anak-anak akan menghampiri dan mulai nimbrung bermain bersama. Di saat siang mereka pulang sebentar karena saat itu dhuhur tiba. Mereka harus di rumah istirahat sebentar. Kemudian sekitar pukul 1 di desa yang berada di dataran tinggi sudah tidak sepanas menjelang pukul 12. Anak-anak mulai berkeliaran lagi sampai sore sebelum pukul 4. Mereka bermain di jalanan sepuas mereka. Lahan bermain mereka sangat luas. Satu dusun dapat menjadi lahan main mereka. Dan rata-rata warga saling kenal satu sama lain dengan anak siapa yang sedang main di halaman mereka.

Yang saya sendiri alami bersama teman-teman adalah setiap kali bersilaturahmi ke desa tersebut, setiap rumah selalu menyediakan makanan, tak peduli kita sudah makan atau belum. Mereka selalu menyambut dengan lapang, senyum bahagia. Seorang bapak tua menjamu kami dengan sangat ramah. Dia mengutarakan bahwa agar kami menjadikan anaknya sebagai saudara. Bila setelah bertahun-tahun tak berjumpa, ingatlah desa ini dan silaturahmilah ke sini. Bahkan bapak tua tak hanya menyuruh main ke sana melainkan juga dipersilakan untuk menginap. Di desa tersebut terkenal dengan saudara yang banyak.  Teman kami itu memiliki saudara banyak. Mereka semua berusaha ramah kepada kami walau kami hanyalah tamu dari saudara mereka. Rasanya seperti kita sudah kenal lama sekali.

Menjaga personalitas

Hal yang membuat ciri khas desa tetap kuat  adalah warga yang homogen. Maksudnya, keluarga-keluarga yang ada terbentuk dari sepasang wanita dan lelaki yang berasal dari daerah sama. Hanya beda dusun, desa maupun kecamatan. Sehingga perbedaan kultur, kebiasaan mungkin sangat tipis. Hal ini menjaga kerukunan, kegotongroyongan yang memang menjadi personalitas desa tersebut. Sejak anak-anak mereka tidak dibiarkan menganggur begitu saja. Ketika jam-jam orang tua harus mengerjakan pekerjaan pemeliharaan ternak maupun lahan, anak-anak mereka juga ikut membantu. Jadi, saat itu saya melihat anak kelas dua SMP dengan pakaian ngaritnya bertopi, pakai sepatu boot, serta membawa arit menaiki motor dan telah ada seikat besar kolonjono (rumput gajah). Saya pikir dia sudah mas-mas, ternyata masih anak kelas 2 SMP. Dan hal ini dia lakukan setiap hari untuk memberi makan sapi perah keluarganya.

Ada lagi anak SD, dia bertubuh tidak kurus dan terlihat tampak kuat. Dia sedang membantu orang-orang merenovasi masjid di dusun tersebut. Dia ikut mengangkat luluh, semen, dan lain sebagainya. Satu hal lagi yang membuat desa ini kuat adalah organisasi masyarakatnya yang bertingkat mulai remaja, dewasa, serta orang tua memiliki nama kelompok yang berbeda-beda. Namun mereka dalam naungan yang sama. Jadi ketika yang memiliki hajat adalah kelompok orang-orang tua, maka tanpa diminta pun kelompok remaja serta dewasa langsung mengambil peran masing-masing sesuai kemampuan mereka.  Ini adalah salah satu aplikasi dari kata sawang-sinawang, “Pantesnya bagaimana. Sebagai pemuda memang langsung ambil peran di bagian pemasangan terop, dekorasi panggung dan sebagainya,” tutur salah seorang pemuda.

Sebagian kecil kisah masih terjaganya personalitas bangsa di negeri ini.

(Mery Yulikuntari)

 

 

 

LEAVE A REPLY