Dirgahayu bangsaku, dirgahayu Indonesiaku…

71 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk mempertahankan dan menjaga sebuah negara. Masa emas telah dilewati di 60 tahun, namun masih banyak pekerjaan rumah yang harus direngkuh anak-anak bangsanya. Para pemuda selalu menjadi sasaran empuk sandaran beban-beban (baca: pekerjaan rumah) yang telah diwariskan oleh pemimpin di masa lalu. Namun banyak juga peninggalan membahagiakan yang juga diturunkan oleh para inovator bangsa. Pekerjaan rumah yang ditinggalkan tersebut dapat menjadi beban bagi para pemuda atau trigger untuk memperbaiki kondisi demi kemaslahatan bersama. Begitulah para pemuda yang ambivalen, baik dari karakter maupun responsifitas  terhadap apa yang terjadi di bangsa ini.

Sekilas tentang pekerjaan rumah dan pemuda di bangsa Indonesia yang saat ini 17 Agustus sedang mengulang kembali sejarahnya. Sejarah berdirinya negara ini, yang berarti mengulang potongan-potongan kisah tentang kegigihan para pahlawan dalam memperjuangkan negara. Kini potongan-potongan indah itu sedang dinikmati dan dikontemplasi hingga ke-71 tahun yang disambut dengan meriah bukan hanya oleh para pemudanya, tapi juga oleh para orang tua, dan anak-anak. Mereka merayakan hari kemerdekaan ini dengan penuh kegembiraan, menabur berbagai harapan tentang cita-cita bangsa.

Perayaan yang bukan hanya tentang euforia dan kegembiraan sesaat, tetapi tentang tasyakuran “bersyukur”. Yang diam-diam dalam syukur itu, anak-anak bangsa ini sedang membara dalam berdoa dan sibuk berinovasi untuk bangsanya. Sungguh aura perubahan yang sangat kentara sebenarnya. Hanya saja tak semua mata melihat hal yang sama, ada yang fokus kepada kekurangan bangsa ini dan sibuk mengkritik, sedang lainnya sibuk memperbaiki keadaan dan terus berfikir positif untuk berinovasi. Berinovasi, berkarya yang berarti berjuang sebenarnya tidak dilakukan sendiri-sendiri “tetapi bersama”. Karena dalam setiap perjuangan selalu ada yang membersamai.

Tetaplah Menyala Ksatria Kecil

Selalu ada pejuang dalam setiap peperangan. Pejuang yang diidentikan dengan ksatria. Ksatria pejuang tidak lengkap jika tanpa sikap pemberani dan tangguhnya. Lalu, di sudut Kota Berhawa sejuk ini ditemukan para ksatria kecil yang sedang berpendar. Berpendar melakukan perjuangan. Yang mungkin bagi sebagian orang adalah hal yang remeh temeh. Tetapi seebenarnya sama sekali tidak remeh, melihat keceriaan dan semangat mereka, ini adalah hal yang luar biasa. Ksatria ini merupakan siswa-siswi yang sedang berpartisipasi untuk mengikuti lomba. Lomba untuk memperingati Kemerdekaan bangsanya. Banyak Lomba yang mereka ikuti, tetapi ada satu yang sangat menarik . Menghias kelas, apa yang istimewa dari lomba menghias kelas? Hampir setiap sekolah, mengadakan lomba kebersihan dan keindahan kelas saat 17 Agustus.

Tunggulah sebentar, ini bukan soal menghias kelasnya. Tetapi bagaimana para ksatria kecil menghimpun kekuatan dan berjuang untuk menyelesaikan misi. Dalam jumlah yang lumayan banyak, mereka mampu mengkoordinasi diri mereka dalam irama kekompakan untuk tetap berkontribusi, walaupun dalam hal yang kecil. Seperti melihat kehidupan di tatanan masyarakat dalam sebuah petak. Petak yang sudah memotret cakrawala kehidupan. Mereka sangat berbeda satu sama lain, tidak untuk saling mengungguli tetapi untuk bersatu “manunggal”. Berbagi tugas satu sama lain, menyelesaikan berbagai target yang akan diselesaikan, untuk satu tujuan. Harapan baru.

Takjub, sepetinya sudah, kepada mereka yang terus berusaha menyibukkan diri dalam menyelesaikan tugas itu. Menyibukkan diri untuk menutup lubang, yang setiap kali menganga karena kelalaian. Tawa dan marah, serasa menjadi pemanis dalam pembuatan ornamen kelas tersebut. Pun di sela-sela proses penyelesaian, ada sekelompok “ksatria” yang sedang bersantai, padahal yang lainnya sedang bercucuran keringat di dalam kelas. Sungguh sebuah potret kehidupan yang perfect dan dinamis. Mereka mungkin bukan pemeran utama, tetapi tanpa mereka misi ini tidak akan lengkap. Dan pada akhirnya mereka juga tetap memiliki job description, good job!.

Bermain peran, itulah yang sedang mereka jalani. Dengan peran mengemban tanggung jawab, dari hal yang kecil untuk persiapan tanggungjawab yang lebih besar ke depannya. Menopang tugas setelah dewasa yang telah direkonstruksi mulai dari sekarang. Pembagian tugas secara merata, merupakan manajemen masyarakat di masa mendatang, yang tentunya akan menjadi bekal secara tidak sadar. Tidak sadar, karena hal itu tidak tertulis tetapi telah dilakukan. Adapun amarah, hanyalah sesaat untuk mengingatkan ketika ada yang lalai, tidak menjadi sakit hati berkepanjangan. Begitulah potret itu, yang kini terbingkai cantik dalam ingatan. Mereka sedang berproses menjadi ksatria di kehidupan masing-masing, dengan menyulut nyala mulai dari sekarang. Nyala yang akan tetap terjaga, karena ksatria ini sebenarnya sedang membuat janjinya sendiri.

“Pohon Harapan”, sebuah janji…

Janji itu mereka torehkan pada sebuah kertas berbentuk buah. Sebuah janji  yang teramat besar untuk usia yang bahkan belum berkepala dua dan akan segera diketahui banyak orang ke depannya. Karena siapa saja dapat melihatnya, ketika memasuki kelas tersebut. Buah-buah berisikan tulisan itu, bergantungan pada sebuah ranting-ranting pohon. Pohon, simbol yang mereka pilih sebagai hiasan kelas dalam lomba tersebut. Pohon itu tempat menggantungkan harapan serta cita mereka di masa depan untuk negeri ini. Negeri yang surga katanya, namun tak jarang banyak yang terlena karena kejayaannya sendiri. Senjata makan tuan, itulah stigma yang banyak dibicarakan penduduk negeri ini.

Para ksatria kecil ini mencoba membangun kesadaran sejak dini, agar tak mengisyaratkan hal yang sama seperti pendahulunya. Mencoba tak terlena, dengan menuliskan asanya pada secarik kertas dalam sebuah lomba keindahan dan kebersihan kelas. Kertas yang mewakili isi hati, tentang kondisi bangsa yang mereka rasakan sekarang, dan apa yang ingin mereka wujudkan di masa depan. Kesadaran yang suatu saat bisa saja terkikis, namun masih bisa terjaga karena sudah pernah tergores dalam pikiran dan jiwa mereka.

Pohon sebagai organisme autotrof yang tidak bergantung pada mahluk hidup lain. Hanya bergantung pada komponen abiotik yaitu sinar matahari untuk menghasilkan makanannya sendiri. Dimana hal itu merupakan simbol kemandirian, yang ingin dilatih oleh mereka sejak dini. Mengakar, setiap pohon pastilah memiliki akar yang kokoh. Besarnya batang menunjukkan bahwa yang menopangnya pastilah akar yang dalam dan kuat. Sehingga simbol ketangguhan sudah tergambar jelas pada sosok pohon.  Menebar manfaat, hampir semua bagian pohon dapat dimanfaatkan. Pun hampir setiap pohon selalu memberikan kesejukan dan kehidupan (baca: penghasil O2) bagi siapa saja yang berada di dekatnya. Dan masih banyak alasan lainnya, yang mungkin tidak akan habis untuk diurai sebagai penguat untuk memilih pohon sebagai penggantung harapan para ksatria cilik. Hingga tercetus sebuah gagasan dengan menyebut “Pohon Harapan”. Pohon yang berarti bukan secercah. Secercah, berarti kecil yang bisa padam kapan saja, tetapi pohon akan menjadi awal  kehidupan. Kehidupan dari harapan berkelanjutan para ksatria kecil untuk menjadi lebih baik di masa yang akan datang. Karena bangsa ini adalah bagian diri mereka, dan semua dimulai dari harapan mereka untuk memberi manfaat bagi bangsa ini. Bangsa yang menjadi baik, ketika para ksatrianya juga baik. Dirgahayu indonesia… J

Untuk Para Ksatria kecil, dan harapannya yang besar..

Penulis : Firza Dwi Hasanah

SHARE
Previous articleMasterpiece
Next articleSe-Level Cicak

1 COMMENT

  1. Wahh bu saya nangis bacanya?
    Good job bu? Semoga selama jadi wali kelas X-Farmasi.. Banyak inspirasi² kecil yg bisa ibu tuliskan.. Stay with ksatria kecil farmasi ya bu..
    #ksatriakecilfarmasi

LEAVE A REPLY