Di suatu hari, pada minggu pertama di tahun baru ini. Aku bertemu, menyengaja bertemu dengan teman-teman yang ada di desaku, karena kami sudah jarang bertemu. Banyak dari kami sudah meninggalkan desa dengan berbagai macam urusan, ada yang bekerja, berkuliah dan kebanyakan tidak berada di satu daerah yang sama. Kebetulan sekali hari itu kami sedang pada masa liburan. Kami pun membicarakan banyak hal, tidak terkecuali dengan kejadian yang akhir-akhir ini sedang dialami Indonesia. Kondisi kekinian tentang bumi pertiwi.

      Tiba-tiba temanku yang berkuliah di Ibu kota bercerita, kisah yang bagi siapapun yang mendengarnya pasti akan merasa sesak. Ia mengatakan bahwa kita sekarang sedang berada pada masa yang genting. Kondisi Ibu kota sudah sangat tidak kondusif lagi, apalagi jika digunakan sebagai tempat untuk belajar. Semua sedang sibuk untuk menunjukkan bahwa golongan merekalah yang paling kuat dan paling benar. Mereka juga sangat menaruh perhatian lebih kepada para mahasiswa, para mahasiswa seperti dijadikan musuh bersama. Selalu di prasangkakan negatif, karena mahasiswa selalu mempunyai cara pandang yang berbeda dan berani unjuk vokal, dan hal itu menjadi ancaman sendiri untuk salah satu golongan.

       Aku pun ingin menyampaikan pendapat, “Dan perlu kita ketahui bahwa masyarakat Indonesia terdiri dari berbagai agama, ratusan etnik, ribuan kelompok interes (Termasuk partai politik, LSM, dan sebagainnya) yang masing-masing menginginkan pengakuan atas kelompoknya sendiri, namun sekaligus berusaha mengingkari eksistensi kelompok lain. Maka dari situ timbullah berbagai prasangka yang terus bertumbuh ke arah yang destruktif, karena memang perbedaan-perbedaan yang ada tidak pernah disikapi secara terbuka. Dampaknya adalah konflik-konflik horizontal yang berkepanjangan.“

                Melihat fakta yang ada dari dulu bangsa Indonesia telah dikenal dengan ciri khas sebagai bangsa yang ramah, tepo seliro, dan cinta damai. Namun, sekarang orang-orang di Indonesia mudah sekali berprasangka menilai sesuatu secara sepintas (heuristic) tanpa memprosesnya secara rinci dalam alam pikiran, sehingga mudah sekali untuk mengikuti arus.

                Adanya perbedaan, seharusnya tidak membuat resah, karena Tuhan memang ingin menumbuhkan perbedaan. Jika Dia mau. membuat sesuatu yang sama identik bukan hal sulit bukan? Seharusnya perbedaan itu malah menjadikan kita menjadi manusia yang lebih dewasa lagi, dan adanya masalah yang terjadi seharusnya mampu membijaksanakan kedewasaan kita lebih mendalam lagi hingga menjadikan perbedaan itu sebagai jalan untuk berusaha lebih mendekatkan diri kepadaNya.

                Mari kita renungkan sejenak, sejenak saja. Andaikan dalam menghadapi sebuah permasalahan kita mampu mendengarkan suara hati, tentu kita bisa menghadapi setiap masalah tidak sebrutal seperti sekarang ini. Suara hati tidak akan pernah membohongi diri, karena suara hati adalah suara yang telah dibisikan dariNya untuk dirasakan dan dihayati. Terkadang kita berjalan tanpa kesadaran, seolah-olah tidak sadar telah melakukan sesuatau. Sebenarnya ketidak sadaran muncul karena belum bisa merasakan suara hati, kita lebih sering mengikuti apa yang ada dalam pikiran lalu lupa membersamainya dengan kepekaan hati. Maka, saat ingin berjalan dengan penuh kesadaran diperlukan keseimbangan antara hati dan pikiran.

Belajar Berpuasa

                Saat berbicara tentang puasa, tentu kebanyakan dari kita akan berpikiran tentang bagaimana kita menahan lapar dan haus dari semenjak fajar sampai terbenamnya matahari. Namun jika kita mampu memaknai apa itu sesungguhnya berpuasa, tentu kita akan mengetahui bahwa sebenarnya berpuasa tidak hanya sebatas menahan makan dan minum, tapi lebih dari itu. Puasa dapat menahan kita dari segala lini dalam bertindak, bertutur kata dan berperilaku juga.

                Dalam salah satu tadaburnya simbah juga pernah menjelaskan bahwa kandungan puasa sebenarnya adalah latihan agar manusia punya kemampuan mengerem, bukan melampiaskan. Bahwa dengan puasa, insya Allah seseorang akan lebih sehat fisiknya, lebih kuat sel-selnya, memperkuat antibodi, dan tidak mudah rentan penyakit.

                Bahkan tidak hanya manusia saja yang berpuasa tapi juga Tuhan. Tuhan begitu sabar terhadap manusia, apapun yang telah dilakukan manusia, seburuk apapun itu, Tuhan tetap memberikan cintaNya kepada manusia, tanpa mempedulikan apakah manusia merasakan itu atau tidak. Tuhanpun juga senatiasa memberikan kenikmatan-kenikmatan kepada manusia, namun Tuhan tidak pernah mempedulikan apakah manusia mensyukurinya atau tidak. Sebesar apapun pengkhianatan yang dilakukan oleh manusia terhadapnya, Tuhan mampu berpuasa untuk tidak murka terhadap manusia (terinspirasi dari buku tuhanpun berpuasa).

                Melihat situasi yang terjadi saat ini, sepertinya kita semua rakyat Indonesia diharuskan untuk berpuasa agar kita dapat mengerti dan memahami apakah ada yang salah dari kita. Agar kita juga mampu untuk menahan diri tidak terburu-buru mengambil tindakan dalam menghadapi suatu persoalan maupun isu-isu yang berasal dari luar.

PUASA TAK MAU BERPUASA

Yang aku tak mau berpuasa
Adalah pasrah diri bersimpuh di kakimu
Yang aku takmau berhenti berbuka
Ydalah nikmatnya menyerah kepadamu

Yang kubiarkan diriku melampiaskannya
Adalah keakinanku akan kasih sayangnmu
Yang takkan pernah mau aku menahannya
Adalah ketergantunganku pada cintamu

Wahai Engkau Maha Pangkal dan ujung rahasia
Andaikan kau buang aku dari sejarah dari kehidupan
Atau kau batalkan adaku menjadi tiada
Aku rebah menyerah tanpa menawar suatu apa

Bahkan jika harus akupuasai ruang dan waktu
Atau kau coret aku dari dunia maupun akhiratmu
Tak tersisa hakatau tuntutan apapun dariku
Karena seluruh kehidupan ini sepenuh-penuhnya milikmu (EAN)

Nyuhani Prasasti

LEAVE A REPLY