Ibarat pedagang, sebelum menjajakan barang dagangannya ia butuh modal, baik materi berupa uang maupun imateri berupa kejujuran, keuletan, dll. Jawa memberikan sumbangan istilah, Kula’an disek sakdurunge dodolan.

Hal itu tidak berbeda dengan yang terjadi pada diri Rasulullah SAW. Sebelum dijadikan nabi dan rasul, selama 40 tahun beliau kula’an mengumpulkan banyak modal terlebih dahulu. Sedari beliau dilahirkan hingga tumbuh menjadi dewasa dan berkecamuk dalam pergaulan bersama kaum Quraisy. Bahkan, beliau menapak di tengah kehidupan kaum Quraisy yang semakin terpuruk, akibat kemerosotan nilai moral dan spiritual. Mereka merasa bahwa kejayaan Quraisy adalah hasil jerih payah mereka tanpa campur tangan siapapun dan mereka melupakan hak orang-orang miskin. Mereka semakin tenggelam dalam kehinaan yang amat mempesonakan.

Menyikapi itu, hati Muhammad SAW yang suci merasa iba dan berkehendak untuk mengupayakan solusinya. Selama 40 tahun, perjalanan Sang Nabi telah berhasil menumpuk modal-modal terpenting untuk melaksanakan misinya, mengembalikan stabilitas moral dan spiritual kaum Quraisy, khususnya.

Diantara modal tersebut adalah:

  1. Membangun pribadi yang mandiri,
  2. Membangun pribadi yang pemberani dan tangkas,
  3. Membangun pribadi yang humanis; sosialis; jujur; solid; rajin; giat; ulet,
  4. Membangun pribadi yang penuh wibawa; cerdas dalam menjalankan bisnis perdagangan; bijaksana. Dll.

Kesemua modal di atas tidak diperoleh beliau melainkan dengan upaya yang sungguh-sungguh dalam menapaki setiap petunjuk Allah Swt.

Dan ketika usianya sudah mencapai 40 tahun, modal tersebut sudah dirasa cukup untuk dibelanjakan dalam dunia kenabian dan kerasulan, mengajak umat seluruh alam kembali ke jalan Allah Swt, melalui jalur Islam. Dengan bekal yang cukup, kehadiran beliau sebagai nabi dan rasul langsung mendapat tanggapan dari beberapa sanak saudara dan keluarganya. Walaupun tercatat ada pula yang memalingkan muka akan risalah yang disampaikan beliau. Itu bukan berarti karena mereka tidak mengetahui kebenaran ajaran Islam, melainkan karena mereka memiliki gengsi yang tinggi dan takut jikalau kedudukan mereka tergeser akibat diberlakukannya kesetaraan derajat dan penghapusan kasta dalam Islam. Dan untuk menghindari hal itu, mereka menjadi golongan kafir (orang yang terhalang; orang yang tertutup) yang menolak kedatangan Islam.

Dengan modal-modal di atas Nabi Muhammad Saw telah siap menjadi sosok imam yang menjalankan misinya sebagai basyiran (pemberi kabar gembira), nadziran (pemberi peringatan), da’iyan ilallah (mengajak ke jalan Allah), dan sirajan muniran (pelita yang menerangi).

Himmatul Istiqommah

*Disarikan dari buah pikiran Ustadz Ahmad Fuad Effendi dalam Halaqah Maiyah Relegi edisi November 2015.

SHARE
Next articleTaman Kehidupan

LEAVE A REPLY