Jumat 13 Januari, ditemaramnya malam puncak musim dingin. Salju tercecer di kanan kiri jalan. Tak jauh, terlihat sebuah sepeda tergeletak dan seorang perempuan paruh baya mengaduh kesakitan. Sambil mengerjap tangannya mencoba menelisik siapa tahu benda berharga itu segera ditemukan, yah sebuah kacamata. Perempuan itu baru saja jatuh dari sepedanya, hawa dingin, hujan salju tipis, dan pikiran yang tidak fokus menjadi rentetan alasan. Setelah menepi, terlihat darah merembes dari sebelah kiri kulit kepalanya. Tak ayal, Jaket winternya pun berlumur darah. Memanggil taxi dari Iphone-nya, perempuan itu segera dilarikan ke Rumah Sakit terdekat. Selang satu hari batinnya masih berkecamuk. Remuk redam perasaannya. Tentu suatu tindakan bodoh dan memalukan jatuh “hanya” dari sebuah sepeda. Yah, jatuh dari sepeda pancal (sepeda listrik, E-bike).

Di Negeri der Panzer, Teknologi terdepan, tercanggih telah dikembangkan dan diaplikasikan dalam keseharian hidup manusia. Dari robot pembersih rumah sampai kereta cepat Zug berkecepatan mencapai 300 Km/Jam. Semua rencana selalu berjalan tepat waktu, berbagai zona transportasi memiliki papan elektronik sampai tingkat kebutuhan berapa menit sebelum angkutan yang ditunggu tiba. Begitu pula pemuliaan tanaman, penjagaan lingkungan, bahkan minum pun dapat langsung mengambil cukup dengan menyalakan keran air. Sampah dapat dipilah dengan baik, kesehatan terjamin, dan banyak subsidi lain dari Negara sejak anak-anak, orang yang tidak punya pekerjaan, sampai di usia senja. Bagi mainstream orang zaman sekarang, kondisi tersebut tentu sangatlah sempurna dan ideal dalam menjalani kehidupan.

Konsep Hikmah

Kembali pada kasus jatuh dari sepeda sebelumnya. Bagi saya tentu sangat mudah memberikan saran-saran kecil atau sekadar penenang terhadap masalah tersebut ketika saya tinggal dan memberikan saran pada orang Indonesia. Namun, kondisi budayanya berbeda. Hal yang mungkin “sepele” bagi kebanyakan orang Indonesia menjadi  sesuatu yang kompleks ketika dialih budayakan di Negeri der Panzer.

Sebagai Manusia, warga der Panzer adalah warga yang sangat berhasil dalam memaksimalkan akalnya sehingga dapat menata Negara dengan sedemikian rupa, sangat baik dan sangat ramah lingkungan. Orang-orangnya juga baik dan masih menjunjung tinggi sopan santun. Bahkan jika menggunakan tolak ukur “Rahmatan lil ‘Alamin” mereka sebagai negeri minoritas Muslim merupakan Negara yang sangat baik karena mau dan mampu menampung berjuta-juta pengungsi Muslim dari Negara di Timur Tengah bahkan sampai dicukupi segala kehidupannya sampai mandiri.

Namun yang menjadi problem ketika terjadi hal-hal diluar “kuasa” manusianya, seringkali mabuk adalah pelarian teringan yang dipilih dalam menghadapi realita yang ada. Mereka tidak mengenal Konsep Hikmah, konsep nrimo dan hasil kekayaan kebudayaan lain yang dimiliki oleh Peradaban Timur, terkhusus Indonesia.

Maka, dibalik semua “Kesempurnaan” Negeri der Panzer itu, masih saja tetap memiliki ruang kosong. Yah, Ruang Kosong itu bernama Tauhid, keimanan. Syukur tiada tara kita memiliki Allah Swt sebagai puncak dan asal setiap gerak. Asal kita bermula dan Puncak tujuan dalam pencapaian hidup kita di dunia. Sehingga dalam penderitaan seberat apapun, orang Indonesia masih tetap bisa tersenyum. Sungguh, Bangsa yang teramat tangguh.

Sementara itu, Orang Modern mengatakan bahwa mereka, Negeri der Panzer adalah Negeri Maju, namun mari kita lihat kembali, ukuran Maju dan Terbelakang tersebut memakai ukuran siapa? Apakah sama yang kita kejar dengan mereka dalam menjalani kehidupan di dunia ini?

Nafisatul Wakhidah
Hessen, Germany
21 Januari 2017

LEAVE A REPLY