Cintaku padaNya membuncah
kenangan-kenangan yang sesaat teringat merekah,
lembaran peristiwa terpampang nyata menggairah,
seakan-akan ini adalah teka teki bongkah,
namun senyata-nyata memang butuh tafsir penggugah,

Kehadiran-Nya sangat dinanti, dalam duka maupun suka. Walau terkadang manusia lupa, hanya mengingat dikala duka dan pura-pura sibuk dikala suka. Cukuplah menjadi sederhana asal saja mampu mengingatnya di setiap saat. Alih-alih menjadi kaya namun melupakan kesejatian diri. Tenggelam dalam sumur-sumur kemegahan dan ketenaran. Namun apakah kemegahan dan kemewahan dapat dibenci? Tidak! Itu bukan subjek yang patut dihakimi. Malah kemegahan dan kemewahan bahkan kenyamanan adalah sarana manusia untuk beribadah. Beribadah menahan alias berpuasa. Berpuasa menahan segala macam fasilitas di luar dirinya. Manusia memang dituntut untuk bijak. Bijak dalam segala hal. Tak hanya permasalahan yang kasat mata saja, melainkan permasalahan yang transparan seperti kenyamanan itu tadi. Jika diperhatikan lagi, tak ada situasi yang tidak membuat manusia menjadi waspada. Ketika serba kekurangan dan dirundung duka, manusia menjadi sangat dekat dengan Tuhannya. Seringkali surat dikirimkan ke Langit dengan mendongakkan dagu ke atas, berharap dengan penuh tangis. Sedangkan ketika manusia diberi kelimpahan rezeki kemegahan, kemewahan, serta kenyamanan. Apakah itu bukan ujian? Semua barang yang dipercayakan pada manusia itu juga berupa ujian. Mampukah manusia memaksimalkan barang tersebut pada jalan yang lebih bermanfaat. Mampukah manusia untuk berlaku bijak dan menjaga hatinya untuk tidak terlalu merasa memiliki atas semua barang-barangnya. Mampukah dengan segala fasilitas yang diberikan manusia tetap dalam sujud syukur serta derai air matanya.

Melintas jauh di atas itu semua, perkara mengenai suka dan duka tak cukup membuat diri lantas bertambah cinta padaNya. Melainkan itu adalah lika-liku kehidupan yang sangat rekat dengan kehidupan sehari-hari. Hal ini melatih kewaspadaan diri terhadap perihal keduniawian. Menuju pada lorong hati, atau sebuah ruang di hati yang membuat seseorang menjadi merasakan sesuatu yang patut dirasa. Duduk berpangku di atas dua kaki, menghadap lurus pada satu titik tentunya tidak mendongakkan ke atas yang menunjukkan kesombongan. Memusatkan pikiran mencoba bercermin pada diri yang lalu, mengulang memori pola-pola kehidupan diri. Karena apa yang manusia lakukan hari ini bisa saja berhubungan dengan suatu peristiwa di masa lalu maupun di masa depan. Karena itu lah manusia perlu sekali untuk merekam jejaknya sejak dini.

Kemungkinan lupa selalu ada, namun kebutuhan untuk menarik benang merah dari setiap pola-pola kehidupan seseorang yang menjadi sebuah misteri itu penting pula. Misteri yang perlu dipecahkan yang menjadi penguat diri untuk kehidupan bersoliter maupun berkoloni.

Sebuah ruang dalam hati yang menuntut kehampaan, kesunyian, pemusatan pada satu titik fokus, sehingga setiap diri manusia dapat menuju pada Yang Satu, yakni sang Maha Daya Cinta. Kekuatan cinta dapat mengalahkan jarak, rasa sakit, bahkan menjadi abdi yang  sebenarnya. Mengetahui apa yang harus dilakukan atau yang tidak dilakukan.

Buanglah sampah dari Otak

Perlunya manusia untuk menjaga kesehatan otak. Dengan cara menyaring informasi yang masuk dalam otak. Tak semua informasi penting dan dibutuhkan. Namun semuanya terkadang karena rasa ingin tahu, berjejalan masuk tanpa ada sebuah pengelolaan untuk hasil output-nya. Menjaga keseimbangan pada otak sangat diperlukan.

Dalam hasil Focus Group Discussion (FGD) bersama para ahli ilmuwan serta seorang dokter pun menyatakan bahwa manusia perlu menjaga kesehatan tubuhnya tidak hanya satu sisi yakni fisik jasmani saja. melainkan empat hal seperti yang sudah didefinisikan oleh World Health Organization (WHO) bahwa sehat itu terdiri dari aspek fisik, mental, spiritual serta kesejahteraan sosial. Jadi yang diberi asupan gizi makanan tak hanya tubuh fisik saja, melainkan juga mental serta jiwa manusia.

Kali ini mengenai mental manusia, bagaimana memberi asupan makanan yang bergizi yakni dengan menyeimbangkan informasi yang masuk serta yang keluar. Informasi yang masuk itu bila terlalu lama dalam otak dan tidak segera dibagikan pada lainnya akan tertumpuk-tumpuk dan terlupakan. Apalagi masalah-masalah yang tidak segera diselesaikan, ada salah satu hasil penelitian bahwa antara generasi Y dan generasi Z dalam menangani masalah menunjukkan hasil yang sama. Yakni tak kunjung menyelesaikan satu masalah dan beralih pada masalah yang lain. Segera selesaikan satu tugas atau masalah dan segera berpindah pada masalah yang lain. Hidup adalah perputaran roda sepeda, manusia akan kembali pada pola-pola permasalahan yang sama dan dalam wujud yang berbeda.

Dari sisi asupan spiritual, manusia membutuhkan ruang-ruang kosong untuk melintasi samudera keluasan dirinya. Tak hanya makrokosmos yang luas namun mikrokosmos pun juga amat luas. Manusia perlu menjelajahi mikrokosmos dirinya pula, alih-alih jagat alam raya ini. Sering kali didengar kalimat bahwa “Man Arrafa nafsahu Faqod Arrafa Robbahu”. Barang siapa yang mengenali dirinya, maka dia akan mengenal Tuhannya. Maka manusia perlu sunyinya malam untuk menyendiri dalam keakuan diri pada TuhanNya. Walau tak terbatas hanya pada malam dan sunyi.

Dari sisi kesejahteraan sosial, perlunya manusia untuk serawung dengan orang-orang di sekitarnya tanpa berlebihan. Manusia perlu mengetahui batas-batasnya sendiri. Presisi yang dibutuhkan dalam berteman, bersahabat, bergaul dengan masyarakat. Contoh seperti kaum Anshar yang dijamu oleh kaum Muhajirin di wilayahnya. Selama beberapa hari, tanpa pamrih dari kaum Muhajirin. Namun apakah kaum anshar tidak tahu posisinya sebagai tamu. Tentunya dia pun tak dapat membiarkan kaum Muhajirin terus repot untuk mengurusi tamu ini. Lalu kaum Anshar pun berkata untuk berterima kasih atas segala perjamuannya, dan menyadari tak dapat merepotkan kaum Muhajirin dalam waktu yang lama. Kaum Anshar bergegas untuk mencari pekerjaan yang bisa mereka lakukan kemudian menciptakan harmoni.

Tak semua yang kita tahu penting bagi diri kita, dan tak semua yang kita inginkan itu sesuai dengan apa yang kita butuhkan. Jadi mari cermati, dan belajar menjadi kritis terhadap diri sendiri. Kedisiplinan untuk menjalankan itu membutuhkan kesabaran dan kekontinuitasan.

Jembar atine

Kembali pada ruang kosong, ruang-ruang yang biasanya sesak oleh rasa yang mudah sekali dibolak-balik. Rasa yang tidak tunggal melainkan beragam, dan mudah sekali loncat dari perasaan suka menjadi duka, duka menjadi suka. Mengosongkan hati sehingga ruang pun menjadi luas dan bila berbicara pun menggema.  Sesekali mengosongkan hati diperlukan sehingga tumbuh kerinduan yang teramat. Rindu yang timbul dari hati yang sangat kehausan. Hausnya akan rasa cinta serta kasih dan sayang.

Jembar atine adalah persiapan untuk mewadahi ketidakpastian-ketidakpastian cinta yang tiba-tiba datang terduga arahnya. Yang tentunya cinta yang tak salah asalnya. Walau tak tahu benar salahnya, maka diperlukan jimat “Eling lan waspada”.

Mery Yulikuntari

SHARE
Previous articleMomentum Cinta
Next articleRuang Kosong itu Tauhid

LEAVE A REPLY