Tak sekali ini, mungkin ini yang ke-100 atau 117 menemui situasi absurd. Tetapi pagi ini sepertinya yang paling absurd. Hal terabsurd hari ini adalah seorang perempuan hamil! Dan itu berarti ia calon ibu, tak lagi hanya istri!

Absurd itu sebuah istilah untuk situasi atau keadaan yang tidak masuk akal. Tentu saja akal orang tertentu saja, bukan semua orang. Absurd itu masalah kapasitas berpikir. Bagi orang-orang hebat nan cerdas, keabsurdan semakin nihil. Mirip sekali dengan orang-orang hilang akal, keabsurdannya juga nihil. Ini juga sebenarnya keabsurdan juga, antara orang-orang hebat nan cerdas dan orang-orang hilang akal tak beda penampakan. Dulu mungkin bisa dibedakan dari caranya berpakaian dan perilakunya. Hari ini jangan harap bisa membedakan keduanya dari pakaian, perilaku dan tutur katanya. Bahkan yang agak spektakuler, kedua-duanya berani bersumpah demi Tuhan!

Hingga akhirnya mungkin akan muncul pameo, keabsurdan yang terus-menerus akan menjadi common sense! Sekali waktu berkunjung dan bercengkeramalah di Rumah Sakit Jiwa. Kemudian iseng-iseng bertanyalah saat cangkrukan dengan para penghuninya, siapakah di antara kita yang sakit jiwa? Nanti anda akan menemukan jawaban, bahwa yang sakit adalah anda! 😀

“Mas, perut saya mules..” calon ibu itu mencoba menyapa. Cukup membuyarkan lamunan absurd tentang keabsurdan.

Dan tiba-tiba saja tersadar bahwa keabsurdan baru, baru saja terjadi. Bisa-bisanya seorang dokter “memilih” melamun tentang keabsurdan alih-alih segera menolong pasien! Di mana nuranimu dokter?

Tetap Absurd!

Dialog imaginer tentang keabsurdan itu, tak serta melenyapkan keabsurdan di depan mata. Perempuan itu tetap saja hamil 9 bulan, dan sekarang sedang mules-mules karena hendak melahirkan. Jelas bukan itu keabsurdannya. Perempuan itu didampingi oleh petugas Lapas! Tahu Lapas? Lembaga Pemasyarakatan itu lho. Jadi,perempuan itu narapidana alias napi.

Lalu, kalau napi apa tidak boleh hamil? Melahirkan? Kalau pertanyaan-pertanyaan ini jelas jawabnya, itu sah-sah saja. Lha wong ia memulai perjuangan hamilnya sebelum jadi napi. Lagipula, andai ia dihamili ilegal pun, itu juga tak serta merta menjadi penyebab ia menjadi napi. Dimana-mana itu yang berpotensi menjadi napi adalah yang menghamili, bukan yang dihamili.

Lantas apa masalahnya? Ya entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba saja otak prefrontal ini bertanya. Apa salahnya janin yang sepanjang waktunya menjadi tahanan di dalam rahim, sekarang ikut-ikutan ditahan di dalam Lapas?

Baiklah bila janin itu memang bersalah. Tapi tolong beritahu sedikit saja, kapan ia diadili hingga kemudian tiba-tiba sudah diputuskan untuk ditahan? Bahkan harus dibina di Lapas!

Wahai orang-orang hebat, tolong ajari aku berpikir. Akal ini benar-benar sedikitpun tak bisa dan tak mampu memahami fenomena ini. Baiklah kalau engkau semua hendak menjawab “jangan tertipu”, bahwa hampir seluruh napi ketika sakit, apalagi dibawa ke Rumah sakit, apalagi bagian Unit Gawat Darurat, tak ada satupun yang menampakkan perangai jahatnya. Ketika semua masuk UGD, semua penampakan menjadi sama, semua berpenampakan wajah-wajah yang takut mati! Dan kalau engkau ingin menemukan wajah-wajah orang yang tidak takut mati, bahkan menantang kematian, sekali waktu datanglah ke jalan raya, dis***ik, lok*****si, atau mungkin ke dalam gedung parl***n! #eh..

Tetapi jawaban bagaimana yang bisa menjadi alasan pembenar, bahwa seorang janin (meski masih di dalam rahim) boleh dan sah ditahan? Kesalahan sekecil apa yang cukup menjadi alasan seorang janin (yang sedang menghabiskan masa tahanan di dalam rahim) diharuskan menghabiskan waktu di Lapas?

Kalau engkau hingga detik ini masih bersikukuh bahwa seorang janin adalah anak dari ibunya, sebaiknya mulailah untuk minum aq*a, agar bisa sedikit memanjang pikiranmu. Sekedar menambah pengetahuan, bila seorang ibu sakit, apakah janinnya akan sakit? Jawabnya TIDAK! Bahkan andai kondisi Sang Ibu itu sedemikian menurunnya hingga mati, itu tidak serta merta membuat si janin mati. Sebaliknya, bila si janin sakit, apakah ibunya bisa memilih untuk tetap sehat? Tak ada pilihan buat ibunya untuk itu. Sang ibu akan mencurahkan seluruh ketahanan dan energinya untuk melawan sakitnya si janin, bahkan terkadang berujung kematian bagi Sang Ibu. Dan silakan jawablah sendiri apakah itu kemuliaan atau kekonyolan seseorang yang meninggal karena tak punya pilihan hidup?

Kalau sedikit pengetahuan di atas tak jua dipahami, baiklah langsung pada ringkasan. Bahwa apabila ada seorang ibu beserta janin di dalam rahimnya, maka segala keputusan yang menyangkut kehidupan harus didasarkan pada janinnya, bukan pada ibunya! Bukan janin yang mengikuti nasib ibu, tetapi ibulah yang mengikuti nasib janin.

Kalau memang seperti itu yang terjadi, lalu mengapa ada dan bahkan banyak janin yang mati di dalam kandungan ataupun aborsi di mana ibunya baik-baik saja? Kalau ingin tahu jawaban pastinya, berusahalah hamil sekarang (kalau kau merasa punya kuasa atas kehamilan), kemudian silakan diaborsi kehamilan itu. Dan kemudian rasakanlah sendiri bagaimana kekacauan gelombang elektromagnetik otakmu terjebak pada pilihan situasi hidup dan mati!

Sejauh ini, tak pernah ada ibu yang baik-baik saja tatkala ‘terjebak’ pada situasi seperti itu. Kalaupun sesudahnya ia baik-baik saja, itu urusan lain. Atau jelasnya, itu anugrah kehidupan kedua yang didapatnya. Kemudian apakah Sang calon ibu mau mengambil pelajaran atau memilih lupa atas anugrah itu, sungguh itu bukan urusanmu. Itu urusan dia dengan Tuhannya.

Semoga pengetahuan-pengetahuan tak jelas itu cukup untuk menjawab pertanyaan sederhana, “Salahkah ibu mengandung (?)”

Hukum adalah tentang Detail

Teringat sebuah pepatah yang tertulis besar di divisi kedisiplinan sebuah markas militer. “Lebih baik membebaskan 1000 orang bersalah daripada menghukum 1 orang tidak bersalah”. Sebuah penegasan bahwa tak mudah sesungguhnya memutuskan seseorang itu bersalah atau tidak, apalagi memutuskan perlu dihukum apa tidak!

Akumulasi harga pembuktian dan keyakinan Sang Pengadil harus 100%. Satu persen saja terkontaminasi ketidakyakinan, membebaskan “kesalahan” akan lebih baik daripada pada akhirnya harus menghukum ketidaksalahan.

Di wilayah Timur Tengah sana, beberapa abad yang lalu, pernah ada seorang Pimpinan tertinggi negara yang memperkarakan seseorang (kebetulan beda keyakinan) yang diduganya telah mencuri baju perangnya. Pimpinan itu yakin hampir 100% bahwa itu adalah pakaiannya berdasar bukti-bukti dan saksi-saksi. Belum lagi pengadilan itu ada di wilayahnya serta “Pencuri” yang tampak pasrah untuk mendapat keadilan sepantasnya. Lalu, Si pencuri itu menyangkal semua tuduhan, dan ‘apesnya’ tak ada satu saksi pun yang menyaksikan proses pencurian baju tersebut. Pimpinan itu dan juga si Pencuri, saat itu begitu yakinnya bahwa akan terjadi proses penghukuman pada Si pencuri. Tetapi, apa yang terjadi? Di luar dugaan Sang Pemimpin dan Si Pencuri, dan mungkin juga di luar dugaan akal sehat Sang Hakim, Pencuri itu dibebaskan tanpa hukuman sekecil apapun oleh Hakim. Tepatnya oleh NURANI Sang Hakim. Apa pasalnya? Sang Hakim tak memiliki 100% keyakinan bahwa Pencuri itu bersalah!

Belum lagi tatkala di wilayah Timur Tengah juga, beberapa abad silam juga, ketika seorang perempuan yang sedang hamil mendatangi seseorang yang amat terpercaya untuk meminta agar ia dihukum. Perempuan itu dengan sangat jelas mengakui dan juga mengajukan bukti-bukti bahwa ia dengan sangat meyakinkan telah berbuat salah dan harus dihukum mati! Yang terjadi kemudian Sang Shiddiq (Penjaga kebenaran) tidak memutuskan apapun. Tampak perempuan itu tak puas dengan penolakan itu, sehingga ia bersikukuh harus dihukum. Akhirnya Sang Shiddiq memberi keputusan agar perempuan itu kembali padanya setelah janin keluar dari rahim Sang Perempuan itu. Meski dengan sedikit gusar, perempuan itu menerima keputusan kompromi itu.

Hingga beberapa bulan kemudian, perempuan itu melahirkan, tentunya dengan perjuangan antara hidup dan mati. Dan mungkin ia berharap mati saja saat itu agar bisa segera menebus “kesalahannya” dan kembali suci. Situasi segenting itu nyatanya sama sekali tak melumpuhkan ingatannya. Segera setelahnya, perempuan itu bergegas menemui Sang Shiddiq untuk menagih janji. Sebuah janji untuk mendapat keputusan berupa hukuman mati. tetapi perempuan ini mendapat kekecewaan, karena lagi-lagi janji itu tak didapatkan alias ditunda. Perempuan itu harus menjalankan kewajibannya memberikan air susunya untuk Si jabang bayinya. Ia dijanjikan untuk menemuinya setelah selesai masa persusuannya. Beberapa waktu kemudian, setelah selesai masa persusuan, perempuan itu kembali. Lagi-lagi bukan keputusan hukuman mati yang didapatnya, melainkan ia harus menjaga anaknya dulu hingga bisa mandiri. Akhirnya beberapa tahun berselang, sambil menggedong anaknya yang memegang roti (sebagai bukti anaknya sudah mandiri), perempuan itu menagih lagi janjinya.

Tak ada lagi alasan penunda. Akhirnya Sang Perempuan itu mendapatkan apa yang diinginkan, yakni kesuciannya kembali meski itu harus didapatnya melalui kematian.

Hanya bisa bilang Semoga!

Bila kedua cerita itu (benar salahnya silahkan diverifikasi sendiri) tak juga memperbaiki cara berpikir saat ini, maka hanya akan kubilang “Semoga” ke depannya itu bisa memberikan pencerahan.

Janin bukanlah barang tambahan yang menempel pada tubuh seorang ibu. Ia juga bukan anak ibu seorang, melainkan ia sesungguhnya adalah anak suatu Bangsa. Bagaimanapun ia adalah cikal bakal penegak bangsa ini, tak peduli ia lahir dari rahim seorang ibu yang teramat jahat sekalipun.

Lagipula, adakah kejahatan yang lebih besar dari mengabaikan keberadaan seorang janin, apalagi menghukum seorang janin tanpa proses pengadilan?

Wahai Bangsa Besar bernama Indonesia, di manakah engkau saat ini? Bagaimana bisa janin-janin ini, yang seharusnya mendengarkan musik-musik Kiai Kanjeng ataupun Beethoven agar baik perkembangan otaknya, harus menghabiskan masa-masa emasnya di Lapas? Tidakkah engkau ingin berinvestasi pada anak-anak bangsa ini, agar kelak ketika engkau beranjak tua, engkau tetap bersemangat hidup karena mendengar celoteh-celoteh anak-anak itu, membangga-banggakan kasih sayangmu yang tulus?

Bisakah sejenak saja tak menyimpan dendam pada ibu yang memang telah mencuri itu, untuk kemudian mencurahkan seluruh energi dan perhatianmu kepada Sang Janin?

Bukan balas dendam kepadamu dari Sang Janin yang telah diperlakukan tidak adil itu yang perlu engkau takutkan, ketika kelak ia tumbuh dan berkembang. Melainkan yang mengkhawatirkan adalah dahsyatnya kesedihanmu  tak berkesudahan dari nuranimu, akibat penyesalan yang teramat dalam karena tak berperan serta sedikit pun menumbuh-kembangkan janin-janin itu menjadi Pribadi-pribadi Bangsa Indonesia yang teramat tangguh.

Sesungguhnya engkau tak bisa menghalangi seorang janin tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang hebat, meski engkau mengurung ibunya di penjara. Pilihanmu hanya dan tinggal satu. Berperan sertalah mengawal pertumbuhan dan perkembangan Sang Janin. Dan kemudian berharaplah Sang Janin memiliki belas kasihan kelak untuk mengingatmu. Kalaupun kelak Sang Janin tak mengingatmu, itu pun sama sekali bukan kerugian besar bagimu. Karena Sang Maha Ingat akan selalu tersenyum mengingatmu.

 

UGD RSSA, 16-9-2017, 15.28 wib

Christyaji I.

LEAVE A REPLY