Sedikit melayangkan pikiran ke masa lalu. Marilah berusaha mengingat, saat kita berpindah dari dunia air di dalam Rahim menuju dunia udara di luar Rahim, apakah yang melekat di tubuh? Nyaris tidak ada kecuali sisa-sisa air dan sedikit lendir yang sepertinya enggan terlepas dari kulit si bayi. Ia seperti menyampaikan pesan bisu, “…si bayi takkan sanggup menghadapi hawa dunia yang tak menentu, maka biarlah aku melindungimu..”, mungkin begitu si air ketuban bergumam.

            Bayi manusia bukanlah bayi ayam ataupun buaya. Meski pada akhirnya bayi manusia berkembang menjadi yang tercanggih diantara para makhluk, secara fisik ia sesungguhnya adalah makhluk terlemah diantara anak ayam dan buaya diawal-awal kehadirannya di dunia. Bahkan anak ayam dan buaya sudah terlepas dari tubuh induknya berupa telur beberapa hari sebelum akhirnya ia berhadapan dengan dunia sesungguhnya. Sedang anak manusia nyaris tak memiliki kemampuan bertahan bila saja ia tak dibantu perawatan dan perlindungan dari luar tubuhnya.

            Lantas untuk cita-cita menjadi makhluk tercanggih, maka tubuh mungil makhluk manusia itu mulailah dilindungi dengan selembar kain popok ataupun selimut. Ditambah lagi penutup kepala (yang kelak menjadi pusat peradabannya) juga penutup ujung-ujung tangan dan kakinya yang kelak akan berkembang pesat untuk menjelajah dunia serta menjadi eksekutor terhadap perubahan peradaban. Kain-kain itu awalnya tampak hanyalah untuk pelindung bayi agar tak terseleksi alam. Tetapi waktu terus berjalan dan dinamika perubahan terus saja bergulir. Hingga tanpa disadari kain-kain itu lambat laun mengalami “kepikunan” fungsi utamanya. Ia tak lagi menjadi pelindung, ia bergeser menjadi aksesoris penghias yang berkonotasi strata sosial seseorang.

            “ajining rogo soko busono” begitulah petuah Jawa mengingatkan. Terlalu lama petuah-petuah itu tak pernah diuri-uri (ditelaah), hingga akhirnya hanya sering menjadi mitos. Tapi hari ini petuah itu memunculkan realitanya. Realita bahwa semakin banyak saja manusia-manusia yang mengandalkan baju atau pakaiannya untuk menunjukkan kemuliaan dirinya. Semakin banyak manusia-manusia pingsan hingga benar-benar lupa bahwa derajat seseorang itu akan ditinggikan tatkala ia berani meyakini Puncak Kebenaran dan ia selalu mengejar ilmu dalam hidupnya.

            Seseorang bisa saja memiliki keyakinan tinggi kepada Sang Maha Benar sejak ia dilahirkan. Tetapi itu tak banyak. Kebanyakan dari manusia lahir dengan kondisi rasa percaya yang pas-pasan, tetapi di sisi lain ia dilengkapi dengan potensi mencapai rasa percaya tertinggi, yang mana itu bisa dimunculkan menggunakan perangkat bernama akal. Selanjutnya bisa dipahami, siapapun yang dalam hidupnya semakin bertambah ilmunya, maka semakin dekat pula ia menuju puncak derajat. Orang-orang yang konsisten ngublek-ngublek ilmu itu kemudian sering dikenal dengan kaum berilmu atau lazim disebut Ulama.

            Di dalam suatu komunitas, tak banyak orang yang “bersedia” mengabdikan dirinya menjadi Ulama. Seorang Ulama tak memiliki kesempatan atau waktu longgar untuk memikirkan kehidupannya sendiri. Seluruh hidupnya dihabiskan untuk melayani para awam dalam rangka penyadaran tentang jati diri masing-masing awam. Terlalu banyak orang yang terlahir “kehilangan” pijakan kaki hingga kehilangan kesadaran bahwa ia lahir tak membawa apa-apa dan dalam kesendirian tanpa ketahanan dan kekuatan apapun. Tiba-tiba saja ketika mereka tumbuh dan berkembang, kebanyakan “manusia-manusia” itu menjadi penantang yang nyata, penantang kehidupan. Mereka tiba-tiba saja merasa yang memiliki dunia dan mampu mengendalikan setiap detail proses-proses di muka bumi. Mereka sekonyong-konyong merasa dialah penguasa tertinggi. Ketika arah berpikir itu hanya mengenai 1 orang mungkin itu tak menimbulkan masalah berarti kecuali bagi ia sendiri. Tetapi bila arah berpikir seperti itu mengenai banyak orang pada waktu dan ruang yang bersamaan, maka yang terjadi adalah perlombaan untuk saling menguasai. Mereka akan uber-uberan, jegal-jegalan, saling memusnahkan satu sama lain hanya untuk mengejar pikiran mereka sendiri.

            Di situlah kemudian tugas Ulama menjadi tidak mudah. Karena sesungguhnya Ulama tak hanya membangkitkan kesadaran-kesadaran, tetapi yang lebih berat dari itu adalah berusaha “mencegah” kehancuran peradaban.

            Orang-orang itupun menyadarinya. Maka untuk mempermudah pekerjaan, mulailah orang-orang itu menyemati Ulama itu dengan pakaian khusus atau baju yang mudah dikenali. Bukan untuk menunjukkan ketinggian diri atau kesombongan, tetapi lebih pada mempermudah pencarian bila seseorang membutuhkannya. Maka baju-baju itu hanya dipakai bila sedang berada di khalayak ramai. Sedang dalam kesendirian, Ulama tak perlu terus menyandang baju itu karena tidak ada fungsinya. Kesendirian justru merupakan waktu untuk melepas semua aksesoris dan menjadi setelanjang-telanjangnya tanpa kepalsuan.

            Sekali lagi, itu ternyata bukan ide yang mudah. Variasi tingkat pemahaman komunitas memunculkan sebagian kecil orang-orang yang bepikir bahwa baju sama dengan kemuliaan. Sama sekali tak paham bahwa baju adalah “lambang” kemuliaan, bukan kemuliaan sesungguhnya.

Dasar karena nafsu yang menggebu ingin menguasai sesuatu cepat-cepat, jalan pintas pun akhirnya diambil. Baju yang seharusnya menjadi urusan terakhir dalam penguasaan ilmu, dijadikan urusan pertama dan utama. Baju yang merupakan ‘pusaka’, lambang kemuliaan, kemudian tanpa sadar terinjak-injak hingga turun pamornya menjadi hanya sebuah alat untuk mengenyangkan perut ataupun penyalur syahwat.

            Baju itu terus berevolusi seiring bergulirnya waktu. Baju itu tak lagi melulu hanya selembar kain yang dibentuk. Baju itu sekarang ada yang bernama pangkat, gelar sarjana, gelar ulama, status sosial, status media sosial.

            Sarjana, ia terlepas dari Perguruan tinggi (bukan perguruan rendahan) dengan iringan Sumpah. Sumpah untuk tetap menjaga marwah Sarjana. Karena Sarjana adalah perlambang seseorang yang menyerahkan hidup matinya untuk mendapat ilmu. Sarjana sejati tak akan peduli apakah ia hidup atau mati. Kesadarannya hanya terjaga bagaimana memberi manfaat seluas-luasnya kepada pihak lain. Karena dengan keluasan manfaat tersebut, ia berharap itu menjadi tiket memahami puncak Keindahan, puncak Kesejatian.  Sarjana sejati tak akan membiarkan tekanan kehidupan membuatnya mencampakkan kesarjanaan di tingkat terendah hanya untuk memenuhi selera perut.

            Sarjana tak ubahnya pisau bermata tiga. Ia bisa saja hanya berfungsi sebagai cangkul untuk sekedar memenuhi kebutuhan nafsu. Ia bisa saja hanya berfungsi sebagai pedang untuk sekedar menyalurkan syahwat berkuasa. Tetapi ia juga tetap bisa terjaga kemurniannya sebagai keris, pusaka yang sering berfungsi sebagai senjata pamungkas, senjata terakhir yang digunakan bila senjata-senjata lain sudah tak lagi mampu menciptakan keteraturan, kedamaian dan kenyamanan.

 

Christyaji Indradmojo

LEAVE A REPLY