Sang pemuda

Kawan, kali ini aku ingin berkisah, masih tentang muda. Muda yang penuh dengan semangat. Semangat yang menjadikan para pemuda bermodal untuk mampu berperan sebagai tonggak bangsa. Tak salah, benar-benar tepat. Di bagian bumi manapun, pemuda akan selalu diidentikkan dengan segala pernak-pernik tentang perubahan, perubahan yang mengandung harapan kental agar membawa bangsanya ke arah yang lebih baik. Kau tahu kawan, kata membawa? Membawa itu bisa saja berdenotasi dengan kata memikul, mengangkat, menopang, mendorong dan beragam kata ‘kerja’ lain. Aha! Pemuda = Pekerja. Mereka punya banyak pekerjaan, terlebih lagi jika pemuda itu terlahir dan besar di suatu negara bernama Indonesia.

Pemuda adalah generasi yang di pundaknya terbebani dan dibebani berbagai macam harapan, harapan dari segala generasi selainnya. Di teras-teras rumah, di warung-warung kopi dan di manapun ada mantan pemuda yang dulu sempat menikmati kerasnya makna “merdeka”, mereka tak pernah lupa sedikitpun untuk selalu menyematkan bisik yang kiranya berbunyi “semoga, pemuda mampu melanjutkan apa yang dulu kami perjuangkan.” Bisik mesra kepada hati, yang mutlak seratus persen bisik itu selalu terdengar oleh Sang Pemilik Hati.

Pemuda penerus, generasi yang akan melanjutkan perjuangan generasi sebelumnya, generasi yang mengisi dan melanjutkan estafet pembangunan, pengembangan dan kemajuan serta beerbagai hal yang mengindikasikan memayu hayuning bawana. Memayu itu menjaga, dan apabila ada kerusakan baik itu yang nampak maupun tak kasat mata, maka  di situlah seharusnya ada setidaknya seikat pemuda yang berusaha menghadirkan solusi. Seikat, karena rusak itu ‘berpencar’, maka harus ada yang ‘bersatu’ untuk mengimbanginya.

Pada tahapan masa muda, tak berlebihan jika para pemuda dikaruniai masa puncak performa fisik. Dengan segala tanggung jawab yang melekat, amat sayang jika fisik yang prima hanya digunakan semena-mena. Mari kembali mengingat, berkaca pada sejarah perjuangan bangsa, kepeloporan pemuda selalu tampil sebagai salah satu kekuatan penentu. Mereka adalah kelompok intelektual idealis, penabung semangat pengabdian tanpa pamrih dan rela berkorban demi kepentingan bangsa.

Masa muda sendiri adalah masa-masa penuh dengan tantangan baru. Tantangan yang seharusnya dapat menjadi modal untuk menempa menjadi manusia yang semakin ngerti. Ngerti apa yang seharusnya dilakukan dan diperjuangkan untuk migunani tumrap liyan.

Magnet Ajaib 

Ibarat sebuah magnet yang daya pikatnya bisa turun dari langit (alamiah). Bisa juga dari aliran listrik. Asal ada arus yang berbeda saja, medan magnet juga bisa terbentuk. Tangan yang digoosok-gosokkan saja juga bisa menghasilkan medan magnet. Tapi kali ini bukanlah cerita tentang cara menghasilkan magnet kawan. Kisah ini tentang besi.

Coba bayangkan, apa yang terjadi bila besi didekatkan pada magnet? Besi akan lengket seolah-olah tak mau terlepas dengan magnet. Tetapi coba beberapa saat kemudian besi dilepaskan dari magnet, apakah besi berubah identitas? Tidak, ia takkan berubah identitas, ia tetap bernama besi. Jika intensitas melekatnya pada magnet terlalu biasa. Tapi ketika besi itu seringkali bersinggungan dengan magnet, acapkali bergesekan dengan magnet, apa yang kemungkinan terjadi?

Ajaib! Meski sudah terlepas dari magnet, ia membawa karakter magnet, ia baru saja terinduksi. Sebab seringkali mendekati magnet dan menyerap medan magnet, lambat laun besi memiliki daya tarik seperti magnet. Besi itu menjadi magnet!

Sumber magnet itu bisa berupa Cak Nun, Cak Fuad, Cak Dil, Syekh Nur Samad Kamba, Mas Sabrang dan siapapun. Bila para pemuda bergerak terus menerus di lingkaran magnet maka mereka berpotensi untuk menjadi sumber magnet sendiri. Magnet yang menarik karena kebermanfaatannya kepada banyak orang.

Belajar dari titik terbawah

Nusantara saat ini tengah di titik gelisah. Ia merasa pemudanya seolah-olah telah lupa dengan bagaimana wajahnya yang asli karena terlalu sering ditunjukkan berbagai topeng. Menjadikan perkembangan karakternya semakin jauh dari kesejatiannya, tidak tahu apa yang menjadi kekhasannya. Maka, para pemuda perlu merumuskan aksi penyelamatan bangsa.

Bukan perkara mudah ketika para pemuda memutuskan untuk melakukan suatu perjuangan. Pemuda harus berjuang benar-benar dari titik terbawah. Para pemuda memang berada pada puncak performa fisik, namun belumlah memiliki banyak pengalaman. Diperlukan usaha dan persahabatan dengan sang waktu. Dibutuhkan identifikasi yang holistik terhadap kegelisahaan nusantara. Berolah pikir dan rasa kepada siapa saja yang masih menyimpan hati untuk nusantara menjadi hal yang harus dibiasakan. Mencoba membentuk formula strategi menjadi hobi. Berkoloni meembentuk barisan yang lebih kuat menjadi bagian rencana.

Sampai akhirnya, perlahan pemuda mampu untuk berjalan semakin tegap. Melakukan tindakan nyata memayu hayuning bawana. Karena jika tidak secepatnya direspon, apa yang telah rusak akan semakin sulit ditangani.

Membersamai Niat baik

Untuk melakukan sebuah perjuangan besar, tidak mungkin mampu dilakukan sendiri. Perlu koloni dengan pemuda-pemuda lain yang mau berjuang bersama, memikul mimpi yag sama. Pembentukan koloni yang tidak akan pernah mudah kawan, karena tak banyak pemuda yang mampu menikmati perjuangan.

Mungkin akan mudah dilakukan melaui jalan pintas pencitraan. Mendompleng nama tokoh besar dan menjual beragam embel-embel lain. Tapi apakah itu akan mulia? Sementara perjuangan pemuda bukan perkara satu dua tahun. Bukankah akan lebih indah jika yang pertemuannya memang sudah seharusnya dipertemukan oleh jodoh, untuk sama-sama tumbuh menjadi pemuda yang tidak biasa.

Mimpiku dan mimpimu kawan, bukankah mimpi kita masih sama? Menjadi pemuda yang tidak hanya besi biasa, namun mampu menjadi baja penopang dan magnet pemikat bagi masa depan bangsanya. Berniat lebih keren dari satria baja hitam dan lebih canggih dari iron man. Pemuda yang mengupayakan dirinya menjadi pribadi yang menyenangkan dan membaikkan. Apapun yang dilakukan saat ini dan ke depannya, sebenarnya bukanlah untuk memenuhi rasa puas atau membuat orang lain mengakui segala kehebatan. Namun melakukan tindakan nyata dan belajar menjadi manusia yang bermanfaat. Berupaya sedikit saja menarik perhatian dari Sang Sejati, mencoba mendekat dan merayu dengan aksi-aksi syahdu. Di balik setiap kesusahan apapun, percayalah bahwa terhadap segala niat baik, Tuhan tidak hanya merestui, tapi juga menfasilitasi.

Nyuhani Prasasti

LEAVE A REPLY