Gairah semangat yang begitu lama dirindukan akhirnya dapat terhirup lewat riuh para jamaah Sholat Dhuhur di Masjid Al-Hikmah Malang. Ada satu suara yang sangat kukenal. Suara yang tak asing itu begitu mendominasi. Hingga saat ia berbicara para jamaah terdiam lagi khidmat mendengarkan. Aku tidak kalah penasaran, berusaha mencari posisi yang paling nyaman. Suara itu milik Simbah, begitu kami memanggilnya. Suara itu sungguh terdengar lain dari biasanya, seolah Simbah benar-benar berpesan untuk para anak cucunya.

Bermula dari salah seorang jamaah bertanya pada simbah perihal masalah politik yang melanda Ibu Kota Jakarta. Sudah lama aku juga menantikan “Apa kata Simbah” perihal Salah satu bakal calon Gubernur dan umat yang tak henti-hentinya menjadi trending topic di Indonesia. Ada satu hal yang kemudian menarik atensiku, mungkin karena baru saja bangun dari rasa kantuk, Simbah enggan berpendapat! Aku keheranan.

Apa yang terjadi di Indonesia adalah saling curiga yang hampir melanda seluruh negeri, bangsa Indonesia dibuat tidak lagi percaya pada rumah tangganya sendiri. Di balik bungkamnya Simbah pada permasalahan negeri sebenarnya adalah jawaban, bahwa bangsa Indonesia harus fokus pada arah permasalahan bukan pada permasalahan yang ada. Arah permasalahan “antar umat beragama” yang memungkinkan berujung pada terjadinya perpecahan, sedang kita tahu negeri ini lahir atas dasar persatuan “Bhineka tunggal Ika” dan atas dasar musayawarah bersama untuk hidup dalam damai dan sejahtera.

Mungkin tepat bila disebut batu ketidakkesadaran, karena kita sibuk dengan permasalahan tanpa menyadari negeri ini dibawa menuju saling-permusuhan dan perpecahan. Suatu pemikiran yang teramat jauh dan panjang, sehingga diamnya Simbah bukan berarti tidak peduli sama sekali, melainkan menyuarakan betapa pentingnya menghadapai persoalan di negeri ini dengan teliti.

Menciptakan Tetesan Kesadaran

Simbah juga menyampaikan mengapa manusia disebut-sebut sebagai Al Muddassir (dalam Surat Al Muddassir (1)) atau orang yang berselimut. Mengapa selimut? Kata Simbah, selimut mewakili pikiran manusia yang terbolak-balik. Seraya kemul atau selimut adalah kain yang bisa diputar balikkan, digunakan untuk menutupi apa saja, tidak ada bagian atas dan bawah. Maka hendaknya bangsa Indonesia ini bangun “…. Qum fa andzir! Bangun dan ingatlah Tuhan”, Simbah melanjutkan. Bangun yang bermakna kita disuruh untuk sadar pada keadaan, seperti pepatah Jawa yang sering kita dengar eling lan waspodo.

Untuk eling maka jangan sampai manusia itu lupa akan sangkan paran atau asal muasal, dari mana ia datang untuk apa ia dihadirkan di Bumi.

 

Prisma Susila

LEAVE A REPLY