Captured by Yeni Lathifah
Captured by Yeni Lathifah

Let’s break this down a bit.

First of all, saya hanya membandingkan dengan Pulau Jawa karena kebetulan ini adalah basis tempat kerja saya dan saya sedikit lebih memahami masalah di lapangannya. Dan kenyataannya, kontributor jumlah kasus terbesar sejauh ini adalah Pulau Jawa.

Here We Go

Jumlah penduduk:

Italia: 60,5 juta.

Jawa: 145 juta.

Kepadatan penduduk:

Italia: 206 penduduk/km².

Jawa: 1.121 penduduk/km².

Artinya?

Dengan jumlah penduduk dan kepadatan penduduk jauh lebih tinggi, tingkat virulensi di pulau Jawa tentu akan lebih tinggi dibanding Italia. Lebih mudah bagi virus untuk menular ke orang lain, apalagi kalo kita nekat sabung nyawa dengan kumpul2 bersama jumlah massa yang besar  dengan jarak berdekatan.

Jumlah rumah sakit:

Italia: 1.063 RS per 2017.

Jawa: 653 RS per 2019.

Ketersediaan bed intensif:

Italia: 2.6/1000 penduduk.

Indonesia: 1.21/1000 penduduk (khusus Jawa tidak dapat angkanya).

Jumlah dokter:

Italia: 4,1/1000 penduduk (2017).

Indonesia: 0,4/1000 penduduk (2017).

Health expenditure:

Italia: 8,8% GDP (2017).

Indonesia: 5% GDP (2019).

Artinya?

Dengan jumlah Rumah Sakit yg jauh lebih sedikit dengan jumlah populasi yg jauh lebih besar, we are horribly underwhelmed!

Ingat, saat ini RS di Italia sudah kewalahan dan tidak mampu menampung pasien Corona. Bahkan dokter harus melakukan seleksi dingin (in our terminology, disaster triage) untuk menentukan siapa yg akan mendapatkan bed intensif (usia lebih muda, penyakit penyerta lebih sedikit, prognosis lebih baik.

Yep, they have to decide who gets help and who does not. In case you never experience this kind of literally life-saving decision, it’s heart-rending).

Dan ingat, jumlah ini masih harus pula dibagi dengan pasien-pasien lain yang non Corona.

People don’t just stop getting sick from strokes, heart attacks, and traumas while Covid makes a mess.

Jumlah dokter pun cukup jauh di bawah Italia. Padahal, para dokter ini adalah salah satu ujung tombak pelayanan pada saat Pandemik. Mereka adalah salah satu populasi yang paling rentan terinfeksi. Jika dokter (dan tentunya tenaga kesehatan lain) mulai tumbang karena terinfeksi Covid, bisa anda bayangkan betapa cepatnya sistem kesehatan akan runtuh karena tidak ada yang mengepalai sistemnya.

Dan tentunya, kekuatan sebuah sistem kesehatan akan sangat tergantung pada besar biaya yang dialokasikan negara untuk menopangnya.

In this case? Yep, once again, we lost to Italy. We have fewer hospitals, fewer beds, fewer physicians, fewer facilities, fewer logistics. Logic follows that it is far more dangerous for you to get sick in Indonesia than in Italy. So if Italy is that big of a mess, what do you think we will be?

Jumlah kasus:

Italia: 53.578 kasus (dalam 52 hari, konfirmasi kasus pertama 31 Januari 2020)

Jawa: 410 kasus (dalam 20 hari, konfirmasi kasus pertama 2 Maret 2020)

Jumlah kematian:

Italia: 4.825 kasus (9.03%).

Jawa: 36 kasus (8.78%).

Artinya? Case fatality rate kita tinggi. Dan itu masih dengan jumlah kasus yang tidak terlalu banyak. Apakah yakin bahwa jumlah kasus serendah itu? Kenyataannya, tidak semua pasien bisa dilakukan pemeriksaan Covid karena keterbatasan alat dan biaya.

Ketika (dan jika) pemerintah memperbanyak testkit dan memperluas kriteria screening, most possibly angka ini akan melonjak tinggi.

Anda sehat? Tidak bergejala? Bisa jadi anda membawa virus tersebut dan akan menularkannya ke orang lain, orang yang tidak seberuntung anda, dan berkontribusi pada peningkatan mortalitas negara kita. Berkontribusi menghilangkan nyawa orang lain.

Congratulations. Kalau anda percaya dengan pengadilan di akhir jaman, silakan persiapkan jawaban anda dari sekarang ketika anda dituntut untuk mempertanggungjawabkan perbuatan tersebut, hanya karena “bosan di rumah terus”, “mumpung liburan”, “mumpung diskon besar-besaran”, “tidak takut pada Coronavirus, hanya takut pada Tuhan”, “itu hak dan kebebasan saya untuk bepergian”.

Please. Have a bigger perspective. Have some sympathy. STAY. AT. HOME. You staying home can literally save other people and help us.

If you are that bored, I invite you to join us in the front line, facing people who coughed their lungs out right in front of you with only a surgical mask separating the both of you. In some places, the health workers don’t even have that. Believe me, it is totally exciting.

 

Source:

https://www.worldometers.info/coronavirus/country/italy/

https://www.worldometers.info/coronavirus/country/indonesia/

https://covid19.kemkes.go.id/situasi-infeksi-emerging/info-corona-virus/situasi-terkini-perkembangan-coronavirus-disease-covid-19-22-maret-2020/#.XndH0dMza00

https://investor.id/national/rasio-bed-dibanding-populasi-di-indonesia-masih-rendah

https://www.euronews.com/2020/03/19/covid-19-how-many-intensive-care-beds-do-member-states-have

https://www.statista.com/statistics/557042/hospitals-in-italy/

http://sirs.yankes.kemkes.go.id/fo/

https://data.worldbank.org/indicator/SH.MED.PHYS.ZS

https://www.kemenkeu.go.id/apbn2019

 

 

Malang, 22-3-2020, 20.22 WIB

Cheers,

Isabella Anjelin

An emergency medicine resident in Malang, one of Indonesia’s red zone.

 

LEAVE A REPLY