Semau-maumu

Semau-maumu

0
936

 

Ada yang bilang hidup adalah permainan. Sebagai pemain, manusia diberi kesempatan untuk menentukan pilihan-pilihan. Tiada larangan jika kita memang mau mencari kebahagiaan. Sekalipun dengan menuruti nafsu. Semua terserah kita. Kehidupan dan kematian, keuntungan dan kerugian, kita sendirilah yang menentukan, tentunya setelah Tuhan. Demikianlah penggalan pesan yang disampaikan Kiai Kanjeng dalam bait lagunya yang berjudul “Semau-maumu”.

 

Sebagai pemilik arena permainan, tentu sangatlah mudah bagi Tuhan untuk memaksa para pemainnya melakukan apapun semau-Nya. Tapi, kenyataannya tidaklah demikian. Seolah tidak ingin memberatkan para pemainnya, Tuhan hanya memberikan ‘peta’ dan ‘kompas’ sebagai bekal mencari jalan kebenaran. Selebihnya terserah para pemain. Mau menggunakan fasilitas yang telah disuguhkan ataukah mengabaikannya dan lebih memilih menuruti bisikan nafsu. “Terserah kamu.”, begitulah firman Sang Raja kehidupan. Toh, semuanya juga akan kembali pada diri para pemain. Baik ataupun buruknya langkah yang diambil, pada akhirnya akan kembali pada diri pemain jua.

 

Masih dalam bait lagunya, Kiai Kanjeng kembali mengingatkan. Lampiaskanlah semau-maumu. Hanyutkanlah diri sesuka-sukamu. Tapi jangan sesalkan akan cepat datang mautmu. Tiadalah permainan yang abadi. Ya, bukankah setiap permainan ada awal dan ujungnya?  Meskipun hanya permainan, tentu semua ingin menjadi pemenang bukan? Terkecuali jika ada sebagian dari kita yang memang dengan suka rela dan hati yang legowo bercita-cita untuk mendapatkan kekalahan. Menjadi pemenang tidaklah harus mendapatkan poin segudang.

Cukup berusaha membuat Sang Raja bahagia dan mencintai kita. Dengan begitu semua akan terasa lebih sempurna. Bukankah karena cinta, seseorang rela memberikan apa pun demi yang dicintai bahagia? Meski bukanlah ‘iming-iming’ hadiah dari Sang Raja yang kita tuju, setidaknya mendapatkan cinta dari Sang Maha Cinta akan membuat jalan kita lebih bercahaya. Dan kita pun akan memungkasi permainan ini dengan disambut cinta dari Sang Muara Cinta.

Di samping itu, dalam karyanya yang berjudul Rumah Kita, Cak Nun mengingatkan bahwa sebagai manusia, hidup di dunia ini tak ubahnya hanya sekadar bertamu saja. Yang suatu saat pasti akan berpulang ke kampung halaman kita, surga. Karenanya, sudah sepantasnya kita mencari bekal yang cukup untuk kita persembahkan pada tuan rumah, Sang Pemilik rumah yang sejati. Pinta-Nya sangatlah sederhana. Hanya amal Soleh dan keimanan dengan disertai kerinduan pada-Nya. Sekali lagi, jika itu mau kita. Keputusan masih tetap di tangan kita. Menang ataupun kalah, adalah pilihan kita. Karena kita sendirilah pemimpin atas diri kita. Yang jelas, Tuhan telah mengingatkan. Jangan sesalkan jika permainan ini kita akhiri dengan kekalahan.

 

Tiada Yang Sia-sia

Betapa welas asihnya Tuhan kita. Meskipun seolah-olah kita dilepaskan dalam arena permainan yang syarat akan tantangan dan godaan, rupanya tak menghalangi sifat Rahman Rahim-Nya untuk muncul di permukaan. Seolah Tuhan tidak tega melihat makhluk-Nya berjalan sendirian berperang untuk melawan kekalahan. Dibentangkan-Nya rambu-rambu dan kode-kode di seluruh alam semesta. Sebagai acuan dan pijakan para manusia agar tak tersesat dan salah langkah dalam mengambil keputusan.

 

Tak ada yang sia-sia. Semua yang diciptakan-Nya selalu membawa peran dan manfaat tersendiri. Sebut saja apa yang ada di sekitar kita. Adakah yang tidak ada manfaatnya? Tidak. Dia menciptakan segala sesuatu dengan menitipkan manfaat dalam dirinya. Jika kita masih belum bisa menemukan manfaat akan ciptaan-Nya, bisa jadi karena keterbatasan pengetahuan kitalah yang menyebabkan ketidaktahuan kita. Karenanya, sangat dianjurkan bagi kita untuk senantiasa merenungkan ciptaan dan penciptaan-Nya. Agar kita bisa menemukan rahasia di balik lafadz “Allahu Akbar”. Agar kita bisa menemukan jalan yang benar untuk pulang ke rumah.

 

Sungguh. Tidak ada yang sia-sia. Bahkan babi yang diharamkan untuk dimakan dan sangat senang hidup di lingkungan menjijikkan itu pun masih membawa manfaat. Bukankah dengan kebiasaan babi yang memakan kotor-kotoran akan sangat membantu untuk membersihkan lingkungan? Diciptakannya rasa sakit agar kita lebih menghargai waktu sehat. Diciptakannya rasa sakit, untuk memberikan ladang rizki bagi sebagian saudara kita. Ya, ladang rizki bagi mereka yang memproduksi obat, para penjual obat, dan tentunya juga para dokter. Diciptakannya kedzaliman sebagi cermin untuk berkaca. Jika kita merasakan sakitnya didzalimi, maka tak usahlah kita turut mendzalimi orang lain. Kecuali jika kita siap untuk didzalimi, ya silahkan berbuat semau-maumu.

 

Semua ada manfaatnya. Dalam kerajaan bilangan pun, Tuhan masih menitipkan sebagian manfaat untuk makhluk-Nya. Dalam bahasa bilangan, Tuhan menyapa kita dengan mesra. Ditunjukkan-Nya kita akan keagungan ciptaan dan indahnya kalam firman-Nya.

 

Pernahkah sejenak kita bertanya. Mengapa sama-sama angka ‘nol’ jika berada di tempat yang berbeda akan menghasilkan nilai yang sangat jauh berbeda. Sebut saja ‘nol’ yang berada di belakang bilangan lain akan menghasilkan nilai yang lebih besar. Misalkan angka 1 jika dibarengi angka ‘nol’ di belakangnya akan menghasilkan bilangan yang jauh lebih besar. Berkat ‘nol’ yang setia dan rela berjajar di belakang angka 1, 1 bisa saja berubah menjadi 1 juta, 1 miliar, dan bahkan bisa jauh lebih besar lagi nilainya. Akan berbeda jika ‘nol’ berada di depan angka 1. Dengan dipisahkan koma, nilai bilangannya akan menjadi jauh lebih kecil. Pun jika nol yang terpisahkan oleh koma berada di belakang angka 1, hal ini tidak akan mengubah arti dari angka 1. Nol di belakang koma tidak akan berarti apa-apa pada nilai bilangan di depannya. Adakah pesan yang ingin disampaikan Tuhan melalui bahasa bilangan tersebut?

 

Tugas kita sebagai manusialah yang harus mencari tahu maksud dari ini semua. Ya. Mencari rahasia Tuhan. Yang perlu kita ingat. Tuhan adalah zat Yang Maha Suci. Untuk mampu memahami maksud dari Yang Maha Suci, maka kita harus terlebih dulu berusaha mensucikan lahir dan batin kita. Berusaha menyamakan frekuensi dan memahami setiap rambu-rambu yang telah disuguhkan-Nya.

 

Semau-maumu

Nol, dalam sendirinya dia tidaklah berarti apa-apa. Dia akan memberi arti jika disandingkan dengan bilangan lain yang mempunyai nilai lebih darinya. Layaknya manusia yang sejatinya tidak mampu melakukan apa pun. Tidak mempunyai apa pun. Hanya diadakan. Hanya dipinjami kekuatan. Hanya digerakkan oleh Sang Penggerak Kehidupan.

 

Bisa dibayangkan bagaimana jadinya jika seseorang yang lemah, tidak mempunyai kemampuan yang cukup dan tidak mau mendengarkan suara orang lain menjadi seorang pemimpin. Dia akan bertindak semaunya dan tindakannya akan ngawur, karena tanpa dibarengi ilmu yang cukup. Tidak ada musyawarah yang mufakat. Ya, bisa saja akan ada hasil dari kepemimpinannya. Akan tetapi sangat kecil nilainya. Bukankah nol yang diikuti oleh koma di belakangnya selamanya hanya akan menjadi bilangan desimal. Nol yang diikuti koma di belakangnya selamanya tidak akan pernah mencapai bilangan yang utuh. Sekalipun itu hanya satu.

Setiap kita adalah pemimpin. Paling tidak pemimpin atas diri kita sendiri. Jika sudah menyadari kalau kita hanyalah manusia yang lemah dan tidak mampu apa-apa, setidaknya itu menjadi cambukan semangat kita untuk tidak pernah berhenti belajar. Belajar untuk terus memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri. Kasus nol koma tersebut, setidaknya juga bisa kita jadikan pengingat kita. Bahwa sebaik-baiknya kita, kita masih tetap menjadi sosok manusia yang lemah. Yang masih dan akan selalu butuh bantuan dari Sang Pemilik Kehidupan.

Jika kode dari Tuhan tersebut kita abaikan, kita akan menjadi manusia yang bertindak semau kita. Jika itu pilihan kita, tenanglah Tuhan pun tidak pernah memaksa. Yang jelas Dia telah mengingatkan dan memfasilitasi kita. Toh jika kita tak menghiraukannya pun tak akan berpengaruh sedikit pun pada-Nya. Lampiaskanlah semau-maumu. Hanyutkanlah diri sesuka-sukamu. Jalanlah api dunia sekenyang-kenyangmu. Kalau memang itu maumu. Begitulah syair lagu yang telah dibawakan oleh Kiai Kanjeng.

Ikut Arus

Jika nol berada di belakang koma, dia tidak akan berarti apa-apa. Karena dia tidak akan mengubah keadaan asli bilangan yang ada di depannya. Pun dengan kita sebagai manusia. Jika kita hanya berdiam diri tanpa ikut berproses, selamanya kita hanya akan mengalir mengikuti arus. Sedangkan menurut Cak Nun, yang namanya orang hidup itu seharusnya bergerak melawan arus, bukannya mengikuti arus. Beliau mengibaratkan orang yang mengikuti arus itu seperti sampah dan ikan mati. Untung-untung kalau arusnya mengantarkan kita pada tempat yang baik. Tapi bagaimana kalau arusnya justru akan mencelakakan kita?

Tawakkal Solusi Terbaik

Kemungkinan posisi nol yang selanjutnya adalah nol yang terletak setelah suatu bilangan tertentu. Nol pada posisi ini akan menambahkan suatu nilai pada bilangan tersebut. Misalkan nol yang berada di belakang angka satu akan mengubah nilai satu tersebut. Satu bisa berubah menjadi seratus, satu juta, satu miliar, atau pun yang lebih besar lagi.

Ibaratkan manusia, nol yang berada di posisi ini seperti manusia yang memegang petuah Jawa. Ojo rumongso biso, nanging biso’o rumongso. Jangan merasa bisa, tapi bisalah merasa. Meskipun sadar kalau dia tidak bisa apa-apa, tapi tidak menghalanginya untuk turut berbaur berproses bersama dengan bilangan lain yang mempunyai nilai lebih darinya.

Tidak merasa bisa dan sadar kalau memang kita tidak bisa akan menjadi cambukan semangat kita untuk terus berbuat. Berbuat untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri. Dengan merasa tidak bisa, juga akan menyadarkan kita akan Dzat Yang Maha Bisa. Sudah seharusnya hanya kepada-Nya lah kita meminta bantuan. Meminta bantuan atas pinjaman secuil kekuatan-Nya. Pasrahkan semua usaha kita hanya pada-Nya. Sebagai manusia, kita hanya bisa merasa dan berusaha. Soal bisa atau pun tidak, berhasil atau pun tidak, biarlah Dia Yang Maha Mengetahui memilihkan hasil yang terbaik untuk kita.

Kasus nol yang terletak setelah suatu bilangan tersebut, seolah juga telah mengingatkan kita bahwa tawakal lah solusi terbaik atas semua permasalahan yang ada. Tak pernah berhenti berusaha dan juga mengharapkan pertolongan dari Yang Maha Kuasa. Dengan bertawakal, kita akan mendapatkan bantuan dan pertolongan dari Yang Maha Segalanya. Sehingga hasil yang kita peroleh pun juga akan maksimal. Sebagaimana yang telah digambarkan dengan besarnya nilai yang telah dihasilkan oleh nol yang berjajar di belakang suatu bilangan tertentu.

 

Penulis : Hilwin Nisa’

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY