Alkisah Shiduplah sebuah dongkrak yang selalu setia menemani sang mikrolet menarik penumpang. Sekian lama kesetiannya tak berbuah hasil. Dia selalu ditempatkan di bawah kursi penumpang, tersembunyi dan kesepian. Kadang kedinginan tapi tak jarang juga kepanasan. Dia merasa tidak ada gunanya selalu menemani sang mikrolet. Dia merasa tidak terlihat dan terabaikan.

Di setiap puncak rasa keputusasaannya dia selalu ingat petuah si pembuat dongkrak, Tidak ada satu pun alat yang diciptakan yang tidak bermanfaat untuk manusia.

Seperti juga halnya kamu, kamu akan lebih sering diabaikan. Tapi akan ada momennya di mana kamu akan menjadi satu-satunya alat yang diingat dan dicari manusia.”

Berbekal ingatan petuah sang pembuat dongkrak, dia (dongkrak) kembali semangat untuk tetap setia menemani sang mikrolet menarik penumpang.

Hingga suatu hari ketika sang mikrolet melaju dengan anggunnya, tiba-tiba dia berhenti mendadak. Penumpang pun terkejut dan bertanya-tanya. Ada apa dengan sang mikrolet. Sopir mikrolet pun akhirnya turun dan mengecek kondisi sang mikrolet yang ternyata salah satu bannya ada yang gembos. Tanpa berpikir panjang sopir mikrolet segera mengambil dongkrak yang tak pernah turun dari mikrolet.

Di sinilah untuk pertama kalinya terlihat senyum tulus dari dongkrak yang sebelumnya merasa terabaikan. Kini dia tidak lagi merasa tidak bermanfaat. Karena akhirnya dia menyadari bahwa akan ada sebuah momen yang membuat sesuatu akan indah pada waktunya.

Yeni Lathifah

LEAVE A REPLY