Sepenggal Kisah di Kota Nelayan

Sepenggal Kisah di Kota Nelayan

0
415

Kisah Sang Dermaga

Laki-laki itu penuh peluh, nafasnya sedikit tersengal-sengal. Terlihat raut wajahnya yang penuh dengan guratan lelah. Tetapi entah kenapa, rona bahagia masih tergambar jelas di wajahnya. Seolah beban hidup dan pekerjaan berat sekalipun tak mampu menghalanginya untuk bahagia.  Senyum lebar alih-alih terlontar dari wajah bapak paruh baya itu, tatkala ada seorang gadis yang ingin bertanya padanya tentang ini dan itu.

Gadis itu, dia sangat ingin mengetahui tentang tanah kelahirannya. Benaknya selalu terusik tentang apa yang sebenarnya terjadi. Dahulu kala diceritakan bahwa kotanya memiliki dermaga yang cukup besar. Kemegahan pelabuhan tersebut dulunya mampu menarik saudagar hingga negeri seberang, sekelas negara-negara Asia pernah singgah di pelabuhan ini. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, kemashyuran itu berkurang sedikit demi sedikit. Hingga saat ini di abad ke-21 kebesarannya habis, luluh lantak termakan arus zaman. Cerita tinggallah cerita, semua kejayaan itu hanya menjadi rekaman usang di perpustakaan kota yang tak banyak diminati, gadis itu bahkan mengira kalau tak banyak yang tahu tentang masa keemasan itu.

Apa yang menjadi daya tarik? Hingga saudagar memutuskan untuk mengunjungi pelabuhan itu? Dijelaskan pula dalam teks jika ketenarannya karena lokasinya yang strategis, sehingga memudahkan para saudagar untuk menjalankan roda perdagangannya.

Nelayan oh Nelayan

Kembali pada realita, saat ini pelabuhan itu menjadi tumpuhan hidup para nelayan ikan. Tak semegah dulu memang, tetapi cukuplah untuk menampung keberlanjutan hidup masyarakat di sekitar pelabuhan. Mereka bergantung pada musim yang datang, juga pada hasil tangkapan hari itu. Jika mereka mendapat banyak jenis ikan, alhasil ada banyak lembaran rupiah yang mereka bawa pulang, terkadang mereka juga membawa ikan untuk lauk di rumah. Tetapi jika ikan sedang sudah didapatkan terkadang tak ada rupiah dalam genggaman, hanya beberapa ikan untuk lauk hari itu.

Ada anomali yang dirasakan gadis itu, seandainya hal ini yang dihadapi masyarakat metropolitan, mungkin mereka akan menceritakn dengan nada kesedihan. Tetapi bapak itu menceritakan kisahnya dengan ringan, seolah itu adalah kisah untuk anak-anak. Beliau tertawa lepas tanpa beban, mungkin karena beliau merasa senang ada yang mau mendengarkan ceritanya. Tetapi itu hanya asumsi, alasan sesungguhnya hanya bapak nelayan itu sendiri yang tahu.

Kisah itu berlanjut, lalu kemanakah hasil tangkapan ikan yang diperoleh para nelayan?. Ikan itu seharusnya berada di koperasi nelayan, dimana ada standar harga persatuan ikan. Sehingga seberapapun hasil tangkapan ikan maka ada harga standar untuk ikan itu. Ataupun tempat pelelangan ikan yang fungsinya hampir sama seperti koperasi. Hal yang terjadi sebaliknya, tempat idaman untuk para nelayan itu tak ada di kota ini.

Alkisah, dahulu pernah ada tempat pelelangan ikan di kota tersebut. Kemudian semua berjalan seperti yang diidamkan. Tidak ada pergolakan harga. Tetapi sepertinya ada beberapa oknum yang tidak menginginkan kesejahteraan bagi nelayan. Pada akhirnya terjadi kisruh di tempat pelelangan ikan. Dan dengan berat hati, tempat pelelangan ikan itu harus gulung tikar. Sejak saat itu, nasib para nelayan menjadi terombang ambing. Tidak ada lagi harga standar untuk ikan. Hasil tangkapan nelayan bergantung pada kebaikan hati “tengkulak” yang membeli ikan-ikan mereka. Apabila mereka mendapatkan banyak ikan dengan jenis yang sama maka akan dihargainya dengan murah, bahkan jauh di bawah standar. Jika hasil tangkapan ikan sejenis mereka sedikit, maka barulah sang tengkulak memberikan harga standar.

Bergitulah sedikit gambaran nasib para nelayan di kota itu. Mereka terombang-ambing seperti ombak yang tidak pernah berhenti bergemuruh. Potret kecil di salah satu sudut kota nelayan bangsa ini, yang bisa saja menjadi gambaran besar para nelayan di nusantara. Kondisi yang tidak terjamah oleh tangan-tangan adikuasa. Atau mungkin sudah terjamah tetapi masih mencari kebijakan yang pas, entahlah, tiada yang mengetahui.

Top-down dan Bottom-up

Isu yang seharusnya sudah dipikirkan langkah kedepannya. Dimana langkah secara top-down serasa bukan menjadi kapasitas para pemuda. Sosok yang dinamis, penuh ide, sarat akan idealisme, dan penuh energi. Tetapi tak menutup kemungkinan jika stake-holder berada dalam range nework-nya. Susah memang jika fokus hanya tercurahkan kepada pemegang kekuasaan, merayu mereka, atau menyadarkan mereka agar menerima saran kita. Serasa akan menjadi big effort and vast energy to waste.

Kemudian ada Bottom-up sebagai alternatif kedua yang serasa lebih rasional dilaksanakan oleh para generasi muda. Mereka melakukan cara-cara dari dasar untuk keberlanjutan masa depan. Masa yang akan datang memang bergantung pada generasi selanjutnya. Sehingga penyadaran para larva ataupun biji-biji yang dormansi (baca: generasi penerus) menjadi langkah presisi untuk membangun bangsa. Memperbaiki mindset mengubah dari cara berfikir inferior menjadi superior. Menyadari potensi daerah, ataupun local wisdom yang bisa dieksplor dan dikembangkan dengan baik.

Langkah yang bisa dimulai dari celah-celah kosong isu tersebut. Celah yang selama ini ditinggalkan atau mungkin terlupakan oleh banyak orang. Pemuda dapat hadir dan menginspirasi untuk mempersiapkan generasi emas beberapa tahun berikutnya. Mungkin tidak saat ini masalah itu langsung terselesaikan, tepat sasaran, dan secara praktis. Karena memang itu adalah kewenangan pemerintah. Tetapi pemuda juga dapat menabung untuk deposit masa depan demi kemandirian bangsa.

Lama dan melelahkan, merupakan keniscayaan bagi kegiatan yang dilakukan dari dasar dan terus-menerus. Tetapi tidak bagi pemuda yang tidak sengaja dipertemukan dengan gadis ini. mereka adalah segerombolan manusia yang tidak kenal lelah. Beberapa langkah yang membuat gadis ini terenyuh untuk kesekian kalinya, yaitu sesederhana menemani anak-anak kecil di desa yang kesulitan membaca dengan membantu mereka mengenali lingkungan sekitar. Ataupun membuat jejaring sosial agar negaranya memiliki kemandirian IT kedepannya. Ataupun menjadikan literasi sebagai pusat rekam jejak. Ataupun mengkampanyekan permainan tradisional. Ataupun yang sedang belajar di negeri sebrang sana. Apapun yang mereka lakukan saat ini adalah untuk mempersiapkan generasi yang mandiri di masa depan. Negara yang mengerti potensi dirinya, negara yang berswasembada. Serasa harapan dalam diri gadis ini tak pernah habis untuk bangsanya yang ia yakini akan segera bangkit. Begitulah sepenggal kisah di kota nelayan yang mengawali kisah para pemuda agar kemashyuran nusantara terulang kembali di masa depan. Aamiin.

Firza Dwi Hasanah
*)Terinspirasi dari kondisi para nelayan di Kota Pasuruan

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY