Software Kedinamisan Perubahan

Software Kedinamisan Perubahan

0
473

 

Teknologi dan Gegar Budaya

Proses perubahan teknologi yang berjalan cepat membuat masyarakat mengalami shock culture atau biasa disebut gegar budaya. Gegar budaya merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan keterkejutan pada kondisi baru. Perkembangan teknologiĀ  memiliki hubungan kausalitas yang erat terhadap gegar budaya yang terjadi saat ini. Teknologi memberikan sumbangsih terhadap perubahan pola pikir dan perilaku masyarakat. Perubahan yang terjadi saat ini memaksa para pelaku kehidupan untuk menyesuaikan diri atau beradaptasi. Adaptasi dilakukan agar para wakil Tuhan di bumi mengalami keseimbangan dalam hidupnya atau equilbrium.

Kondisi di atas secara berkala benar-benar mengubah pola responsifitas masyarakat dalam menanggapi suatu permasalahan. Dahulu (beberapa tahun lalu sebelum ada berbagai macam gagdet) apabila seseorang mengetahui permasalahan di sekitarnya. Maka yang dilakukannya adalah berfikir bagaimana cara untuk menangani isu tersebut dan cara agar dirinya ikut berpartisipasi dalam menanganinya. Lalu coba kita lakukan komparasi dengan yang terjadi saat ini, ketika semua hal dapat dilakukan dengan cepat dan informasi membanjiri manusia dengan begitu mudah. Maka proses untuk include atau ikut terlibat dapat sangat berbeda dengan saat teknologi belum berkembang. Dengan adanya berbagai macam akun media sosial (hasil perkembangan teknologi) dapat membuat mereka berfikir bahwa memberikan rasa simpati dengan menuliskan status di akun media sosial terhadap apa yang terjadi sudah termasuk dedikasi yang cukup besar.

Jika digali lebih dalam sebenarnya apa yang membuat reaksi mereka berbeda saat teknologi belum berkembang dan sesaat sesudahnya. Dahulu kala mereka masih memiliki jangka waktu yang panjang untuk melakukan refleksi dalam menanggapi apa yang sedang terjadi pada lingkungan. Karena lamanya informasi yang didapat, mereka dapat dengan matang memikirkan langkah ke depan. Sedangkan saat ini manusia tidak memiliki waktu yang panjang dalam berfikir karena banyaknya informasi yang didapat. Hal tersebut membuat mereka kesusahan melakukan kontemplasi yang mendalam. Pada akhirnya kegiatan tersebut menciptakan suatu pola untuk memikirkan hal-hal yang kurang bermakna.

Jalan Menemukan Software dan Kontinuitasnya

Bukanlah salah teknologi yang berubah dengan sebegitu canggihnya, sehingga membuat manusia kehilangan kendali dalam menanganinya (gegar budaya). Sebagai khalifah seharusnya manusia memiliki cara dalam menghadapi perubahan dalam hidup. Mengetahui skala prioritas menjadi bagian utama dalam mengatasi perubahan yang begitu tiba-tiba. Dengan adanya program ini maka seseorang tidak akan mempermasalahkan sesuatu hal yang kecil dan tidak fundamental. Mengetahui batas bahwa selalu ada limit dalam menjalani kehidupan, para lelaku semestinya mengetahui presisi ilmunya dan kapasitas diri. Sehinga saat menjalankan proses yang terjadi dia tidak akan berlebihan, karena sudah memahami batasannya.

Apalah arti semua software yang baik dan bijak tersebut jika tidak diinstal dengan baik pada hardware atau kesadaran manusia itu sendiri. Sebut saja ada banyak teori tentang kebaikan dan teori dalam menyelesaikan berbagai macam permasalahan. Teori akan tetap menjadi teori, manakala tidak ada pengujian dari kebenaran teori tersebut. Maka diperlukan assesment teori atau hipotesis (bahasa kecenya: research)tersebut agar menghasilkan sebuah kebenaran korespondensi. Lantas kebenaran korespondensi inilah yang nantinya akan menjadi awal cara penginstalan program dari hipotesis yang telah teruji. Proses penginstalan terjadi dengan cara merekam jejak selama proses penelitian. Rekam jejak membawa research tersebut menjadi abadi dan dapat dipelajari untuk generasi selanjutnya. Sehingga selain sebagai inspirasi rekam jejak, juga bisa menjadi pemicu kesadaran bersama akan software tersebut.

Proses penelitian yang diikuti dengan proses perekaman tidak dapat dilakukan dalam waktu sekali atau bebrapa kali dalam hidup. Melakukan uji hipotesis harus dilakukan secara berkelanjutan. Karena hidup seperti berjalan menaiki kendaran untuk menuju suatu tempat. Kita akan berhenti ketika sampai pada tujuan yaitu kematian atau innalillahi wainna illaihirojiun. Sebelum kita benar-benar diberhentikan mobilnya oleh Sang Supir maka alangkah baiknya jika kita mengisi perjalanan dengan menanam hal-hal baik dan menyelesaikan apa yang sedang kita hadapi untuk bekal di kampung halaman nanti.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY