Terlalu indah hari-hari terakhir ini untuk dilupakan. Sekonyong-konyong tersadar pada ironi kehidupan dimana banyak hal-hal yang belum bisa dijelaskan dengan logika murahan. Bagaimana menjelaskan kondisi seseorang yang sedang sakit tetapi sejurus kemudian mampu berenang bahkan begadang malamnya? Bagaimana menjelaskan gadis-gadis mungil nan lugu yang tampaknya memiliki beragam keterbatasan tetapi tiba-tiba melesat mengalahkan ruang dan waktu, dan saat ini tersebar di muka bumi, ada yang di Jerman dan ada yang di Yogya.

Apa yang mendorongnya hingga ingin hinggap di negeri orang? Siapa yang mewajibkan hingga bersimbah peluh menguras energi, tak hanya peduli, tetapi berusaha menegakkan kewibawaan Bangsa dengan diam-diam menumbuhkan kembali akar-akar tradisi yang dipelihara leluhurnya beberapa ratus tahun silam? Masa-masa yang sudah dilupakan banyak manusia masa kini.

Gadis Mungil dan Pejuang Muda

Entah darimana dan bagaimana pengetahuan itu didapat oleh gadis-gadis mungil yang ‘kemampo‘ ini. Pengetahuan yang ia pegang adalah demi tujuan tegaknya suatu bangsa maka generasi larva-lah yang harus ‘diopeni‘ (dijaga, dirawat, dikawal, ditumbuhkembangkan optimal).

Semakin sulit memahami semua fakta dan fenomena itu dengan logika murahan. Jelas perlu membeli logika yang jauh lebih berkualitas dan tentunya bergarga mahal, harga yang pantas untuk memahami itu semuanya.

Ah, sepertinya semua itu bukan hal yang perlu aku pedulikan saat ini. Aku tak cukup memiliki bekal ilmu tafsir untuk berusaha menafsirkan itu semua. Hanya diriku sendiri yang tak pedulikan saat ini. Tetapi, aku tak bisa melepaskan itu semua dari otakku. Sekali lagi, terlalu banyak keindahan. Keindahan merupakan kebahagiaan terdalam yang dapat dirasakan tetapi belum atau bahkan takkan pernah bisa dijelaskan dengan logis. Maka, matikan saja logika tersisa agar bisa menikmati keindahan sepenuhnya.

Menyaksikan, mendengar “ketekadan” rombongan orang-orang muda, yang berselisih tipis dengan kenekatan, benar-benar mengencerkan dan mendidihkan otak yang sekian lama terdiam ‘mati’ dalam kebekuan dahsyat. Tiba-tiba aku berteriak dalam keheningan “yes, aku tak lagi tua..”

Muda menjadi tua adalah keniscayaan, tetapi tua menjadi muda adalah pilihan, gabungan antara anugrah dan kerja keras. Bergaullah dengan anak-anak muda, maka engkau akan menjadi muda. Dan bergaullah dengan orang-orang tua bila urusan dunia kau rasa sudah selesai, alias ingin cepat-cepat mati setidaknya otakmu.

Hanya sekedar info, orang hebat disana itu terlibat dengan perang-perang yang cukup intens tatkala usianya melewati 40 tahun. Itu bukan info ringan, tetapi sebuah pembangkit kesadaran bahwa perjuangan sesungguhnya baru saja dimulai. Terima kasih tak terhingga, Tuhan.

Terima kasih telah mempertemukanku dengan gadis-gadis mungil dan anak-anak muda yang tak silap pada dunia dan percaya bahwa cita-cita baik pasti terwujud. Hari ini aku akan berucap berulang-ulang pada setiap orang yang kutemui, ucapan “aku tak lagi tua..” Dan berdoa semoga tak lagi mendengar ucapan “aku tak lagi muda, sehingga tugasmu yang muda-muda adalah melanjutkan perjuangan..” ucapan yang penuh ungkapan penyesalan dan keputusasaan..

Semoga Allah senantiasa melancarkan dan memudahkan perjalanan hamba-hambaNya yang menjelajahi bumi untuk menjumput setetes ilmuNya, memelihara dan merawat bumiNya…

Penulis : Christyaji I

LEAVE A REPLY