Ketika dianalogikan sebuah taman, kehidupan itu akan tampak indah jika dihiasi dengan pepohonan dan rerumputan yang tumbuh menghijau nan subur. Diantara ragam pohon yang berhasil menembus perut bumi untuk dapat menjulang menggapai langit, ada lima jenis yang istimewa yang mampu memberikan kesejukan dalam ruang taman itu.

Kelima pohon itu bermarga, “pengetahuan para ilmuwan”, “kebijakan para pemimpin”, “pengabdian para hamba”, “kejujuran para pedagang dalam berniaga”, dan “kesetiaan para pekerja menekuni profesinya”. Jika kelimanya dirawat, dipupuk, dan disirami dengan cukup. Jika kelimanya mampu tumbuh subur memenuhi taman-taman. Maka, tidak hanya batang. Tidak hanya dahan. Tidak hanya ranting-ranting dan dedaunan, yang dapat menyejukkan setiap pasang mata yang memandang. Melainkan, manisnya buah yang yang siap dipanen akan turut menggiurkan perut-perut keroncongan. Melepaskannya dari jerat kelaparan. Menghapuskannya dari kerontang kedahagaan. Dan menyejahterakan setiap organisme yang mampu memahami keagungan kuasa Tuhan.

Tapi, tidak hanya manusia yang akan terpikat berduyun-duyun menikmati hasil dari kesuburan pepohonan itu. Hama-hama pun serasa ditarik oleh kutub magnet yang berbeda, sehingga tanpa menunggu undangan mereka datang berkawanan. Berbondong-bondong menuju taman untuk meringkus pepohonan.

Hama-hama itu tak lain berlabel “kemurkaan”, “kecurangan”, “ke-pamer-an”, “ke-dusta-an”, dan kemalasan atau penghianatan”. Jika, kehadiran kelima hama ini tak dapat teratasi dengan baik, bisa dipastikan bahwa kelima pohon tersebut perlahan akan tumbang, dan terkuburkan bersama debu-debu yang berserakan. Membusuk dan membumi, tanpa bisa mengindahkan taman-taman lagi.

Oleh karenanya, sebagai makhluk yang berakal, jangan anggurkan karunia istimewa dari Tuhan itu. Timang akal ini untuk menuntunya mengolah, menjaga, merawat, dan melindungi kelima jenis pohon tersebut. Agar tidak sampai tergerogoti oleh hama-hama yang kian berbahaya. Atau, sebelum hama-hama itu datang, persiapkan pohon-pohon itu dengan berbekal vaksin sebagai tameng kekebalannya, sehingga ketika hama-hama itu bermunculan, sang pohon masih sanggup bertengger tegak mengayomi siapapun yang berlindung di naungnya. Dan tetap mampu memproduksi buah yang siap kunyah, atau menitiskan bunga yang menebar aroma harumnya.

Atau, jika kita tak dapat menjadi diantara kelima pohon tersebut yang senantiasa menghiasi taman-taman, setidaknya kitak tidak menjadi hama-hama di atas yang dapat mencincang tata keseimbangan alam.

Malang, 15 Desember 2015

HISTISHA NR.

*) Diilhami dari dawuhnya Ustadz Ahmad Fuad Effendi dalam Konferensi Meja Tak Bundar Silatnas 2 di Magelang.

LEAVE A REPLY