Hari ini tak seperti biasa badan teramat berat untuk diajak pergi ke mana-mana. Matahari sudah meninggi  namun aku semakin tenggelam dalam balutan kain mukena, enggan beranjak. Setelah hari berat kemarin, selepas sekian lama rasa sakit tak pernah datang, akhirnya memaksa diri untuk bersyukur betapa berharganya udara di sekitar, gratis dan bahkan tak berbayar. Napas yang begitu beharga tiap helanya, dan dengan adilnya Sang Pemberi Rizki membagikannya ke tiap-tiap sel dalam tubuh kita. Lantas  hanya bisa bertanya pada diri, nikmat yang mana lagikah yang terlupakan?

 

Sekonyong-konyong membawa tubuh berpindah tempat, sampai bertanya pada diri minta apapun kali ini akan kuturuti, asal kembali tak lagi seperti ini. Mengenaskan!? Menjelang siang minuman manis, air manapun tak menyejukkan, juga tak meredakan perut yang sedari pagi mual-mual. Hanya selepas mengambil air wudhu membuat mual agak terlupakan. Ditambah penceramah di masjid at-Tarbiyah itu sedikit pula membantu.

 

Teknologi Nenek Moyang

Ceramah dhuhur yang berisikan tentang nyamannya dan sehatnya pola hidup zaman mbah-mbah kita dulu. Mulai dari penggunaan sapi, seperti traktor untuk membajak sawah. Lebih bersahabat dibanding mesin traktor berbahan bakar solar yang kemudian menghasilkan polusi, pencemaran tanah jika oli menetes, belum lagi biaya yang digunakan untuk membeli bahan bakar dan lain sebagainya. Kerbau justru lebih hemat,  tak menggunakan bahan bakar, tahi dan pipisnya pun bisa jadi pupuk. Jika lapar hanya perlu makan rumput sekitar, bila dikawinkan menghasilkan kerbau generasi baru untuk membajak. “Lantas jika traktor dikawinkan akan muncul apa? traktor baru?? Jelas tidak.” Begitu lempengnya penceramah menjelaskan kepada para jamaah.

Tak berhenti di kerbau, ternyata mbah-mbah kita dulu sudah jauh berteknologi dibandingkan sekarang. Jika perlu gula, hanya tinggal menebas pohon, mengolah getahnya jadilah gula merah. Berbeda dengan gula pasir yang dikonsumsi kebanyakan sekarang, perlu melalui beberapa tahapan dan menggunakan banyak bahan kimia agar mampu menjadi kristal putih yang ada di tiap teh atau minuman sehari-hari. Pun halnya kebutuhan minyak dan makanan kini semuanya serba plastikan. Terlihat keren memang. Tapi sekali lagi manakah yang lebih sehat sejatinya?

Jika diletakkan di kawasan hutan sekalipun kebutuhan sehari-hari sudah terpenuhi oleh alam , mbah-mbah kita dahulu mengambil kemudian mengolahnya tanpa merusak alam itu sendiri. Semua sudah disediakan, bila ingin makan, cari ubi di hutan, bila ingin minyak buah avokad salah satu yang bisa diolah jadi minyak, bila ingin ikan hanya tinggal ambil di sungai atau danau. Tercukupi oleh alam, harmonis dengan alam.

Menjadi renungan bagi diri pribadi, bahwa memang dunia ini benar-benar telah dibawa ke dunia lain bernama “kapitalis”. Semua dihargakan, ilmu pengetahuan yang seharusnya mempermudah malah digunakan ke arah yang tidak jelas, bahkan cenderung menimbulkan pembodohan. Sebuah tamparan bagi diri yang hari ini lamban bergerak.

 

Secercah Semangat

Teriknya matahari lagi-lagi enggan membuat diri cepat-cepat pulang. Rasa tidak enak kian menguatkan tuk menunda kepulangan. Teringat ajakan seorang teman untuk mengikuti pengajaran Pak Tua bersama para muridnya. Awalnya sempat ragu antara dengan kondisi badan yang tak memungkinkan dan keinginan untuk berjumpa Pak Tua. “Ah, siapa tahu dapat memperoleh wejangan dan segera sembuh” batin berpendapat.

Toh hari ini diri sudah kuat berprinsip, bila harus kehabisan gas Oksigen di kampus akan lebih elegan dari pada kehabisan di atas kasur dan tak berbuat apa-apa. Akhirnya kakipun mantap melangkah.

Sesampainya di sebuah ruangan, sepi. Belum terlihat murid Pak Tua berdatangan. Tak lama kemudian ruang kosong terisi dengan beberapa orang yang memilih kursi ternyaman untuk ditempati. Disusul kemudian Pak Tua memasuki ruangan. Sementara, diri memilih duduk di barisan paling belakang, menyelinap dan menyamar menjadi murid.

Berada diantara banyak orang yang lebih muda, atau karena merasa senior, senior yang kehilangan kekuatan, diri menjadi lebih bersemangat. Gelora keingintahuan dan semangat di wajah polos nampak pada murid-murid Pak Tua yang presentasi di waktu enaknya tidur siang. Iri hati, diri mengaku kalah dengan semangat tak kenal ruang dan waktu ini. Entah motivasi apa yang ada dibalik mereka, yang jelas telah berhasil membuat rasa mualku menghilang.

Makan?

Membaur dengan murid-murid Pak Tua, diri berusaha menutupi identitasnya, agar lebih leluasa menimba wejangan. Namun tetap saja, selalu ada saja yang menduga jika diri adalah murid lama Pak Tua. Apa boleh buat?

 

Diskusi pada hari ini tentang perilaku makan, perilaku yang tidak lepas dari kehidupan manusia. Bahkan sudah mendarah daging, hingga kebiasaan makan – ataupun- memakan makanan sudah menjadi hal lumrah bagi siapa saja. Di titik ini Pak Tua mengingatkan, bahwa sejatinya makan sendiri merupakan perilaku dasar manusia yang wajib diperhatikan. Pakai tanda seru.(!) Hal tersebut dikarenakan perilaku makan ialah cerminan dari seseorang, akan terlihat sisi manusiawi atau hewaniah yang mana lebih berperan. Selain itu juga makan juga sebagai tanda dari tingginya Adab dari makhluk yang disebut manusia.

Menurut Levi dalam Witari (1997) terdapat 5 aspek makan, diantaranya keteraturan makan, kebiasaan makan, alasan makan, jenis makanan yang dimakan, dan perkiraan terhadap kalori yang ada di dalam makanan. Kelima aspek itulah yang memengaruhi seseorang untuk makan.

Jika diringkas lebih sederhana, perilaku makan menurut Pak Tua terjadi karena 3 hal. Pertama, kebutuhan fisiologis karena tubuh memang membutuhkan asupan energi. Kedua, kebutuhan psikologis yakni karena keinginan yang bermacam-macam dari dalam diri yang mendorong seseorang untuk makan. Jadi, bukan berdasarkan kebutuhan tetapi keinginan. Ketiga, kebutuhan sosial yakni cenderung pada gaya hidup di lingkungannya. Semisal, status sosial memengaruhi seseorang untuk memilih-milih makanan dan bahkan pergi ke tempat makan atau restaurant hanya untuk memenuhi gaya hidup saja. Jadi, jelas sangat jauh dari yang namanya memenuhi kebutuhan.

Pada kasus perkembangan sendiri, memilih makanan atau bernama lain Picky Eater merupakan susah makan pada anak-anak di atas 2 tahun. Pada umumnya anak akan mulai memilih-milih makanan yang akan mereka makan. Jika terjadi pada orang dewasa sekarang ini tentu sebenarnya menjadi suatu ‘ketidakwajaran’. Hal ini dikarenakan adanya proses prefensi dan aversi yakni pengalaman dan proses belajar dari lingkunganlah yang memengaruhi seseorang untuk memilih makanan. Kemudian menjadi sebuah garis besar bahwa sebenarnya perilaku makan itu sendiri sebagian besar dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu.

Makan, keinginan vs kebutuhan?

Sebagian orang memiliki rutinitas makan tiga kali dalam sehari. Bahkan sudah membudaya di lingkungan kita sekarang ini, mengherankan lagi ada pula yang mewajibkan bahwa makan mesti 3 kali sehari. Lantas, siapakah sebenarnya pencetus ide makan 3 kali sehari ini? Apakah betul tubuh kita memerlukan makan 3 kali sehari? Mari lanjutkan membaca..

Dalam sehari rata-rata orang indonesia memerlukan sekitar 1600 sampai 2000 kalori tiap harinya. Tentu sangat kontras dengan kebutuhan kalori manusia di Negeri Paman Sam yang mencapai 3800 kalori, hampir dua kali lipat masyarakat Indonesia. Tentu jangan ditanya pula masalah obesitas, sebagai warga negara Indonesia patutnya bersyukur kasus obesitas atau kelebihan badan di negeri ini masih sangat jarang dibanding dengan Negeri Paman Sam.

Sebenarnya hanya dengan 2000 kalori sudah banyak aktifitas yang dilakukan. Namun kembali apakah sejatinya perilaku rutinan makan tiga kali sehari dibutuhkan? Faktanya ada saja yang sudah terjebak pada kebiasaan satu ini. Kebanyakan, orang yang sudah memiliki rutinitas makan atau jam makan teratur bila ia tak memenuhi jam makan tersebut akan mengalami serangan malaise yakni semacam gejala pusing, lemah, tak bergairah yang disebabkan tidak makan. Serangan tersebut terjadi karena adanya ekspektasi makan pada makanan.

Perlu digarisbawahi, bahwa masyakarat kini seolah lupa pada prinsip dan hakikat atau manfaat makan sebenarnya. Kebutuhan akan makan fardu dipenuhi manakala tubuh kita mengalami defisit energi. Sedang, Ekspektasi makan ialah harapan pada makanan itu sendiri sebagai salah satu alat pemuas dan sumber kesenangan. Jadi, perilaku makan sekarang ini lebih dipengaruhi oleh ekspektasi makan dibandingkan karena defisit atau kekurangan energi. Dengan kata lain, perilaku makan kini sebagai pemenuhan keinginan dibandingkan sebagai pemenuhan kebutuhan tubuh.

 

 

Lapar vs Kelaparan

Pak tua kembali menjelaskan bahwa lapar muncul karena adanya ekspektasi makan pada makanan yang ada di hadapan kita. Sedang kelaparan merupakan kondisi berbeda lainnya dimana tubuh benar-benar berada pada kondisi kurang energi sehigga membutuhkan makanan. Kemudian Pak Tua lantas menggoda murid-muridnya dengan pertanyaan menggelitik, “Manakah yang lebih berbahaya lapar atau kelaparan?” “Kelaparan!,” jawab semua murid serentak. Pak Tua lantas tersenyum sembari meneruskan penjelasannya.

Lapar sejatinya merupakan peristiwa psikologis, yang artinya muncul dari keadaan psikis seseorang. Lain halnya dengan kelaparan yang merupakan kondisi fisiologis di mana tubuh memang benar membutuhkan asupan segera. Sehingga bagaimana sebenarnya cara untuk mengatasi rasa lapar? Mudah saja, yakni dengan cara mengubah atau memanipulasi ekspektasi makan seorang. Atau jika dalam ranah islam sendiri dikenal dengan puasa. Bahwa dalam keadaan apapun makanan yang dimasukkan dalam mulut hukumnya haram karena belum memasuki waktu magrib atau berbuka. Ada proses psikologis dalam puasa yakni terletak dari adanya persepsi atau proses kognitif yang mencegah diri untuk makan dalam hal lain yaitu niat berpuasa.

Secara tidak langsung puasa ialah aktifitas mengontrol diri dan mengasah persepsi lebih dalam. Bagaimanapun ada dua kemungkinan jika seseorang disajikan makanan dihadapannya, kemungkinan pertama ialah memakan dan kemungkinan kedua ialah tidak memakan. Hanya manusialah yang diberi kuasa dalam memilih makan atau tidak makan.

Kemudian saat berpuasa, kita diajarkan untuk berpersepsi bahwa segala sesuatu tidak boleh dimakan sebelum tiba waktunya berbuka. Persepsi inilah yang mengatur manusia untuk mengendalikan nafsu makannya, dengan kata lain mengatur dirinya, ada proses kognitif yang terlibat. Sehingga dapat dikatakan bahwa puasa juga membantu diri memperkuat kesadaran.

Sungguh diakhir, diri yang semula tak berdaya sontak mendapat suntikan semangat setelah mendengar apa yang disampaikan Pak Tua dan murid-muridnya. Dalam hati berguman, “Benar.. Memanglah benar.. luar biasa dan hanyalah manusia yang diberi keistimewaan berupa anugerah akal untuk mengendalikan dirinya sendiri bahkan lingkungannya.” Apapun yang ada di diri manusia tercipta untuk mengendalikan bukan dikendalikan. Sehingga betullah jika manusia disebut sebagai khalifatullah fil ard atau sang pengendali bumi. Maka haram bagi diri sendiri untuk kalah, baik oleh kahanan atau lingkungan maupun dengan nafsu diri.

Wallahu a’lam bis shawab.

Penulis : Nadya Fadillah

LEAVE A REPLY