Suatu ketika lidah ini pernah keselip, nyeplos mengomentari perbedaan anak-anak zaman sekarang dengan zaman saya dulu. Entah hanya penilaian subyektif saya saja, atau memang begitu kenyataannya. Yang jelas, mata ini melihat bahwa anak-anak sekarang lebih ‘manja’ dari teman-teman sebaya saya dulu saat seusia mereka. Memang ini tidak bisa dipukul rata, karena memang semua anak tidaklah sama. Mungkin hanya ketepatan saya saja yang tak jarang dipertemukan dengan anak-anak semacam ini. Sering mengeluh, bilang tidak bisa sebelum mencoba melakukan, dan beberapa contoh potret laku yang lainnya.

“Generasimu juga begitu,” begitu komentar Bapak Guru kala itu. Menurut beliau, generasi saya pun juga mengalami penurunan dari segi ‘ketahanan’ tersebut. Generasi saya juga cenderung lebih ‘ngalem’ dan kurang tanggap dengan lingkungan sekitar dibanding generasi Bapak Guru, generasi sebelum-sebelum saya.

Kenyamanan yang Merenggut Ketangguhan

Wah, ternyata bukan saya saja yang merasakannya. Juga bukan generasi ‘adik’ saya saja yang menurun ketahanannya. Generasi saya pun juga begitu, tidak lebih kuat dari generasi sebelumnya.

Kemudian saya pun menerka-nerka, mencoba mengira apa gerangan yang membuat generasi-generasi ini seolah menurun dibandingkan generasi sebelumnya. Pandangan ini pun jatuh pada kenyamanan demi kenyamanan yang disuguhkan. Alat-alat teknologi yang kian memanjakan seolah sedikit banyak turut memberikan sumbangsih pada kondisi generasi saat ini.

Tekknologi-teknologi yang memudahkan pekerjaan dan sudah dikenalkan kepada anak-anak sejak dini, atau kita dan siapapun saja yang sudah ‘telanjur’ dikenalkan dengan tenaga dari luar ini, jika tidak didampingi secara hati-hati terkadang bisa membuat kita tergantung pada teknologi tersebut. Jika terus saja ini dibiarkan, selalu melakukan apapun saja dengan cara yang instan, memilih cara yang gampang dengan bantuan alat teknologi tersebut, bukan tidak mungkin kita pun akan lupa jika kita bisa melakukannya tanpa bantuan alat teknologi tersebut.

Menanak nasi, misalnya. Dulu, orangtua kita, mbah-mbah kita masih sangat banyak yang menanak nasi di atas tungku. Akan tetapi, coba kita lihat sekarang, hampir setiap rumah sudah menggunakan alat khusus untuk menanak nasi. Tinggal dicolokkan saja, nanti sudah masak sendiri juga. Bisa jadi jika ini terus begini, anak-anak kita nanti tidak akan tahu kalau ternyata menanak nasi bisa dilakukan tanpa alat ini. Atau, kalaupun masih tahu, mungkin anak-anak kita akan menganggap dan merasa kesusahan jika harus menanak nasi dengan cara tradisional. Memasak di atas tungku api.

Selain itu, kenyamanan demi kenyamanan yang disuguhkan ini, jika kita tidak hati-hati dan waspada juga bisa menumpulkan rasa kepekaan kita. Dengan bantuan alat-alat teknologi dalam melakoni kegiatan sehari-hari, membuat kita sudah merasa cukup. Kita merasa tidak memerlukan bantuan orang lain lagi. Hingga semakin terasahlah ego dan sikap individu yang ada dalam diri.

Kembali pada Diri

Memang ini juga tidak bisa disalahkan sepenuhnya begitu saja. Karena memang sudah tiba masanya semakin menjamurnya alat-alat teknologi di sekitar kita. Hanya saja, yang perlu digarisbawahi adalah bagaimana agar kita tidak bergantung padanya. Hingga ada dan tiadanya alat-alat ini pun tidak terlalu berpengaruh dalam hidup kita.

Yang perlu diingat kembali, mbah-mbah kita dulu nyatanya juga bisa bertahan hidup, bisa melakukan hal-hal istimewa tanpa alat-alat ini. Mbah-mbah kita sudah bisa membangun megahnya borobudur, meski alat-alat pembangunannya belum seperti saat ini. Mbah-mbah kita juga sudah bisa berkomunikasi jarak jauh, meski tanpa alat-alat teknologi komunikasi seperti yang punya kita ini. Mbah-mbah kita juga sudah terbiasa melakukan perjalanan jauh, meski belum ada pesawat terbang seperti yang sering kita lihat ini. Artinya, sebenarnya kita pun juga masih menyimpan bibit-bibit kuat dan hebat itu di dalam diri kita.

Selain itu, tak ada salahnya juga kita mengingat-ingat kembali. Bahwa Tuhan menghadirkan kita di dunia dengan membawa tugas khusus. Tugas yang sangat istimewa. Ya, kita dilahirkan di dunia tidak lain dan tidak bukan agar bisa menjadi khalifah di muka bumi. Menjadi wakil, pengganti Tuhan dalam mengelola bumi dan seisinya.

Lagi-lagi, tugas inipun seolah sudah membawa pesan tersendiri. Bukankah sudah berulang kali Dia pun menegaskan, bahwa Dia tidak akan memberikan tugas di luar batas kemampuan kita. Artinya, jika Dia sudah mempercayakan tugas berat ini kepada kita, sudah barang tentu Dia pun telah menyiapkan sesuatu di dalam diri kita. Sesuatu yang memang sudah disiapkan untuk membantu kita melaksanakan tugas demi tugas kita di dunia.

Dengan kata lain, sangat tidak mungkin jika Tuhan memberikan tugas berat kepada kita, tapi kita dilemahkan begitu saja. Karenanya, sudah menjadi tugas kitalah sekarang untuk mencoba belajar membaca diri. Kembali melihat diri kita sendiri. Apa gerangan yang telah dititipkan Tuhan dalam diri ini. Hingga bisa kita temukan sesuatu dalam diri yang memang sudah disiapkan untuk membantu melaksanakan amanah yang diberikan kepada kita ini.

Man ‘arafa nafsahu, faqad ‘arafa rabbahu. Siapa yang mengenal dirinya, akan mengenal Tuhannya. Sedang makna rabbun di sini adalah Tuhan sebagai pengayom, sebagai pendidik. Ada yang berpendapat, ungkapan tersebut bisa juga diartikan bahwa siapa yang telah mengenal dirinya, ia telah mengetahui kelebihan dan kekurangannya, ia akan bisa menggiring dan mengelola kelebihan-kelebihan yang dititipkan dalam dirinya tersebut denngan baik. Ia akan bisa memaksimalkan fadhilah-fadhilah dalam dirinya tersebut guna melaksanakan tugasnya sebagai wakil dan pengganti Tuhan di dunia ini. Dan tentunya, lagi-lagi ini tidak bisa diraih jika hanya dengan bertopang dagu saja.     

Hilwin Nisa’

LEAVE A REPLY