Ikhlas Yang Lillah

Saat seseorang mampu untuk bersyukur  dan ikhlas atas apa yang telah ia miliki.

Tentu saja, ia akan mampu memasrahkan segala hal apapun yang berada di luar kuasanya.

 

Ikhlas adalah sebuah kata yang memang mudah diucapkan namun sulit untuk dilakukan. Ikhlas ialah, menghendaki keridhaanNya dalam segala hal yang kita lakukan, menjauhkan dari sekadar urusan duniawi. Tidak ada yang melatarbelakangi suatu amal, kecuali karenaNya dan demi hari akhirat.

Berbicara tentang ikhlas tidak semua orang mampu untuk melakukannya, maka perlulah kita belajar pada seseorang. Satu sosok yang dalam menjalankan pekerjaannya tidak pernah menuntut, yang ia tau hanya bekerja dengan mengerahkan semua tenaganya, sisanya berpasrah pada sang pemberi rezeki, dengan bermodalkan mentransaksikan keikhlasannya. Sosok yang sedang kita bicarakan ini adalah sang bapak tani.

Kenapa petani ?

Karena petani adalah profesi yang mengharuskan seseorang memiliki keikhlasan tinggi, bagaimana tidak? Hanya dengan bermodalkan keyakinan dan harapan pada saatnya nanti akan dapat menikmati hasil dari apa yang dia kerjakan saat ini. Bapak tani melakukan semua pekerjaannya dengan ikhlas dan penuh kesabaran. Bahkan untuk dapat menikmati hasil dari pekerjaannya beliau harus bersabar sampai pada saat panen tiba. Berbeda sekali dengan pekerjaan lain yang setiap bekerja akan mendapatkan upahnya. Untuk mendapatkan hasil panen yang bagus beliau juga harus berjuang keras dari mulai mengolahan tanah, pemilihan bibit, melakukan persemaian, menanam padi, penyiangan lahan, pemupukan, baru akhirnya bapak tani bisa mensyukuri masa panen.

Ada hal yang  membuat diri ini iri pada sosoknya, karena bapak tani tidak pernah risau apakah nanti akan mendapatkan hasil yang sesuai dengan apa yang telah dikeluarkan, yang ada dalam benaknya hanya sekadar bekerja dan bertirakat. Ia mampu mempercayakan harapannya kepada sang pemberi rezeki walaupun mereka tahu atas apa yang dikerjakan belum tentu menghasilkan sesuai dengan apa yang diinginkan dan tidak jarang mereka juga akan mengalami kekecewaan bahwa ternyata tanaman yang sudah dirawat dengan letih nyatanya seringkali tidak bisa dipanen.

Akupun pernah dibuat kagum oleh nasihat si Mbah, yang memang beliau adalah seorang petani tulen. Pesan tersebut masih teringat sampai saat ini, kurang lebih seperti ini. ”Ndok apapun nanti pekerjaanmu, jangan bekerja keras karena adanya rasa kekhawatiran kamu akan miskin. Jangan bekerja keras karena takut kita tidak akan hidup enak di masa depan. Namun bekerja keraslah karena percaya bahwa Tuhan akan memberikan berkat pada apa yang kita kerjakan. Keyakinan bahwa Allah akan selalu memberikan hal terbaik untuk yang telah berusaha dengan baik”

 

Nusantaraku Pernah Makmur

Beberapa tahun silam Nusantara ini pernah berada pada masa keemasan, di mana pada masa itu Nusantara mampu secara mandiri untuk mengadakan sendiri kebutuhan-kebutuhan kesehariannya, semua serba berkecukupan dan makmur. Jadi tidak perlulah kita membeli kebutuhan-kebutuhan dari negara-negara lain. Persediaan pangan yang dimiliki melimpah ruah cukup untuk semua kebutuhan rakyat, swasembada. Pada masa itu semua rakyat indonesia mengalami peningkatan yang pesat pada sektor pertanian

Namun, apa yang terjadi hari ini telah berbalik, rakyat kita semakin banyak yang kesusahan untuk bisa mencukupi kebutuhannya, bahkan untuk sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada seorang yang mengatakan bahwa saat ini rakyat yang kaya makin kaya dan yang miskin malah makin miskin.

Usut punya usut hal ini terjadi, karena saat ini sudah jarang sekali orang yang mau bekerja disektor pertanian, sudah semakin sedikit orang yang mau bekerja sebagai petani karena anggapan bahwa pekerjaan ini berat dan tidak menghasilkan banyak uang. Kebanyakan orang lebih senang bekerja di sektor industri yang sudah pasti mendapatkan uang dan tidak perlu bekerja dari pagi sampai menjelang petang.

Mari coba kita renungkan dan berfikir sedikit ke belakang, sesungguhnya petani adalah pekerjaan yang sangat mulia. Hanya petanilah yang bisa menyediakan kebutuhan hidup orang banyak, tidak hanya berpikir untuk dirinya sendiri. Petani juga lah tembat bergantungnya dalam memenuhi kebutuhan pokok dan melangsungkan kehidupan.

Perlu kita tanamkan dalam hati bahwa kemuliaan adalah saat mengikutsertakan transaksi ikhlas kepada-Nya atas segala yang diperjuangkan, bukan bertransaksi hanya untuk kepentingan dunia saja. Semoga keikhlasan jiwa kian mendekat.  

 

Nyuhani Prasasti

LEAVE A REPLY