Gadis itu termenung. Dalam sedu sesal kekecewaan, subuh ini dia menangis. Dia mengulang segalanya, tentang Tuhan, Takdir, dan Waktu.

 “Sebenarnya apa yang dicari oleh waktu? Hingga ia harus menerima segala bualan dan tumpah ruah kesal dari orang orang yang merasa gagal.

Seperti pagi dimana kau terbangun di ranjang dan menyadari bahwa kita tidak melakukan apa apa. Kita tidak pernah mencapai apa apa. Lalu waktu di panggil kembali di sesali dan di tangisi. Ia di anggap yang paling berharga saat ini. Meski kita semua tahu satuan waktu bisa di hitung dalam jajaran angka tapi ruamnya pada masa lalu tak akan pernah kembali.

“Waktu itu jarak,” Kata Carl Sagan dalam sebuah dialog dengan seorang anal kecil yang bertanya padanya “apakah Tuhan itu ada?.”

Waktu itu jarak, waktu itu ruang, waktu menunjukkan sejauh mana kapasitas kita, sejauh mana ruang yang dapat kita gapai dalam dirinya. Ini hanya tentang dirimu nak.. Tak ada waktu dan Ruang yang kau sediakan bagi Tuhan sesungguhnya. Ia hanya kau ciptakan ketika kau sendirian. Ketika kau terdesak dan tersedak dalam ketakutan. Di sana naluri spiritualmu mulai mengambil alih hal hal yang tak bisa kau kendalikan secara aktual.  Di sana kau ciptakan Tuhan dengan tafsirmu sendiri dengan bentuk yang muncul dari kepalamu sendiri. Lalu kau akan bertikai dengan saudaramu perihal Tuhan, kau akan membencinya, menistakannya menempatkannya dalam golongan orang orang yang pantas di neraka. Karena Tuhan yang di yakini saudaramu memiliki bentuk yang berbeda denganmu. Begitukah caramu menghabiskan waktu?

Tidak kau mungkin tak pernah menistakan temanmu atas tafsirannya tentang Tuhan, terkadang kau malah Menistakan Tuhanmu atas tafsiranmu akan dirinya. Kau meminta padanya, ia memberimu segalanya. Lalu kau mencapakannya karena doamu yang lalu telah kadaluarsa. Karena segala hal yang kau upayakan dalam lantunan doa tidak kau inginkan lagi. Maka Tuhan pun kau hardik lagi, kau kira ia mencintai dengan pilih kasih. Seperti kekasih yang ditinggalkan Tuhan pun akan tersenyum simpul. Kau menginginkan bintang, namun datang pada mu lautantelunjukmu mengarah pada lautan. Seperti kau menginginkan keberhasilan, tapi langkah kakimu menunda untuk berjalan. Siapa kah yang akan mengantarmu di Alam Materi? Bukankah Tuhan itu tak hanya ada dalam lantunan mantra mantra spiritual yang kau lantukan. Namun Ia juga aktual dalam gerak dari tubuhmu sendiri.

Lalu kau akan kembali tertegun di ranjangmu lagi suatu pagi. Dan kau kembali menyesali “ ah andai saja waktuku kugunakan lebih baik lagi, mungkin aku sudah sampai disini”. Lagi lagi kau merindukan waktu dalam gerakmu. Seolah olah kemarin waktu itu tidak benar benar datang padamu. Seolah olah Tuhan tidak pernah menyayangimu. Tapi apakah benar membiarkan waktu berlalu begitu saja melewatimu. Atau Ia sungguh tak sudi menegurmu yang hanya diam dalam gerakmu. Dan Tuhan pun akan tertawa dalam Khilafmu. Ia tak akan semarah itu padamu, ia mungkin hanya akan tersenyum dan berkata “Hambaku yang satu ini, bukan kah sudah kuberi waktu dan kesehatan dalam umurnya, kusegerakan upaya upayanya. Lalu ketika tak di inginkanya lagi semua itu dia meratap karena merasa aku mencampakannya atas hal hal yang tak lagi ia inginkan”

Percayalah tak ada marah dalam diri Tuhan. Sang maha Pelindung akan selalu merangkul hamba yang berserah pasrah meski hanya di alam bawah sadarnya. Waktu tak pernah benar benar berlalu. Iya hanya menunjukkan ruang berlalu dalam satuan yang mampu kau hitung. Waktu mu adalah milikmu,  dia bersamamu kemarin dengan segala upayamu. Upaya yang kini tak kau inginkan lagi, upaya yang kini kau anggap sia sia dan tidak membantu masa depanmu. Upaya upaya yang sebnarnya mengajarimu bahwa Tuhan ada. Ia selalu ada. Ia menyayangimu, ia selalu menyayangimu, bahkan dalam teguran yang kau tafsirkan sebagai kegagalan. Bahkan kasih sayang yang kau anggap sebagai azzab. Dia masih menganggapmu ciptaannya. Dia tidak membiyarkanmu terombang ambing dan tercerai berai dalam dalam alam materi, tanpa takdir dan kuasanya. Bahkan dalam hal terjahat yang pernah kau lakukan, Tuhan masih menganggapmu ciptaanya.”

Gadis itu pun berhenti berkata pada dirinya sendiri. Baginya sudah cukup ia meyakinkan dirinya bahwa Tuhan masih mencintainya. Ia hanya manusia. Ia tetap akan merasa sakit saat sesuatu tak terjadi sesuai keinginanya. Dia tetap terluka saat ia merasa doanya tidak terkabul. Jauh dari keyakinan dan tafsirnya akan keadaan, dia tetap merasa Tuhan mengkhianatinya. Meski Tuhan tidak pernah berkhianat.

 Maryam Jameelah

LEAVE A REPLY