Gerimis yang mengundang tidak menghalangi sekelompok pemuda untuk merindu. Ya merindu oase keilmuan. Sore itu (10/2) sekelompak pemuda dan pemudi duduk bersama melingkar. Tidak ada yang istimewa dari mereka hanya saja dari raut wajah bisa dilihat semangat mereka untuk mendengarkan Pak Tua berbicara.

Tepatnya beberapa tahun silam di negeri bernama Indonesia, semasa Pak Tua kecil. Jaman itu jaman sulit, karena pemuda tidaklah semerdeka sekarang. Memang meskipun jaman itu telah merdeka namun kemerdekaan masih di bawah tangan seseorang. Ketidakmerdekaan itu menindas kebebasan warganya dalam berpendapat. Kata Pak Tua di jaman itu sulit sekali melakukan diskusi seperti yang dilakukan sekelompok pemuda itu. Jangankan diskusi, bila ada beberapa orang berkumpul saja bisa-bisa dilaporkan pada pihak yang berwenang. Singkat saja, jaman itu jamannya saling curiga. Adalah sebuah keberuntungan di saat sekarang para pemuda sudah merdeka. Bebas melakukan pembicaraan, diskusi, maupun saling berbagi perngetahuan.

Sekelompok pemuda itu nampaknya menikmati cerita dari Pak Tua. Di jaman yang kian edan, akan susah juga hidup bila tidak ikut-ikutan edan! Seperti halnya cepatnya kita dalam mendapat pesan dan mengirim pesan. Satu peristiwa secara mudah tersebar dengan dunia baru yang disebut dunia maya, yang sebutan kerennya medsos.

Pak Tua berpesan pada sekelompok pemuda itu dalam menghadapi jaman edan sekarang. Beliau mengatakan ada tiga jenis makanan yang ada di sekitar kita. Yakni makanan mentah, setengah matang, dan makanan yang sudah matang. Makanan yang belum diolah tidak akan bisa dimakan itulah makanan mentah. Makanan yang sudah diolah akan tetapi belum  bisa dimakan itulah makanan setengah matang. Sedangkan makanan yang sudah diolah, matang keseluruhan, dan siap disantap itulah makanan matang.

Dalam ber-medsos pun demikian, apalagi menerima dan memahami informasi. Ada hal yang perlu diolah dari awal, diolah lagi, atau tinggal diterima. Lebih-lebih Pak tua menekankan pada saat belajar atau berdiskusi misalnya. Kita perlu membedakan mana yang makanan mentah, mana yang setangah matang, dan makanan yang siap santap.  Dengan kata lain informasi yang sudah jelas tidak lagi perlu dijelaskan, dibahas, atau diperdebatkan, dan apa yang belum jelas jangan ditinggalkan atau tak diperhatikan.

Waba’du, Pak Tua meminta para pemuda itu untuk senantiasa istiqomah pada apa yang sudah dibangun dan memerhatikan sekelilingnya. Wa’allahu a’lam.

Penulis Bima Arun #DongengAnakNusantara
Nadya Fadillah

LEAVE A REPLY