“Cahaya yang menjadikan pagi semakin sejuk dan malam makin hangat. Meski mungkin cahayanya tak seterang benderang mentari, terlebih lagi ribuan bintang yang bercecer di hamparan langit. Meski hanya sebatas cahaya kecil, namun setiap ketulusan selalu menarik bagi hati yang sedang kehausan, dahaga akan cahaya. Sesuatu yang datang dari hati selalu bisa dipahami seseorang yang memiliki hati. Meski benderang, cahaya mentari enggan menembus malam, pun kilauan para bintang tak jua menemani siang. Hingga tiga cahaya itu hadir seolah bersinergi dengan mentari mengantarkan cahayanya menembus malam tuk menghangatkan. Juga seolah bersinergi dengan bintang-bintang agar tersampaikan kilauan indah cahayanya menjaga kesejukan di siang hari. Dan tiga cahaya kecil itu, kini terbukti mampu menerangi sekaligus menyingkap gerhana yang menyelimuti semesta buana”

Tak jarang anugerah bisa diperjalankan, lewat begitu saja tanpa jejak syukur yang terungkap. Juga dengan nikmat ruang dan waktu yang nyawiji berupa sebuah kesempatan, acap kali hilang begitu saja luput dari pandangan. Padahal, sudah bukan rahasia lagi bahwa kesempatan tak akan pernah terulang. Sekalipun itu masih dalam satu ruang dan bersama aktor-aktor yang sama. Komponen-komponen itu masih belum cukup untuk membangun kesempatan yang sama, kesempatan yang sudah terlewat. Ada yang hilang dari suatu kesatuan, dan yang hilang itu tak akan mungkin bisa terulang di lain kesempatan. Ya, waktu. Dialah yang telah konsisten tetap terus maju dan tak sudi sedetik pun mundur ke belakang.

Belum lagi dengan kemungkinan bergantinya aktor-aktor yang ditemui dalam setiap pergantian waktu. Bisa jadi detik ini kita diperjalankan untuk bertemu dengan si A dengan suatu keadaan tertentu. Akan tetapi, pernahkah terlintas di benak tentang sebuah tanya, bisakah dapat mengulangi kejadian yang sama persis di waktu yang berbeda? Nyatanya, tidak ada yang menjamin itu akan terjadi kembali. Sekali lagi, bukti nyata bahwa waktu tak pernah menyediakan dirinya untuk diajak kompromi, waktu konsisten tetap maju. Dan alur cerita pun masih tetap berlanjut, the show must go on beriringan dengan waktu yang juga belum berhenti. Waktu selalu patuh mengikuti titah Tuhan.

Tak terkecuali dengan detik-detik saat ini. Detik di mana pengembaraan dan pencarian akan secercah cahaya pada akhirnya mengantarkan langkah berjumpa mengenal para pembawa cahaya. Para pembawa cahaya kecil yang begitu halus dan teramat tulus selalu membersamai. Menuntun dikala tertatih, merangkul dikala jatuh dan membagi do’a atas keselamatan masing-masing diri, keluarga hingga luasnya semesta, kuu anfusakum wa ahliikum naaro.

Dianugerahi kesempatan yang teramat agung, kesempatan untuk bisa ngangsu kawruh pada tiga cahaya kecil. Seolah menjadi bagian dari anugerah paling indah dari Sang Maha Indah. Hingga perlahan diri ini mulai menyadari dan memahami, bahwa beliau adalah tiga titik saling terhubung. Sebagaimana tiga titik pada segitiga sama sisi yang mengelilingiku, tiga titik yang juga mengelilingi seluruh Maiyah Nusantara. Tiga titik untuk anak cucu Jamaah Maiyah. Dan perlahan mulai belajar membaca, petunjuk satu per satu menyibak jalan menuju satu titik Yang Sejati, titik puncak yang berimpit pada Sang Maha Sejati.

“..hamba celaka hamba durhaka tiada terkira,
dimanakah hamba bersembunyi dari murka-Mu,
selain dalam tak terbatasnya-Mu” (CNKK)

Bangun Limas Segitiga Cinta

Dalam dunia matematika, kita telah diperkenalkan dengan sosok yang bernama segitiga. Sebuah bangun dengan tiga titik yang saling terhubung satu sama lain. Siapa pun bisa menemukan tiga titik yang menjadi dasar. Tiga titik tersebut terletak pada jarak yang sama. Hingga terhubunglah ketiga titik tersebut menjadi sebuah segitiga yang ketiga sisinya sama.

Sementara itu, dalam ilmu fisika dijelaskan bahwa suatu materi jika diputar terus menerus secara cepat bisa menjadi cahaya. Cahaya tidak pernah tertarik oleh gravitasi bumi. Sehingga dia bebas bergerak kemana saja, termasuk melesat ke atas. Artinya, jika seseorang masih tetap bersikeras mendekat pada ketiga titik tadi, tak pernah berhenti berputar mengelilingi, maka ia pun berpotensi melesat ke atas pada suatu titik puncak.

Hingga pada akhirnya ia berada di dalam sekeliling tiga titik dasar dan satu titik puncak. Suatu bangun ruang yang mana antar ke empat titiknya mempunyai jarak yang sama dan saling terhubung. Dan bangun ruang itulah yang kemudian disebut limas segitiga sama sisi. Keistimewaan utama yang perlu diingat, bangun ruang limas segitiga sama sisi tersebut tidak akan pernah terbalik. Meskipun digulingkan berkali-kali, meski 50 tahun lamanya, limas akan tetap tegak berdiri. Dibanting berapa kalipun, limas sama sisi tetap memiliki tiga titik alas dan satu titik puncak. Sisi yang sama, saling menyeimbangkan.

Katakanlah ketiga titik tersebut merupakan dzat-dzat Maiyah, Cak Fuad, Cak Nun dan Syekh Nursamad Kamba yang tak pernah bosan menebar cinta. Cinta akan kasih sayang Rasulullah dan rahmat Allah. Maka, siapa saja sebenarnya bisa menjadikan ketiga titik tersebut sebagai dasar untuk mendekat pada Yang Puncak. Siapapunpun juga, tidak terkecuali kita. Kalau saja sebagai anak cucunya kita bisa selalu terhubung dengan beliau-beliau yang kita percaya telah dititipi sebagian dari cahaya-Nya, insya Allah kita bisa terbawa melesat ke titik puncak. Menuju satu titik Yang Sejati. Ya, keistiqamahan dan kesabaran yang terjaga terus menerus seolah membentuk garis imajiner yang kian lama kian tercerap oleh mata ini. Dan makin lama pula, semakin nampak seperti segitiga dengan titik pusat yang melesat ke atas, ke titik Yang Sejati. Sekali lagi, kalau saja kita memilih konsisten, istiqamah untuk mempertahankan koordinat kita dengan beliau-beliau, maka hal ini bisa berpotensi menjadi kendaraan yang dahsyat untuk menuju dan bergabung ke Yang Maha Sejati. Dan akan selalu bersama dengan Yang Sejati.

Jika limas segitiga tersebut tak pernah terbalik meski telah coba digulingkan berkali-kali, begitu juga dengan limas segitiga cinta. Jika saja kita mampu mempertahankan posisi kedekatan dalam sebuah bangun ruang limas segitiga cinta. Selalu mencoba terhubung dengan ketiga dzat Maiyah yang penuh cinta, sebagai kendaraan dahsyat untuk menuju Sang Maha Cinta, maka bukan perkara tidak mungkin kita juga akan tetap ‘berdiri tegak’ meski telah dicoba untuk digulingkan berkali-kali. Karena kita telah berpijak pada Yang Sejati. Dan tiadalah ada pijakan yang lebih kuat selain pijakan pada Yang Sejati.

Shining as Thanksgiving

Betapa beruntungnya kita yang telah dan masih diberi kesempatan untuk menemui momen yang istimewa ini. Sungguh, tak ada alasan bagi kita untuk tidak mensyukuri kesempatan langka ini. Diperjalankan untuk bertemu pada suatu ruang dan waktu dengan beliau-beliau, aktor-aktor yang telah dititipi sebagian cahaya Ilahi. Andai saja kita lahir 50 tahun lebih awal atau 100 tahun lebih akhir, belum tentu kita menemukan momen di mana ada sosok yang begitu tulus ikhlas menjadi perantara untuk membagikan ilmu untuk mendekat pada Yang Sejati.

Karenanya, sudah seharusnya dan sepantasnya kita mensyukuri anugerah terindah berupa kesempatan untuk bisa terhubung dengan beliau-beliau. Sebisa mungkin memaksimalkan kesempatan ini untuk menyerap ilmu yang bertebaran sebanyak-banyaknya. Memaksimalkan kesempatan berada dalam suatu bangun ruang limas segitiga cinta. Tentu, muara tujuannya tidak lain dan tidak bukan adalah menuju dan bergabung dengan Yang Sejati.

Dan syukur itu masih belum cukup sampai di sini. Secara tidak langsung, kita pun juga telah diamanahi untuk turut memancarkan apa yang telah diserap. Turut mengajak yang lain merasakan betapa indahnya anugerah limas segitiga cinta. Agar limas segitiga cinta itu bukan hanya milik pribadi, tapi juga milik bersama. Agar kebahagiaan yang sejati itu bukan hanya dinikmati sendiri melainkan juga untuk dibagi. Milik dan untuk kita semua. Bersama menuju kemenangan dan kebahagiaan yang sesungguhnya. Bersama nyawiji dengan Sang Maha Cinta.

Tak pernah bosan diri ini merengek pada Sang Maha Cinta. Jika memang limas segitiga cinta ini benar-benar mengundang rahman rahim-Nya, semoga limas segitiga cinta ini akan tetap terjaga. Karena bagaimanapun, tak ada bahagia yang lebih membahagiakan selain selalu bersama dengan Sang Maha Cinta. Tak ada takut yang lebih menakutkan selain ‘hukuman’ jarak yang menjauhkan diri dari Sang Maha Cinta. Dan tak ada siksa yang lebih menyiksa selain tercabutnya cinta dari Sang Maha Cinta. Sekali lagi, semoga selalu terjaga untuk bersama dan menuju-Nya.

Penulis : Hilwin Nisa’

LEAVE A REPLY