Abdi kesatria

Abdi kesatria

0
601

 

Ayam jantan berkokok disusul dengan embun pagi yang menyebar menemani mereka para pencari cahaya. Semoga saja masih ada kesatria-kesatria yang bertapa saat ini. Sehingga negara ini benar-benar tak kehilangan personalitasnya. Zaman berubah semakin cepat dan merata. Penyemarataan semakin dibombardirkan dimana-dimana, sehingga aku tak kenal lagi aku yang beda dengan ia juga mereka. Berbalik arah menjadi bagaimana  menjadikan diri sama seperti mereka yang terlihat indah.  Kebahagiaan semu itu terlihat sangat melenakan. Perlahan namun pasti orang-orang kehilangan keyakinan terhadap potensi dirinya.

Terbalut dengan indah dalam Serat Jawa (pesan) para nenek moyang. Yang merupakan warisan terhadap kita sebagai anak cucu. Bangsa kita beda dengan bangsa lain, tentu personalitas beda pula, sehingga tak perlu menjadi sama seperti mereka. Kita mungkin memang manusia yang ngalah tapi bukan berarti kalah. Tapi menjadi manusia penampung segala dimensi dengan sikap andhap asor yang dibawa sejak lahir sebagai keturunan Jawa. Tidak mudah memang menjadi manusia penampung segala dimensi, setidaknya ketika kita lahir, kita sudah mendapat ciri yang sama dari gen nenek moyang sehingga cukup melatihnya saja.

Gemerlap dunia pekerjaan menyilaukan mata. Ketika bersekolah, cita-cita dilayangkan setinggi mungkin. Hendak benar-benar menjadi orang sukses,  Sukses yang seperti apa? Fenomena yang sering terjadi adalah sukses diartikan punya mobil, kerja di kantor, memiliki banyak uang. Bukankah uang adalah alat bukan tujuan. Perjelas tujuanmu hidup serta perinci kebutuhanmu. Salah satu pemenuhan kebutuhanmu akan dibantu dengan uang untuk bertransaksi. Perlunya pemahanan terhadap peran dan posisi uang.

Harusnya pelayanan publik dalam bidang pendidikan, kesehatan, sosial adalah ladang untuk mengabdi. Mendekat pada Cinta-Nya. Tapi, fenomena yang terjadi itu malah menjadikan pelayanan publik ajang cari uang saja. Tanpa disadari kemudian ibadah juga diuangkan. Ketika publik membutuhkan pengabdiannya, dia tidak akan bergerak tanpa ada akomodasi yang jelas. Padahal, pelayanan publik bukanlah profesi sehingga tak berhak menarik uang secara langsung. Yang layak disebut profesi itu hanya ada tiga yakni bercocok tanam, membuat sesuatu, serta berdagang. Tiga hal itu pantas ditarik tarif sesuai dengan kebutuhan.

Abdi kesatria yang dinanti-nanti sedang bergerak secara perlahan menginduksi orang-orang di sekitarnya untuk mulai eling lan waspada. Sehingga dia mampu menjadi manusia yang peka. Peka atau mudah merasakan perubahan lingkungan di luar dirinya. Kalimat ini tampak mudah diucapkan namun sangat sulit terinternalisasi dalam diri sehingga merubah pola pikir dan perilaku.

Mery Yulikuntari

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY