Bahagia dalam Ketiadaan

Bahagia dalam Ketiadaan

0
461

 

Siapa yang tak mengenal angka nol? Sosok angka yang sekilas seolah tak berharga tapi begitu bermakna. Jika berbicara mengenai jumlah, nol menggambarkan ketiadaan. Tentu kebanyakan kita akan memilih angka 1, 2, 3, dan seterusnya jika dihadapkan pilihan akan jumlah mobil yang diinginkan. Sangat jarang di antara kita yang memilih angka nol untuk jumlah sesuatu, mobil tadi misalnya. Karena memiliki nol mobil sama halnya dengan tidak mempunyai mobil. Inilah mengapa angka nol terkadang kurang diperhatikan. Kurang dilirik oleh kebanyakan orang.

Tapi sadarkah kita jika tanpa nol sesuatu yang terlihat begitu berharga seketika bisa menjadi tak ada artinya. Apalah artinya satu juta jika tanpa ada nol yang menemaninya. Adakah satu miliar, jika tak diizinkan nol bersanding dengannya? Kalau sudah dihadapkan dengan situasi seperti ini, barulah disadari betapa berartinya sosok nol bagi kita.

Start From Zero

Ada baiknya sejenak kita berdiam diri dan mencurahkan sedikit perhatian kita pada proses perhitungan. Proses perhitungan yang membantu kita untuk mengetahui jumlah dari sesuatu. Lazimnya, setiap proses menghitung selalu dimulai dari bilangan yang nilainya paling kecil ke bilangan yang nilainya paling besar. Nol menggambarkan suatu keadaan semula. Hingga naik ke angka satu dan menggambarkan mulai tercipta atau adanya sesuatu. Terus naik ke angka dua, tiga, empat, dan begitu seterusnya. Ketika proses perhitungan telah berhenti, bilangan terakhir itulah yang menggambarkan jumlah dari sesuatu tersebut. Pastinya jika semua telah terhitung, bilangan terakhir tidak akan bisa lagi beranjak ke bilangan yang nilainya lebih tinggi.

Sama halnya dengan manusia. Pada awalnya manusia berada di posisi nol. Hingga ketika dilahirkan di dunia, bertambahlah usianya yang digambarkan dengan jumlah bilangan yang terus bergerak naik. Sampai tiba waktunya, jumlah bilangan tadi akan berhenti. Berhenti tepat di mana batas umur seorang manusia telah ditentukan. Seolah proses penghitungan ini menyapa kita dan mengingatkan untuk tetap waspada dan berhati-hati dalam setiap langkah. Tak akan ada yang tahu sampai langkah ke berapa kaki tak akan pernah bisa beranjak lagi. Menginjakkan langkah terakhir sesuai dengan jatah langkah yang telah diberikan oleh Sang Pemberi Hidayah. Di saat itulah tiba masanya kita kembali menuju ketiadaan, rumah keabadian. Asal muasal kita, manusia.

Tiadalah yang ada di dunia ini selain berawal dari ketiadaan. Hingga tiba temponya kembali menuju titik awalnya, ketiadaan. Semua manusia terlahir dalam keadaan kosong, masih suci. Terbuka lebar untuknya berproses dalam hal apa pun. Layaknya menghitung, dari nol dilanjutkan ke bilangan mana pun yang ia kehendaki. Jika tujuan kita diibaratkan bilangan terakhir proses perhitungan yang kita lakukan, mau menuju ke bilangan manakah kita? Tetap memilih diam di tempat dengan membiarkan sang waktu terlewatkan tanpa adanya perubahan. Ataukah memilih menikmati setiap detik dengan berproses meningkatkan satu demi satu bilangan kebaikan kita. Sebagai nahkoda atas pribadi masing-masing, kitalah yang bertanggung jawab penuh atas setiap pilihan yang kita putuskan.

Belajar Dari Sosok Nol

Kehadiran nol yang tidak terlalu diperhitungkan, meskipun tanpanya sesuatu yang terlihat begitu istimewa seketika menjadi tidak berharga, menggambarkan akan ketulusan dan kerendahan hatinya. Sosok nol yang begitu rendah hati itu telah mengajarkan bayak hal. Seolah nol ingin memperkenalkan kita akan sosok pahlawan dalam kegelapan. Tetap memberi dan  berbuat meski tak pernah diperhitungkan. Karena bukanlah anggapan ataupun pujian dari orang lain yang menjadi tujuannya. Terus berusaha berbuat dan memberikan rasa aman serta kebermanfaatan untuk sekitarlah yang menjadi sorotannya. Sebagaimana yang telah diteladankan oleh dia yang cahayanya di atas cahaya, kanjeng Nabi Muhammad panutan kita.

Layaknya manusia pada umumnya, tidak mudah memang menjaga hati untuk tidak tergoda akan iming-iming sanjungan dan pujian. Terlebih jika dia telah melakukan sesuatu untuk orang lain, akan tetapi tidak dianggap sama sekali. Bisa jadi orang tersebut akan mempertontonkan apa yang telah dilakukannya. Hingga orang lain akan tahu kalau dia telah berjasa untuk kehidupan banyak orang. Jika sudah seperti ini, maka bukan lagi kemurnian dari kebaikan yang akan terpancarkan. Karena akan ada maksud terselubung dalam setiap baju kebaikan yang disodorkannya. Pun jika orang tersebut tidak mempertunjukkan jasa-jasanya, bisa jadi orang tersebut akan mogok beraksi lagi. Baik kemungkinan pertama maupun kemungkinan ke dua, keduanya sama-sama gagal memberikan manfaat secara totalitas. Karena bukan lagi menebarkan manfaat yang menjadi tujuan utamanya. Dengan segala kerendahan hatinya, nol hadir mengingatkan kita akan arti sebuah ketulusan. Nol lebih memilih jalan sunyi. Tidak mengikuti kedua jejak kemungkinan tersebut. Tetap berbuat tanpa berharap. Senada dengan itu,  Mbah Nun pernah menyampaikan bahwa jika manusia sudah berani dibilang tidak penting, maka dia akan bisa memberikan manfaat yang besar untuk sekitarnya. Tetap setia dengan ketulusan dalam perjuangan. Hingga dengan sendirinya buah manis akan mengikuti meski tanpa undangan.

Mengenolkan Diri

Ada baiknya kita belajar banyak dari sosok nol. Terlebih dalam berbuat sesuatu. Dengan selalu merasa bahwa kita pada dasarnya hanyalah nol yang tidak ada artinya, akan memudahkan kita dalam berkarya. Kita tidak akan takut mencoba melakukan sesuatu. Tidak terlalu mengindahkan komentar orang yang menjatuhkan. Karena jika kita dihina, kita memang bukanlah siapa-siapa. Kita tidak punya apa-apa. Kita hanyalah manusia yang terlahir dengan tidak membawa apa-apa. Pun jika ada yang memuji kita, kita pun akan bersikap biasa saja. Sekali lagi, pada dasarnya kita tidak punya apa-apa. Kita hanya dititipi dan dipinjami kekuatan dari Yang Sejatinya ada.

“Makhluk kecil, kembalilah dari tiada menuju tiada. Berbahagialah dalam ketiadaan.” Begitulah pesan dari seorang Soe Hok Gie. Pernyataan Soe Hok Gie tersebut seolah juga mengamini akan ajaran sosok nol. Mengenolkan diri. Selalu ingat bahwa kita pada dasarnya adalah tiada. Kemudian diadakan oleh Yang Sejatinya ada. Sudah sepantasnya kita selalu mencoba ingat dan sadar bahwa kita tidak punya apa-apa. Kesuksesan, kebahagiaan, kegagalan, kesedihan, semuanya bukan karena kita. Bukan karena apa-apa yang berasal dari kita. Semua hanya titipan dan karena bantuan dari Yang Maha segalanya. Lantas apa yang masih patut untuk disombongkan? Jika ternyata semuanya bukanlah dari kita. Pun sebaliknya. Apa yang masih perlu disesalkan? Jika ternyata kita memanglah tidak punya apa-apa. Belajar akan arti sebuah keikhlasan dengan selalu berusaha sadar bahwa kita hanyalah sosok nol yang asalnya tiada. Dan akan kembali tiada jika sudah tiba waktunya. Karenanya, berbahagialah dalam ke-nol-an kita. Berbahagialah dalam ketiadaan kita. Karena masih ada Yang Sejati dalam ke-nol-an kita. Yang Sejatilah yang akan mengisi ketiadaan kita.

Keberkahan Dalam Pribadi Nol

Dalam matematika, segala sesuatu jika dipangkatkan nol hasilnya adalah satu. Angka satu menggambarkan sosok Tuhan Yang Maha Esa. Jika dikaitkan dengan pelajaran mengenolkan diri di atas, dengan terus berusaha menjaga kesadaran bahwa kita sejatinya adalah tiada, justru akan semakin mendekatkan kita pada Yang Sejatinya ada. Tidak ada kekuatan dan daya selain yang datang dari-Nya.

Adapun dalam masalah keterbagian, segala sesuatu jika dibagi nol hasilnya adalah tak terhingga. Pernyataan tersebut seolah menegaskan akan keindahan dalam berbagi. Dengan berbagi dibarengi keikhlasan tanpa mengharapkan imbalan apa pun, justru akan mendatangkan nikmat dari arah yang tidak disangka-sangka. Bukankah janji Tuhan pun demikian? Ikhlaslah dalam berbagi, Tuhan pun akan menggantinya dengan yang jauh lebih baik lagi. Berikan yang terbaik darimu dan biarkan Tuhanmu yang akan memberikan yang terbaik untukmu. Lagi-lagi, sosok nol telah mempertunjukkan keindahan dan keberkahan di balik laku keikhlasan.

 

Hilwin Nisa’

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY