Bait-Bait Sunyi Bagi Para Pejalan

Bait-Bait Sunyi Bagi Para Pejalan

0
335

Misi Mengalahkan

Sebuah perjalanan, yang tampak direncanakan padahal sebenarnya sudah terencanakan oleh Nya. Hanya tinggal menjalani, namun terkadang si pejalan tidak menyadari makna tersirat yang perlu diungkap dari misi perjalanan tersebut. Tentu saja tak mudah untuk menyikap tabir ini. Diperlukan kontemplasi berlipat dan hati yang selesai untuk menyudahi sebuah misi.

Kontemplasi berlipat karena misi ini mengandung kode-kode rahasia, serta hati yang selesai sebab kode-kode tersebut dapat terpecahkan ketika hati ini tak menuntut ini itu dan rewel saat mendapatkan misi ini. Pun interfensi dari diri sendiri, yang seolah paham alih-alih membuatnya bias. Sangat bias, mungkin bisa menyebabkan langkah si pejalan terserak jauh ke antah berantah. Membuatnya bingung bahkan menangis meraung karena tidak mengerti misi yang sedang dijalankannya.

Sebenarnya misi ini adalah ujian keteguhan hati, soal mengalahkan yang ada dalam diri. Salah satu tugas utamanya adalah membuat diri setransparan mungkin, agar optimalisasi penyerepan yang ada di lingkungan sekitar berjalan baik. Menjaga diri dalam keobjektifan dan menurunkan serendah-rendahnya kesubjektifan.

Perjalanan di misi ini juga semakin menantang untuk para pejalan karena tingkat kerumitan mulai bertambah seiring bertambahnya tanggung jawab yang diemban. Semakin lama bergelut dalam misi ini tentu akan semakin kompleks kode-kode yang harus dipecahkan. Tak jarang, para pejalan berhenti sejenak untuk menghela nafas panjang karena kelelahan. Atau bahkan terus berlari karena menemukan irama perjalanan yang sedang dilalui kemudian berhasil menikmatinya.

Perguruan katalisator

Misi yang begitu sempurna serta terencanakan karena tidak hanya membiarkan para pejalan bekerja dan berpikir keras, namun telah disediakan fasilitas bagi para pejalan agar tak mudah menyerah di tengah jalan. Dengan menghadirkan Sebuah perguruan untuk mengasah intuisi para pejalan, agar selalu waspada lan eling. Sehingga dapat menemukan ritme dalam setiap misi yang diemban di bumi. Perguruan yang unik dengan prinsip menabung kesucian karena hidup adalah tentang membayar hutang yang tidak pernah lunas. Sehingga terus memancar menjadi langkah presisi menuju yang sejati.

Terus memancar menjadi salah satu core clue atau petunjuk inti untuk menghadapi kode-kode tak berkesudahan. Yang berarti berbagi kebaikan dan bermanfaat bagi sesama menjadi bagian utama dari misi ini. Bukan hanya unik tetapi juga lengkap, dengan munculnya sosok para katalisator zaman yang mendorong akselerasi para pejalan dan tanpa sadar telah membersamai para pejalan lebih cepat dalam berproses menuju yang hakiki. Katalisator yang mempercepat langkah para pejalan tanpa membesarkan dirinya, bersembunyi di balik kebesaran hatinya. Memilih sunyi dari dunia yang semakin riuh ramai mencitrakan kesombongannya.

Seperti sifat katalisator yang mempercepat reaksi kimia tetapi tidak ikut merubah dirinya. Yang berarti dirinya hanya perlu menunjukkan tidak untuk tampil di tengah keramaian. Inilah yang membuat para pejalan sadar bahwa katalisator secara tersirat ingin para pejalan kehilangan dirinya “invisible”. Dibubuhkan juga oleh para katalisator kepada para pejalan bahwa ada sosok yang harus dicintai yaitu sang “imamal mujahiddin”, pemimpin para pejalan. Karena cinta dan kasihnya begitu luas kepada Sang Pencipta.

Dan sepanjang kehidupannya hanya diisi dengan perjuangan, yang tak lain menjadi panutan bagi para pejalan. Panutan dalam setiap langkah menuju cinta sejati. Lantunan Bait Sunyi Kini para pejalan terus menapaki jalan yang telah dibuat. Puluhan purnama telah dilalui, pun puluhan kebersamaan telah terajut. Puluhan jejak langkah juga telah tergores. Saling berbagi, menyerap satu sama lain menjadi pemandangan yang romantis.

Kemudian mentadabburi apa yang telah diserap untuk direkam. Iya, jalan sunyi telah dipilih, jalan yang begitu senyap hingga jarang yang mau mendekat. Jalan yang menemukan dan menjalaninya membutuhkan perjuangan ekstra, karena tak banyak yang mau melihat jalan ini. Para pejalan membenamkan diri di tengah hiruk pikuk kamuflase. Kamuflase yang terus menggoda untuk didekati setiap saat.

Perjalanan yang masih pagi seolah mengisyaratkan bahwa akan ada manajemen-manajemen para pejalan dalam menghadapi dialektika yang disuguhkanNya. Dialektika untuk melawan diri sendiri, dan menjalankan yang sebenarnya serta seharusnya. Para pejalan mulai menuliskan bait sunyinya untuk dilantunkan sepanjang perjalanan. Bait yang nampak absurd, padahal hanya ungkapan untuk terus bersuci. Hingga terbesit sebuah doa semoga langkah ini selalu terjaga dalam lingkar cinta-Nya. Cinta yang sebenarnya.

 

Firza Dwi Hasanah

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY