Belaian Lembut Ibu Pertiwi

Belaian Lembut Ibu Pertiwi

0
1119

Bergerak di tengah ketidaksadaran diri. Berusaha menyerap segala informasi yang hadir, petang itu di malam pengajian Maiyah Bang-Bang Wetan. Pertama kalinya terjaga untuk tetap melingkar di kuliah sunyi universitas kehidupan. Tak terasa hari begitu cepat berganti dan jam menunjuk pukul empat, angka 4 yang begitu saja terlihat di layar ponsel. Malam itu, ada banyak hal yang terasa begitu menarik. Namun pikiranku menuju pada yang satu, pada pembahasan mengenai personalitas dan identitas yang disampaikan secara apik oleh Pangeran Kadipiro. Pangeran itu tiba-tiba mencuri atensiku lebih banyak. Atensi yang akan menjawab segala kebimbangan mengenai pencarian jati diri, jati diri yang cukup lama memperkenalkan diri namun tak kunjung kupahami.

Ketahanan fisik dan pemikiran kala itu terulang kembali. Sekali lagi terulang ketika langkah kaki diperjalankan menuju pentas studi Maiyah Relegi Malang. Ketidaksadaran yang begitu menyenangkan. Ketidaksadaran bahwa mahasiswa baru sekelas aku sekalipun atas seijin-Nya nyatanya mampu menerima diskusi sengit di kedua malam itu. Maiyah Relegi kala itu mengangkat isu lama yang dikemas dalam permasalahan baru. Isu tentang upaya melestarikan hutan sebagai penyeimbang kehidupan manusia di bumi pertiwi.

Di luar batas kesadaran. Sekali lagi benar-benar tanpa sadar. De Javu! Ternyata poin-poin diskusi Relegi tentag keseimbangan bumi pertiwi pernah suatu waktu disampaikan di kelas oleh seorang dosen, jauh sebelum Relegi digelar malam itu. Seolah jejak yang dulu terserak kini tertata kembali. Manis!

Mutiara-mutiara yang telah lama diberikan. Mutiara dari Bang-Bang wetan hingga mutiara Relegi, siapa sangka baru teraasa begitu berkilau ketika aku dan kedua sahabat terbaikku bersama diperjalankan menuju Yogyakarta. Sepanjang jalan munuju Jogja berkendara kereta, kami bertiga menerima pesan untuk berbagi secuil pengetahuan mengenai sejarah burung garuda. Perlambang kesaktian Indonesia yang dahulu perkasa nan hebat namun sekarang terkurung, terasing.

Secuil Surga itu Bernama Indonesia

Sepanjang perjalanan menuju Jogja hamparan sawah, ladang, sungai, hutan dan kebunpun mulai tak malu bercerita banyak padaku. Katanya, “Sungguh dahulu di bumi ini kami pernah tumbuh dengan lestari. Ijo royoroyo, gemah ripah loh jinawi. Toto tentrem kertoraharjo.” Namun setelah datang makhluk bernama manusia ngawur, sawah, ladang , sungai, hutan dan kawan-kawannya mulai jadi korban. Ketika sekumpulan manusia ngawur itu membuat jalan dan gedung. Mengolah dan mengambil manfaat sesuka hati, eksploitasi!”

“Dulu nenek moyang manusia itu mampu ngopeni kami. Kami percaya mereka dan kita hidup berdampingan begitu lama. Nenek moyang manusia itu dulu mampu mengolah, menata, dan menjaga tumbuh kembang kami lebih baik dari manusia kini. Manusia kini yang mengaku lebih modern itu. Dulu kami dapat tumbuh, berbuah, dan menghasilkan manfaat dengan senang hati. Pala gumantung, pala kependhem, pala kesimpar, palakitri , palawija kami persembahkan dengan bangganya. Karena kami tahu, kebahagiaannya juga bagian tugas kami. Tapi itu hanya cerita masa lalu.“, ujar mereka menjelaskan satu per satu dengan gamblang.

“Sekarang kami heran, banyak dari kami yang dibabat tak cermat, diganti dengan gedung dan bangunan pencakar diri mereka sendiri. Jumlah kamipun mulai berkurang. Kami mulai ketakutan, kini keluarga kami hanya tersisa di wilayah pedalaman desa dan hutan belantara. Akibatnya apa? Manusia modern itu pasti sudah tahu, karena semenjak SD mereka sudah diajari. Akibatnya ya kebakaran, banjir, tanah longsor, pancaroba tak tentu”, ujar hutan menambahkan.

Tiba-tiba lamunanku tergugah, perbincanganku dengan mereka pun usai. Tatkala berpamitan, tak lupa mereka menyampaikan pesan, “Hai khalifah bumi pertiwi, tolong jaga kami. Silahkan ambil manfaat dari kami sesuka hati, tetapi tolong jadikan kami lebih lestari dari hari ini. Karena kami tidak bisa berpikir seperti kalian, karena langkah kami tak mampu jauh seperti langkah-langkah kalian. Jika memang kalian merasa lebih modern, tolong jaga kami dan kembalikan kejayaan bumi pertiwi.”

Indonesia itu begitu menakjubkan. Ah! Mungkin menakjubkan saja tak cukup! Indonesia itu menakjubkan, mengesankan dan muanteb puoll. Hamparan sawah, ladang, kebun dan hutan yang berwarna hijau itu tetap hadir meski di tengah kemarau panjang tanpa setitikpun hujan. Sebuah pemandangan yang tak akan sekalipun bisa kita nikmati di tanah lain.

Tanah Arab atau bahkan Amerika sekalipun, teknologi mereka tak akan secanggih ini. Lalu bagaimana hamparan sawah itu masih bisa begitu tampak hijau? Terlihat sungai-sungai masih teraliri oleh air hampir di semua musim? Fenomena langka yang akan membawa kita terdiam begitu dalam. Hingga siapapun akan bergumam, “Tuhan, jika surga pernah bocor, mungkin cuilannya telah jatuh di bumi Indonesia.” Amazing!

Dalam lirik lagu “Kolam Susu” pun sempat disinggung. Di tanah surga ini, bahkan tongkat kayu dan batu bisa menjadi tanaman. Sungguh menakjubkan kawan! Indonesia sepertinya benar-benar bocorannya surga. Surga yang menyipratkan sedikit keindahannya. Keindahan yang menjadi aneka ragam sumber daya alam Nusantara. Entah rahasia apalagi yang Tuhan takdirkan. Mengapa kita menjadi manusia terpilih yang terlahir di tanah surga ini? Di tanah surga yang mulai rusak ini, entah apa lagi yang bisa kita perbuat selain menjaganya.

Siapa Gerangan Cah Angon Itu?

Tentang keindahan Indonesia. Dalam lantunan tembang “lir-ilir” yang seringkali dibawakan oleh Cak Nun. Dalam lirik itu diceritakan bahwa Kanjeng Sunan Ampel bertutur kepada kita tentang apa yang seharusnya dilakukan manusia. Namun banyak manusia tak kunjung paham dengan apa yang harusnya mereka lakukan. Tak paham dengan jati dirinya sendiri. Tak mengenal sejarah nenek moyangnya sehingga berjalan tak tentu tujuan. Seperti anak hilang yang terbuang dari jalan. Anak hilang yang meminta santunan pada dunia dan melupakan warisan miliknya yang begitu melimpah. Warisan yang tidak hanya berbentuk harta materi tapi juga keunggulan budi pekerti dan keluhuran martabat.

Dalam lantunan lagu lir-ilir terdapat baris yang bercerita tentang cah angon (anak gembala). “Cah angon… cah angon.. penekno blimbing kuwi.” Dari lirik itu mungkin timbul pertanyaan. Mengapa harus bocah angon? Kenapa tidak, “Sang kyai? atau pejabatpejabat penekno blimbing kuwi.” Mungkin saja karena cah angon adalah penggambaran dari semua manusia yang memiliki kesadaran angon. Kesadaran mengayomi, mampu momong sesama ciptaan Allah SWT dan bermanfaat bagi sesama makhluk.

Siapa saja bisa menjadi bocah angon. Namun dari sudut pandang psikologi cah angon bisa diartikan sebagai generasi muda. Generasi penerus yang tengah mengembara memperdalam kesaktiannya.

Ada tiga fase hidup manusia yang tampak lucu dan terkadang elegan. Pertama adalah masa muda. Pada fase ini manusia banyak memiliki waktu dan tenaga namun tidak punya harta. Kedua adalah masa kerja, manusia fase ini mempunyai harta dan tenaga tetapi tidak punya banyak waktu. Terakhir adalah masa tua, di fase ini manusia cenderung punya harta dan waktu namun tidak punya banyak kekuatan.

Secara tersirat, mulai jelas bahwa cah angon yang paling tepat adalah masa muda, meskipun tidak memiliki uang namun ia menguasai segala modal untuk berjuang yaitu kekuatan tenaga dan waktu yang melimpah. Mahasiswa umumnya menginjak fase peralihan dari remaja akhir memasuki dewasa awal. Di fase peralihan inilah manusia mulai mencapai puncak perfomanya. Saat simpanan energi dan kemampuan berpikir telah memuncak, apa lagi yang ditunggu kalaubukan untuk berguna kepada sesama.

Pendidikan Karakter Keluarga dan  Berbangsa.

Lambat laun nantinya pemuda pun akan melewati masa berkeluarga. Lalu mendapatkan mandat dan tanggung jawab untuk memperkenalkan pendidikan karakter. Salah satunya adalah tentang bagaimana karakter sejati bangsa Indonesia.

Pendidikan karakter untuk menemukan siapa dirinya yang sejati. Pendidikan itu dimulai dari kedua orang tua yang mampu memberikan rangsangan kepada anak sesuai dengan perkembangannya. Menjalankan tugas sebagai bapak atau ibu bukanlah perkara mudah. Tidak serta merta dengan uang dan materi melimpah lantas anak pasti tumbuh dengan baik, tidak segampang itu kawan. Kebutuhan materi memang perlu untuk menunjang perkembangan fisik anak. Namun anak tidak hanya memiliki kebutuhan fisik saja, perkembangan sosioemosi dan kognitif juga dibutuhkan. Sosioemosi dan kognitif adalah suatu perkembangan yang didapatkan dari interaksi anak dengan dunia luar yakni pengaruh dari keluarga.

Siapa yang dapat memberikan rangsangan yang tepat untuk perkembangan anak-anak tersebut? Maka jawaban terbaik adalah sosok ibu. Ibu adalah malaikat tak bersayap yang menjaga bayi tersebut sebelum dan setelah keluar untuk menatap dunia pertama kali. Ibulah satu-satunya manusia yang dibekali naluri lebih tinggi untuk mengawal perkembangan si buah hati.

Keterkaitan dengan cah angon tadi, bahwa dalam konteks berkeluarga cah angon adalah sebutan untuk siapapun itu baik laki-laki maupun perempuan. Namun kenyataan mulai membuka tabir bahwa wanitalah pemilik sifat angon yang sangat menjiwai. Sifat mengayomi, melindungi dan momong. Maka tak salah jika pandangan psikologi menyampaikan bahwa berkaitan dengan menangani perkembangan sosioemosi anak, perempuan dilabeli lebih cakap dibanding laki-laki.

Menurut psychology point of view perempuan diberi naluri yang lebih kuat kepada anaknya. Sedari sel telur bayi di kandung, segala kebutuhan disiapkan oleh tubuh sang ibu. Masa selanjutnya ada hubungan darah antara ibu dan bayi melalui asi. Dari proses perjalanan ini tak heran jika antara bayi dan ibunya selalu memiliki keterikatan yang kuat. Ibulah perempuan pertama sebagai bidak penting dalam pembangunan karakter bangsa.

Maka tak heran jika bangsa ini selanjutnya disebut sebagai ibu pertiwi, bukan bapak pertiwi. Karena dengan begitu ibu pertiwi ini diharapkan mampu mengayomi segala makhluk yang lahir dan berada dipangkuannya. Dan jika kalian mencintai agama dan rasul, maka jadilah manusia yang mencintai ibu, ibu dan ibu. Sungguh surga itu berada di bawah kaki terbawah seorang ibu kawan. Maka, tanah surga inipun adalah ladangmu untuk berbakti pada Tuhanmu. Alhamdulillahil ladzi ahyana ba’da ma amatana wailaihin nusyur

Mery Yulikuntari

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY