Berkoloni atau Bersoliter?

Berkoloni atau Bersoliter?

0
2902

“suara-suara itu seolah menegaskan bahwa kita tidak diciptakan untuk saling mengungguli satu sama lain, tapi untuk saling melengkapi di atas perbedaan yang ada sehingga terbentuk formasi koloni yang menakjubkan”

Jika dipikirkan kembali, sepertinya komponen-komponen dalam kehidupan ini tidak diciptakan untuk berjalan sendiri-sendiri. Namun memiliki interaksi dengan sesamanya sehingga terbentuk korporasi kuat untuk menjalankan sistem yang canggih. Alam pun mendukungnya dengan menyediakan cerita tentang naluri berkoloni yang datang dari evolusi mahluk hidup.

Menurut teori evolusi mahluk hidup awalnya hidup di dunia pada bagian yang luas yaitu air seluas 2/3 bumi yang mulai merambah daratan yang hanya 1/3 bumi. Padahal air merupakan sumber kehidupan bagi mahluk hidup. Sehingga mahluk hidup yang mulai berevolusi ke daratan menjadi lebih rentan dan lemah. Diawali dari Hewan peralihan atau yang hidup di air dan darat seperti reptile dan amfibie, mereka memiliki ketahanan (endurance) fisik yang cukup kuat. Karena tubuhnya dilengkapi dengan sistem poikiloterm atau yang biasa disebut berdarah dingin.

Sistem ini dapat menyeimbangkan suhu tubuh dengan suhu lingkungan, sehingga reptile dan amfibie tidak merasa kedinginan walaupun berlama-lama dalam air. Bahkan tangan dan kaki mereka tereduksi karena ketahanan fisik yang cukup kuat terhadap perubahan lingkungan. Selain ketahanan tubuh mereka juga mampu untuk bertahan puasa selama 15 hari. Ketahanan inilah yang membuat mereka tidak membutuhkan kebersamaan atau mampu untuk hidup sendirian (soliter).

Beralih kepada hewan yang hidup di daratan mereka setingkat lebih maju dibandingkan mahluk yang ada di laut. Alat geraknya mulai berkembang dengan baik hanya saja ketahanan fisiknya tidak sekuat hewan peralihan atau hewan di laut. Dimulai dari hewan avertebrata atau tidak bertulang belakang seperti semut. Hewan ini mulai beralih ke dunia koloni karena ukuran mereka yang kecil dan memiliki fungsi spesifik setiap individunya, sehingga mereka harus menghimpun kekuatan dan bergotong royong untuk melawan predator serta mengumpulkan makanan, agar bisa bertahan hidup. Hewan ini terdiri dari ratu, pejantan, dan pekerja. Ratu memiliki tugas utama sebagai pelestari keturunan karena hanya dia yang fertil. Sedangkan penjantan yang hanya berfungsi sebagai teman sang ratu dalam membentuk keturunan akan mati setelah membuahi. Yang terakhir semut pekerja, dimana fungsi utamanya membangun sarang dan mencari persediaan makananan. Dengan sisi lain mereka merupakan betina yang mandul.

Lebih kompleks lagi berevolusi menjadi hewan darat yang memiliki tulang belakang seperti mamalia dan aves. Kedua hewan ini memiliki system homoioterm (berdarah panas) atau cenderung mempertahankan suhu tubuh. Sehingga suhu tubuhnya selalu hangat tidak seperti mahluk air. Kelompok hewan ini memiliki naluri untuk hidup soliter maupun berkoloni karena kemampuan bertahan hidupnya juga termasuk tinggi. Bagian tubuhnya dilengkapi dengan penutup tubuh yang tebal. Hal tersebut menyebabkan mereka tidak kedinginan, pada kelompok aves contohnya burung dilengkapi dengan bulu. Sedangkan manusia sebagai puncak evolusi mahluk hidup mempunyai sistem tubuh dan anatomi yang lebih kompleks dibandingkan hewan. Namun pada hakikatnya mereka adalah mahluk yang paling lemah karena ketahanan fisiknya tidak sekuat hewan.

Manusia tidak memiliki rambut yang sangat lebat seperti kucing sehingga membutuhkan baju dan rumah untuk perlindungan diri. Kebutuhan yang kompleks tentunya diikuti dengan proses pemenuhan yang kompleks pula. Untuk itu manusia dibekali akal dan organ tubuh yang lebih canggih dibanding mahluk lainnya dalam rangka memenuhi kebutuhannya. Seperti membuat baju, mengolah sawah, membuat rumah dan sebagainya  tidak mungkin itu dilakukan dalam suatu sistem soliter karena dibutuhkan sebuah kerja sama seperti koloni semut. Hal inilah yang membuat manusia bergantung pada manusia lainnya karena perbedaan kemampuan setiap manusia dalam berbagai bidang. Sehingga muncullah berbagai disiplin ilmu untuk menetapkan bagaimana pemenuhan hidup manusia melalui sebuah kerja sama yang saling melengkapi.

Sistem koloni menumbuhkan kebersamaan diantara manusia yang bermuara pada terciptanya suasana hangat antar sesama. Kehangatan dalam kebersamaan itulah yang mengarahkan pada rasa cinta dan kasih sayang diantara manusia dalam menjalankan roda kehidupan. Kehangatan ini yang tidak ditemukan akhir-akhir ini, seolah sudah menjadi barang langka. Mengingat saat ini fenomena soliter menjadi tren. Seolah menjelaskan bahwa mereka merupakan mahluk dengan ketahanan fisik seperti hewan, padahal sama sekali tidak.

Pola soliter yang mereka lakukan merupakan suatu bentuk arogansi yang menentang ketentuanNya. Masyarakat kekinian dituntut oleh zaman untuk menggungguli satu sama lain dengan meningkatkan kemampuan yang dimiliki, karena ideologi matrealistik yang berkembang. Mereka berlomba-lomba bersaing untuk mendapatkan bagiannya (menuju keserakahan) dengan menindas atau mengalahkan yang lain. Sehingga perpecah belahan tidak bisa dihindari, yang berdampak pada tingginya kesenjangan dan tingkat stres. Apabila sistem ini dilanjutkan maka dapat diramalkan bahwa mereka tidak akan berakhir dengan kejayaan ataupun kemuliaan, namun menggali lubang menuju kemusnaan peradaban.

Yang sepele diutamakan,
yang utama disepelekan,
Loyang disangka emas,
Emasnya dibuang-buang.
Arep golek opo koq uber-uberan,
Podho ngoyak opo koq jegal-jegalan,
Kabeh podho mendem ora mari-mari..
(Mabuk, tak sadar lagi kemanusiannya, apalagi kekhalifaannya..)

Seperti datangnya mentari, yang mengikis gelapnya malam, peradaban koloni kini mulai tumbuh di bangsa ini. Melalui rembuk sederhana di setiap bulannya. Maiyah hadir mengubah pola pikir soliter menjadi pola berkoloni, dengan landasan saling melengkapi di atas perbedaan yang ada. Saling bersillahturahim dan bertegur sapa layaknya semut yang tidak pernah lupa menegur temannya. Melingkar membicarakan ilmu ketentraman hidup dan cinta kasih-Nya. Melangkah bersama untuk terus memperbaiki diri dan belajar dari kehidupan ini. Pada akhirnya terbesit sebuah harapan agar mabuk soliter segera berganti menjadi mabuk koloni.

 

Penulis : Firza Dwi Hasanah

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY