Berpikir adalah aktivitas hidup yang paling merdeka. Ketika berpikir, orang bebas mengekspresikan keinginan, berandai jadi siapa saja hingga seolah menghadirkan Tuhan untuk sejenak bercengkrama bersama dirinya. Dengan berpikir pula, lambat laun akan muncul ide, gagasan, inspirasi atau apapun itu yang berkenaan dengan tujuannya. Tak jarang pula inspirasi yang datang malah melebihi harapan. Kebebasan itu tentunya hanya mampu didapat oleh orang-orang yang mampu memerdekakan pikirannya.

Masyarakat Indonesia kebanyakan masih belum merdeka. Mayoritas dari kita masih sibuk saling memperdebatkan siapa yang benar. Mereka akan merasa senang sekali jika argumentasinya dipuji namun mereka tidak pernah siap menerima kritikan. Itu adalah satu indikasi bahwa masyarakat memang belum mampu menerima kebenaran orang lain. Kita sibuk berdebat mencari siapa yang benar dan melupakan kebenaran itu sendiri.

Lebih jauh lagi, bahkan banyak beredar pikiran-pikiran yang sama sekali tidak ideal, misalnya saja “kelakuan” bahagia melihat orang lain gagal dan dongkol melihat orang lain sukses. Bisa jadi pikiran yang sama sekali tidak ideal tadi itu adalah salah satu imbas dari penjajahan masa lalu. Hingga saat ini, seringkali kita, juga saudara-saudara kita suka saling menyalahkan. Kita mudah diadu domba oleh isu dan hal-hal apa saja. Bisa dicontohkan adalah isu seputar pemilihan presiden beberapa waktu lalu misalnya.

Menilik sejarah bangsa ini, rupanya banyak fakta yang sakitnya tuh di sini. Ternyata Indonesia tidak hanya dijajah secara fisik dengan kerja paksa, namun juga dikungkung secara mental. Akibatnya kini masyarakat luas menderita inferiority complex alias minder. Kita memandang begitu wah ketika melihat bule berseliweran di jalan karena dalam bawah sadar kita tertanam imej bahwa bule pasti lebih pintar dari bangsa kita. Para investor Indonesia pun demikian, para pengusaha itu lebih suka berinvestasi di perusahaan asing. Sementara banyak karya anak muda Indonesia yang kreatif dan memerlukan dukungan namun malah tak mendapat sokongan. Akhirnya mau tidak mau mereka harus rela mati. Yang masih bertahan bakalan di-invest perusahaan asing atau bahkan langsung diakuisisi. Alasannya sederhana kawan, para anak muda kreatif itu merasa tidak mendapatkan tempat di rumah sendiri.

Kisah untuk Anak Cucu

Masa terus berjalan, lambat laun praktik penjajahan pun bergeser dan agak disembunyikan. Sekarang, menjajah sudah tidak lagi tentang mengadu kekuatan militer atau saling menguasai wilayah. Sudah banyak genre penjajahan versi anyar yang cukup lama beredar di Indonesia. Mengenai praktik baru ini, memang banyak yang sudah sadar dan mulai sadar, namun yang belum sadar justru lebih banyak. Siapa yang menyangka bahwa cara menjajah sekarang sudah sangat canggih dan benar-benar berbeda, tapi fakta hasil jajahan tetap sama yakni menjadikan manusia terkungkung dalam believe system yang bukan dari dirinya sendiri. Menjadi manusia yang mudah diadu domba dan termakan isu.

Kita selalu beranggapan bahwa Indonesia itu dijajah lalu perlahan dihancurkan oleh bangsa asing. Namun sebetulnya orang asing itu tidak pernah menghancurkan Indonesia. Mungkin saja malah kita yang merusak diri sendiri, bunuh diri. Banyak fakta menarik yang menjadikan Indonesia itu unggul. Indonesia memiliki daerah kekuasaan luas yang terpisah menjadi pulau-pulau, kekuatan militer yang mumpuni, sumber daya melimpah dan populasi sebanyak 250 juta jiwa menjadikan Indonesia masuk 4 besar dunia. Peta keunggulan itu membuat kekuatan Indonesia nampak menakutkan di mata dunia. Dengan statistik tersebut, tidak ada bangsa manapun yang mampu menjajah Indonesia. Ya, tidak ada bangsa manapun yang mampu menjajah Indonesia, KECUALI kita mengijinkannya.

Dahulu kala, penjajah melakukan riset untuk lebih tahu tentang kondisi bangsa Indonesia. Selepas penjajah itu memahami bahwa karakter orang Indonesia cenderung mudah didekati. Maka mereka tidak memilih jalan perang, penjajah lebih memilih melakukan cara perlahan dengan menunjukkan welas asih, datang sebagai saudara tua dan lain sebagainya. Singkat cerita akhirnya bangsa kita memberikan sambutan dan kasih sayang yang jauh lebih besar dari apa yang penjajah berikan. Dari nukilan kisah klasik ini kesimpulannya adalah jangan memulai perang tanpa tahu kondisi musuhmu. Jangan jadi generasi penerus yang terus-terusan dijajah, jadilah generasi pembaharu. Generasi yang banyak belajar dari masa lalu dan menjadi penentu Indonesia ideal di masa depan. Generasi yang akan menceritakan kisah penuh kebanggaan atas pencapaian bangsanya kepada anak cucu mereka.

Belajar dari Fenomena Kekinian

Sebagai kandidat terkuat generasi pembaharu, pemuda harus bijak dalam menyaring fenomena yang terjadi untuk mendapatkan sari pati dari suatu permasalahan. Jangan mudah ditunggangi oleh isu yang berujung pada saling menyalahkan dan mudah diadu domba. Mari belajar ciptakan kemerdekaan kita sendiri. Kemerdekaan berpikir dan mengolah informasi. Jadilah pemuda yang berperan aktif dalam menghadirkan solusi. Pemuda yang menjadi penengah atas berbagai masalah. Gunakan cara-cara kreatif yang asik dan keren untuk turut serta menjadi ujung tombak pembaharu.

Mari bersama memantaskan diri untuk terus berproses dan berkarya. Ciptakan kedaulatan berpikir hingga kau memahami dirimu dengan pemahaman yang sejati. Kelak jika kita diberangkatkan dalam perang untuk membawa kembali martabat bangsa ke tempat yang sepantasnya, maka saat itu kita sudah cakap dalam meramu strategi. Berjuang itu harus menyeluruh. Perang kita nanti tak boleh kalah oleh pasukan musuh.

*) Ifa Alif adalah pendiri Sosmed Kwikku, Mahasiswa Teknik Informatika UIN Malang
Beberapa bagian dalam tulisan ini diilhami dari buah pikiran Sabrang Mowo Damar Panuluh.Tulisan ini didedikasikan untuk para generasi muda.

LEAVE A REPLY