Sejenak kembali menyalami jamaah bilangan yang telah berjajar rapi di pelataran rumah matematika. Yang kutemui di sana hanya ada dua golongan. Ya, golongan ganjil dan golongan genap. Golongan ganjil adalah mereka yang jumlahnya tidak akan pernah habis jika dibagi dengan dua. Seperti 1, 3, 5, dan seterusnya. Sedangkan yang menduduki golongan genap adalah mereka yang akan habis jika dibagi dengan dua. Misalnya adalah angka 2, 4, 6, dan seterusnya.

Tidak usah khawatir dan merasa was-was. Jika saat ini yang kita punya hanyalah bilangan ganjil, kita masih diberi kesempatan untuk dapat mengubahnya menjadi bilangan genap. Misalnya angka 1, dia termasuk bilangan ganjil. Satu bisa saja masuk menjadi bagian dari bilangan genap. Yaitu dengan menjumlahkannya dengan sesama bilangan ganjil. Bisa dengan sesama angka 1, angka 3, atau angka yang berjenis ganjil lainnya. Jadi, 1 ditambah 1 hasilnya adalah 2. Dan 2 termasuk bilangan genap. Satu ditambahkan dengan 3, hasilnya adalah 4, yang juga merupakan jamaah dari bilangan genap. Begitu seterusnya. Pun dengan bilangan genap yang juga berpeluang untuk menjadi bagian dari golongan bilangan ganjil. Sebut saja angka 2, dia bisa melebur menjadi bagian dari bilangan ganjil dengan menjumlahkan dirinya dengan bilangan ganjil. Misalnya 2 dijumlahkan dengan 1 hasilnya adalah 3, dan 3 termasuk bagian dari bilangan ganjil.

Meskipun diberi kesempatan untuk dapat mengubah golongan bilangan yang kita punya, kita juga masih tetap bisa mempertahankan golongan kita. Jadi misalkan yang kita punya adalah golongan ganjil, kita masih bisa mempertahankan ke-ganjil-an kita dengan menjumlahkan bilangan ganjil yang kita punya tersebut dengan bilangan genap. Misalkan yang kita punya adalah 1, jika 1 kita jumlahkan dengan 2, maka hasilnya adalah 3. Dan 3 masih termasuk golongan bilangan ganjil. Begitu juga dengan bilangan genap. Jika yang kita punya adalah bilangan genap, kita masih bisa mempertahankan ke-genap-an kita dengan menjumlahkan bilangan genap yang kita punya dengan sesama bilangan genap. Misalkan yang kita punya adalah 2, jika 2 dijumlahkan dengan 4, maka hasil yang diperoleh adalah 6. Dan 6 juga masih tetap bagian dari golongan genap.

Kesempatan untuk Berhijrah

Jika genap menggambarkan sosok manusia biasa seperti pada umumnya, maka ganjil menggambarkan sosok manusia yang telah terlahir dengan dianugerahi kelebihan dibandingkan manusia pada umumnya. Entah kita terlahir sebagai golongan genap ataukah ganjil. Yang jelas, untuk menuju Sang Maha Ganjil kita harus berani untuk beranjak dari posisi kita dan bergegas untuk menuju-Nya. Ya, Sang Maha Ganjil. Dialah yang merajai dari segala yang ganjil. Jadi, meskipun kita sudah terlahir sebagai golongan ganjil, kita masih harus terus berproses untuk dapat semakin mendekat pada-Nya. Terlebih kita yang terlahir sebagai golongan genap. Kita masih harus berproses untuk meng-ganjil-kan diri kita terlebih dahulu, setelah itu kita baru berproses untuk meningkatkan ke-ganjil-an kita agar semakin dekat dengan Sang Maha Ganjil.

Sebagaimana yang telah dikatakan Cak Nun, bahwa inti ajaran Islam adalah hijrah. Berhijrah dari keburukan menuju kebaikan. Berhijrah dari hati yang beku menuju hati yang lembut kepada saudara-saudara kita. Berhijrah dari kebencian menuju cinta. Berhijrah dari kegelapan menuju cahaya. Ada baiknya kita belajar pada tanaman. Lihatlah, jika sebuah tanaman kita letakkan di dalam suatu tempat yang gelap, maka secara otomatis, tanaman tersebut akan tumbuh mengikuti arah cahaya. Dengan sendirinya, tanaman tersebut akan mencari sumber cahaya. Tanaman saja mengerti bagaimana dia harus mencari cahaya. Apalagi dengan sosok manusia yang sudah dianugerahi akal dan hati. Karena sudah dibekali akal dan hati, sebagai manusia seharusnya kita pun juga mampu mencari sumber cahaya. Dan berhijrah adalah salah satu cara untuk mencari sumber cahaya tersebut. Sebagaimana yang telah dikatakan oleh Cak Nun bahwa hijrah merupakan pusat jaring nilai dan ilmu. Nilai dan ilmu ini lah yang nantinya akan membantu kita untuk menemukan solusi-solusi atas permasalahan yang ada guna menuju maqom yang lebih baik lagi.

Lalu bagaimana dengan seseorang yang berhijrah dari kebaikan menuju keburukan? Berhijrah dari cahaya menuju kegelapan. Jika digambarkan dengan bilangan genap dan ganjil, berhijrah dari cahaya menuju kegelapan seperti bilangan genap dan ganjil yang berjalan mundur. Bukannya meningkatkan nilai ‘ganjil’ nya, akan tetapi justru menurunkannya. Sehingga, membuatnya semakin jauh dari Ganjil Yang Sejati. Seperti kata-kata hikmah yang menyatakan bahwa barang siapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin, maka binasalah dia.

Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka merugilah dia. Dan orang yang tidak mengalami perubahan ini adalah mereka yang tidak berhijrah. Diam di tempat. Sungguh merugilah dia, karena tidak memanfaatkan kesempatan emas yang telah diberikan untuk berhijrah tersebut. Sedangkan orang yang berhijrah dari kegelapan menuju cahaya inilah golongan orang-orang yang beruntung. Ya, mereka adalah orang- orang yang mengupayakan hari ini lebih baik dari hari kemarin dan esok lebih baik dari hari ini.

Berjamaah dalam Hijrah

Berkaca pada bilangan genap yang membutuhkan bilangan ganjil untuk menuju Ganjil yang Sejati. Pun dengan bilangan ganjil yang juga masih membutuhkan bilangan genap untuk meningkatkan ke-ganjil-annya guna menuju Ganjil Yang Sejati. Bagaimana pun, sebagai manusia yang sejatinya tidak mempunyai kekuatan apa-apa, kita tidak pernah bisa terlepas dari peran orang lain untuk melakukan apa pun. Termasuk dalam berhijrah. Sudah seharusnya kita menyadari itu. Agar benih sombong yang mungkin sudah mulai singgah di dalam hati tidak tersiram dan tumbuh subur. Bahwa jika mendapat rapot ‘baik’ itu bukan semata-mata karena kita. Banyak tangan yang mungkin tidak terlihat yang telah membantu kita. Dan tanpa mereka, belum tentu hijrah kita bisa sampai pada Yang Sejati.

Karena telah menyadari bahwa kita manusia lemah, dan tak pernah bisa terlepas dari peran orang lain, maka akan lebih indah jika kita bergandengan satu sama lain untuk berhijrah menuju Sang Muara. Bukankah cahaya-Nya terlalu luas jika kita hanya menuju- Nya seorang diri. Apalah artinya bahagia jika  kita hanya bahagia seorang diri.

Pada dasarnya, kita, orang lain, dan Yang Sejati berada dalam suatu lingkaran yang kuat. Yang kita tidak akan pernah bisa keluar darinya. Kita membutuhkan orang lain untuk menuju Sang Muara. Pun dengan kita yang membutuhkan bantuan Sang Muara untuk memahami orang lain. Sebagaimana yang telah dikatakan oleh dr.Chris, bahwa jika jiwa ini adalah serpihan-serpihan ganjil, maka Ganjil Yang Sejati di butuhkan untuk memahami jiwa yang genap.

Memang, kita tidak akan pernah bisa hidup seorang diri. Saling membutuhkan dan saling menguatkan. Beruntunglah kita yang telah ditunjukkan keindahan dalam kebersamaan.

Hilwin Nisa’

LEAVE A REPLY