Kata orang kita adalah biang kericuhan. Kata orang kita adalah penyebar kebencian. Kata orang pula kita adalah sumber perang. Tapi sebenarnya yang mereka katakan adalah cerminan diri mereka. Mereka hanya mencari pantulan dari keburukan yang mereka punya. Mereka mengkambing hitamkan kita semua. Seolah-olah begitu bangga dengan hal itu, kita diam saja dengan perkataan itu.

            Mereka? Iya mereka itu siapa, ya semua orang saja yang membenci kita sebagai umat muslim. Siapapun itu bukan hanya dari luar umat muslim tetapi umat muslim itu sendiri. Kedua jenis orang ini memang sebenarnya adalah kehendak Sang Tunggal untuk kita. Untuk seorang yang mengaku sebagai penganut besar Kekasih Sang Tunggal. Jumlah dari kita pun sangat banyak. Tetapi banyak ini tak begitu kuat. Layaknya kerikil di sekitar rel kereta, kita hanya sebagai peredam getaran kereta api. Kenapa tidak menjadikan diri kita sebagai kesatuan kerikil itu menjadi satu. Sehingga kita dapat menggantikan besi rel, menyatu menjadi jalan sebenarnya menuju Sang Tunggal.

            Bahkan banyaknya kita tidak begitu berarti. “Dan hari hunian ketika kalian merasa takjub dengan jumlah kalian yang banyak, tapi itu tidak berguna bagi kalian sedikitpun” (QS At Taubah:26). Apakah kita akan menjadi seperti itu? Yang jumlahnya banyak tetapi tidak saling melindungi. Hingga semua mempunyai kepentingan masing-masing. Bahkan kecintaan tak lagi terpancar pada diri.

            Salah satu contoh di mana kita telah dipermainkan oleh orang yang membenci dan kita pun percaya. Salah satu contohnya adalah kampanye anti minyak kelapa. Sampai pada puncaknya adalah tahun 2003 WHO mengeluarkan maklumat tentang telah ditemukan bukti menyakinkan bahwa konsumsi palmitic acid meningkatkan resiko penyakit kardiovaskular. (DM, Ary, & Harlan, 2011). Akhirya apa? Mereka memicu petani kelapa umat menuju ketidaktertataan. Menyedihkannya lagi, ketika begitu saja mengamini semua tuduhan tersebut. Tanpa kita coba mempermasalahkan semua yang mereka produksi untuk membunuh umat kita. Lantas apa yang akan kita lakukan untuk itu semua?

Bersuci

            Dari semua yang harus dilakukan sebelum melakukan ibadah, suci menjadi syarat sah. Yah bersuci bukan hanya sekadar untuk membersihkan diri dari kotoran yang nampak, tetapi kotoran yang ada di dalam diri dan tak kasat mata. Bersuci dari kebencian, bersuci dari kesombongan dan bersuci dari ketidak pedulian. Mari membangun diri menjadi pantas mengaku sebagai umat yang menyebarkan penyempurnaan.

Duduk Mendekat

            Sudah saatnya kita duduk untuk saling mendengarkan, saling menguatkan dan saling mengingatkan. Sembari menunggu panggilan untuk beribadah, mari kita duduk. Layaknya hendak sholat, mari kita tentukan siapa yang bertugas untuk mengumandangkan adzan, siapa yang menjadi makmum, dan siapa yang akan menyampaikan khutbah. Hal ini layaknya ajakan Si Mbah, untuk segara duduk dan merumuskan banyak hal yang akan kita hadapi ke depannya.

            Mendekat untuk meng-abdi, untuk saling menolong, untuk saling memotivasi dan saling mendorong. Bukan lagi yang menggali perbedaan, mempermasalahkan hal-hal yang sebenarnya bukan kuasa kita. Mari mempermasalahkan diri kita yang tidak dapat baik dengan sesama saudara. Permasalahan yang mengakibatkan kesatuan pudar.

            Kenapa hal itu baik dilakukan? Karena kita adalah muslim Indonesia. Kita adalah umat pilihan yang dilahirkan di secuil bagian surga. Kita adalah umat muslim yang ingin beradab. Bahkan kita adalah umat yang pernah memiliki masa lalu modern. Jika banyak yang iri, artinya ada banyak yang ingin mereka miliki, tapi mereka tidak punya.

            Kita bukan lagi buih di atas air laut yang hanya mengikuti kemana aliran ombak. Kita adalah ombak itu sendiri. Dengan budaya, dengan keislaman kita, dengan segala sumber daya dan semua curahan kasih sayangNya. Meskipun kita terletak jauh secara geografis dengan sang nabi, semoga kita semakin mendekat dengan akhlak, pemikiran, dan semangat berjuang menuju Sang Tunggal.

Prisma Susila

SHARE
Previous articleCinta Kosong
Next articleRakaat Panjang Diri

LEAVE A REPLY