Ekskalasi Momen

Ekskalasi Momen

0
446

Malaikat Tanpa Sayap

Diam-diam aku mencuri pandang dan  melempar senyum manis kepadanya. Bahkan sesekali memperhatikan setiap gerak gerik yang dilakukannya. Dia yang sedari tadi sibuk sangat mencuri perhatianku, dan mendistorsi pikiranku. Aku sangat berhati-hati dalam memikirkan dan memerhatikannya, agar apa yang sedang dilakukannya berjalan seperti biasanya. Ada kata-kata kagum yang diteriakkan di relung hatiku. Ah.. seperti orang kasamaran saja, tapi memang benar. Aku sudah jatuh hati terhadap apa yang diperjuangkannya.

Pagi itu dia sangat sibuk sekali, tangannya tak pernah berhenti memainkan berbagai piranti untuk mengisi ruang kosong di dalam tubuh. di tengah ketidakpastian yang dihadapi dia sama sekali tak bergeming melanjutkan pekerjaannya. Padahal sesekali sebenarnya dia bisa saja meninggalkan pekerjaanya sejenak, sekedar untuk meregangkan otot tubuhnya yang sedari tadi tegang. Seperti putaran roda yang tidak direm, dia terus berputar dengan anggunnya. Bahkan diri ini sempat dengan spontan bertanya bahwa apa yang ditunggunya belum tentu tiba saat ini. Tetapi dengan nada santai dan tanpa beban dia berkata bahwa memang benar, tetapi tidak ada salahnya untuk mempersiapkan segalanya. Keimanan yang mendalam akan sebuah keniscayaan, di saat dia bisa memilih untuk tidak menyiapkan hal tidak pasti itu. Dia tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan. Semakin besar rasanya getaran dalam hati ini.

Lagi-lagi aku membiarkan diri ini hanyut dalam kekaguman akan ketahanan dirinya yang sangat konstan. Dalam keheningan menyusuri lelakunya, sekelumit jawaban mulai tersibak. Jawaban tentang latar belakang semangatnya dalam menjalani ketidakpastian. Mahluk itu bernama cinta, yang memberinya kekuatan untuk terus melaju. Meski badan sebenarnya sudah mulai lelah, tetapi rasa itu mampu dikalahkan dengan cinta. Cinta yang mampu membunuh keputusasaan, cinta yang mampu membawa kedamaian, terlebih menambah energi badar untuk terus melakukan perjuangan tanpa henti. Cintalah yang mengisi pikiran dan hatinya sehingga lelah itu menjadi sirna, seolah lelah tidak pernah ada dalam kamusnya. seandainya dia memiliki sayap, pastilah dia seorang malaikat.

Kado Dari Tuhan

Dan Tuhan yang menjadi saksi perlehatan salah satu mahluknya, menurunkan sifat Ar-Rahmannya. Kasih sayang berupa sebuah momen. Kado dari Tuhan yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya. Momen yang ditunggunya dikala dia berjuang. Sebenarnya di di sudut hatinya, dia tidak berfokus pada apa yang ditunggunya, dia hanya mempersiapkan yang terbaik. Sehingga nanti ketika momen itu datang dia sudah siap.

Sebuah usaha yang akhirnya menemukan ujungnya, setelah melakukan serangkaian ijtihad. Janji Tuhan selalu tepat, kesungguhan untuk sebuah ketidakpastian telah terbalas oleh kepastian. Apa yang dinantikannya akhirnya datang tepat setelah dipersiapkan dengan baik olehnya. Dan lagi-lagi Tuhan tidak akan memberikan sebuah momen manakala hamba-hambanya masi belum siap untuk menerimanya. Terkadang Tuhan memberikan momen itu, meskipun hambanya belum siap. Dan pada akhirnya sebuah pelajaran dapat dipetik, untuk mempersiapkan segala sesuatunya sebaik mungkin.

Misteri Masa Depan

Demi masa sesungguhnya dia yang telah menghabiskan waktunya tidak dalam kesia-siaan. dia bisa saja bersantai ria pada saat itu karena memang sedang liburan. Tetapi tidak, dia memilih untuk menghabiskan waktu liburnya dengan terus mempersiapkan segala kemungkinan. Yang selanjutnya langsung mendapat jawaban dari Tuhan. Dia yang sedari tadi memacu dirinya agar sanggup menerima momen, sebenarnya telah melakukan percepatan dalam dirinya. Putaran usaha dan laju kerja keras yang dilantunkan tangan-tangan manisnya merupakan sebuah ekskalasi. Sebuah percepatan untuk menemui sebuah momen. Bisa saja Tuhan tidak memberikan momen kepadanya saat itu, tetapi kemauan dan aliran energi yang disalurkan kepada alam ini, bisa juga menjadi faktor Tuhan menurunkan Kasih Sayangnya. Kita benar-benar tidak tahu tentang masa depan, tetapi masa depan dapat dipersiapkan sebaik-baiknya. Sehingga saat kita menemuinya kita sudah memiliki amunisi yang cukup.

Demi masa manusia tidak pernah tau, kapan sang waktu akan berhenti. Sebelum waktu benar-benar dihentikan, tak ada salahnya untuk terus melakukan ekskalasi momen. Sehingga kita selalu siap untuk menemuinya, seperti kisah malaikat tanpa sayap tadi.

*)Firza Dwi Hasanah

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY