Energi Besar Energi Badar

Energi Besar Energi Badar

0
629

“Mungkin kau tak tahu, sebenarnya aku tak ingin berbagi tahu. Hanya saja, terhadap masa lalu manapun. Lambat laun aku selalu berhasil tak bersahabat dengan benci.
Sembari menikmati kerasnya dunia, aku membersamainya dengan bernarasi.
Hai masa depan!”

Hari sepertinya tak bosan, mengulang waktu yang sama tiap putaran detik yang diwakili jarum kecil panjang berwarna merah. Dua puluh empat jam yang sama. Pagi, siang dan sore yang sama, malampun juga turut menjadi malam yang sama. Seolah sebuah citra untuk menggambarkan bahwa manusia memang memiliki dua puluh jam yang sama. Namun selalu ada hasil spesial bagi manusia yang mau berusaha lebih keras, berusaha terjaga disaat pesona dunia membuat yang lain mulai terlelap. Kelelapan yang menjadi tabir atas kesadaran yang semakin hari semakin memburam. Kesadaran hati nurani masing-masing.

Dunia yang Memesona

Benarlah memang jika dunia adalah lahan ujian. Ujian selalu menjadi momen yang memicu kekhawatiran. Maka waspada adalah pilihan utama. Eling, memegang bekal tidak hanya sebagai pelengkap, namun juga alat yang mampu melengkapi. Digunakan dengan bijak kemudian dimanfaatkan dengan tepat. Tiba-tiba suara itu hinggap pelan, datar samar namun merasuk “Jangan mati-matian mengejar sesuatu yang tak bisa dibawa mati.” Karena bumi hanya lahan ujian, waktu ujian hanya sekian jam dari segala masa yang seharusnya dilalui. Dan karena bumi ini ujian, maka sudah pasti ada saja yang menggoda. Menguji sampai batas mana tingkat kesadaran diri. Sebagaimana ujian-ujian lain, ujian hidup juga memiliki pengawas. Pengawas yang akan mengawasi tidak hanya kecuranganmu, sesekali dia juga akan mengagumi kejujuranmu. Tersenyum atas kepolosanmu dan tertawa sedikit lebih keras dari biasanya, tawa yang dipicu oleh tingkah-tingkah konyolmu.

Sebagaimana ujian lain, ujian hidup akan ada banyak soal yang perlu dihayati dengan segala primadona-primadona yang menggoda. Soal tingkat tinggi selalu berbalut masalah berlapis. Maka jika saat ini engkau sedang merasa hidup tengah menguji, siapapun kalian kawan, sejatinya itu adalah kesempatan untuk menjadikan dirimu naik ke tingkat selanjutnya. Jawaban atas segala do’a yang seringkali kau panjatkan. Bentuk tanggung jawab Tuhan sekaligus bukti bahwa Sang Khalik teramat mengasihi, mengasihimu dan mengasihi siapapun yang dihatinya bersemayam kasih sayang.

Tentu di tingkat lanjut ujiannya juga akan semakin meningkat pula. Karena ujian paling tinggi bukanlah mengalahkan iblis berlabel dajal, melainkan mengendalikan dirimu sendiri, diriku sendiri. Musuh bebuyutan bukanlah gerakan freemason, tikus negara apalagi provokator pengadu domba, musuh bebuyutanmu adalah dirimu sendiri. Persis seperti paparan ringan sederhana namun bersahaja milik SMDP. Paparan yang sering dibawakan penuh jenaka oleh Mas Sabrang dengan gayanya yang khas konco kenthel iyo tho? “Semakin dirimu pintar, bertambah pintar pula musuh bebuyutanmu. Setiap dirimu bertambah bijak, semakin bijak juga musuh bebuyutanmu.” Tapi ketika kau terlena, maka musuhmu lah yang akan mencuri kesempatan. Mengambil alih dirimu, merebut kesejatianmu.

Menjawab Sekaligus Bertanggung Jawab

Kawan, aku dan engkau gagal bukan satu dua kali. Kita sama, seringkali memandang dunia nyata tak seindah mimpi. Namun seberapapun mimpi itu indah, kita harus tetap bangun. Karena tugas manusia adalah mengkhalifahi dunia, bukan mengkhalifahi mimpi. Tuhan memang begitu, Ia selalu nampak elegan dengan segala tingkah polahNya. Memunculkan ketakjuban-ketakjuban baru. Dan ketakjuban yang begitu ku ingat adalah sebebrapapun berat masalah yang dihadapi, betapa masalah hidup begitu berperan menjadikan kita sebijak hari ini. Sedewasa sekarang. Maka tidak ada alasan yang masuk akal bagi kita untuk teramat larut meratapi masalah, kini adalah bagian generasi kita untuk menjawab tantangan jaman, menjawab sekaligus bertanggung jawab.

Menjawab tantangan jaman adalah kata yang seringkali ku tangkap dari pandangan kaca mata Cak Dil. Menjawab memang urusan kata, tapi jikalau bertanggung jawab itu bukan hanya urusan verbal melainkan tindak nyata. Bersahabat dengan keringat dan berteman dengan tangisan, orang kebanyakan prefer menyebut dengan istilah berjuang. Berjuang tidak selalu membahagiakan, namun selalu ada sisi yang bisa dinikmati. Ada banyak.

Buah dan Biji Maiyah

Kawan, aku ingin bercerita, tentang sesuatu yang kecil namun memancarkan kebesaran. Dalam bulan ini banyak orang yang sudah kutemui. Namun pertemuan dengannya adalah salah satu pertemuan paling terkenang. Sepanjang hari itu rasanya aku bisa saja melukiskan setiap kejadian dalam balutan kata-kata puitis tingkat sadis, setiap momennya, bergantung di bagian mana kalian ingin mendapatkan jatah khasanah keilmuanya. Selepas diri bersimbah lelah dengan rutinis ekspedisi jogja bertajuk perang badar. Perang tentang purnama, perihal menyikap cahaya purnama asli yang tertutup cahaya bulan buatan. Kemudian diri dihadapkan pada sosok yang masyhur disapa Cak Dil, untuk sekadar menyapa dan meminta pertimbangan.

Cak Dil, dia adalah sosok yang biasa, teramat biasa malah. Bahkan untuk urusan gagah, tak sedikitpun aku kalah. Bentuk fisik, tentu aku lebih muda dan lebih asyik. Namun spesial tidak hanya menyoal tampilan visual kawan. Ada sesuatu yang bersembunyi dibalik interface yang biasa, antarmuka biasa itu melapisi sesuatu yang amat berharga di dalamnya. Dan kau tentu tahu kawan, sesuatu yang amat berharga tak pernah diumbar semena-mena. Ia ada tapi pasti bersembunyi.

Ada sesuatu dibalik renung penuh pertimbangannya. Ada hal yang beda dari cara pandangnya yang jauh ke depan. Cara pandang yang tidak dimiliki manusia sembarang. Setiap katanya terangkum hati-hati, seolah tidak ingin mengecewakan siapapun. Ia nampak selalu ingin menuntun dengan santun, setiap nada ia gesek penuh irama. Benar-benar ada sesuatu. Sesuatu itu, kata sesuatu belum cukup mampu menjelaskan segala kebijaksanaanya. Tak pernah cakap mengurai langkah panjangnya, langkah-langkah dalam hidup. Pengalaman-pengalaman yang ia sampaikan hanya sekian persen dari segala pahit yang ia tahan untuk tidak diutarakan. Karena ia tak ingin membagi pahit manapun, cukup ia saja yang merasa. Dan untuk anak cucu keturunannya, selalu ia semogakan agar tak pernah merasakan pahit yang sama.

Cak Dil, rasanya seperti mbah yang membelai mesra rambut cucunya. Ia sertakan kasih sayang dalam setiap usapan itu. Usapan yang nampak bersentuhan dengan rambut tapi rasanya bagai mengusap hati. “Keinginan besar selalu membutuhkan energi besar pula. Jika tak cukup mampu berjalan dalam ramai, maka ada jalan lain yaitu sunyi. Identifikasi masalahnya, tarik jalan keluarnya. Perjuangan memang butuh kekuatan yang besar, massa yang banyak. Namun semua tidak berarti jika tidak disertai ketahanan yang prima, stamina.” Saat itu pula rasanya Cak Nun pun turut hadir, membersamai wejangan Cak Dil dengan rangkaian katanya yang utuh terbalut puisi “Terhadap segala niat baikmu, Tuhan tidak hanya merestui namun juga menfasilitasi.”

Lantunan kalimat itulah salah satu buah-buah Maiyah. Aku, kau, mereka dan siapa saja boleh menikmatinya, sesuka hati. Buah-buah itu hadir dari proses menanam. Menanam kebaikan, meski hanya sekadar duduk-duduk di tengah waktu dunia yang sama sekali tidak terlihat sibuk. Membincang agak nakal berbagai masalah dengan beragam cara ngakali. Kelak jika saatnya tiba, buah-buah itu akan teramat mengenyangkan hati kosongmu. Tanpa terasa tanpa pernah diminta, kemudahan selalu saja datang membersamai kesusahan. Dan jangan lupa, tanam kembali biji-biji dari buah yang berhasil kau nikmati. Itu adalah salah satu cara berjuang. Dan dalam perjuangan apapun, sungguh kita tidak sedang memperjuangkan diri sendiri melainkan memperjuangkan keberlangsungan anak cucu keturunan. Salam sungkem kagem Cak Nun sekalian Cak Dil. Mugi tansah pinaringan wilujeng.

Ya Allah, padaMu aku mengeluh atas semua kelemahanku, kekuranganku. KepadaMu pula aku mengadu atas segala miskin dayaku dan seluruh kerendahanku di hadapan manusia lain.

Yang Maha Pengasih, Engkaulah satu-satunya Tuhan Pengasih, Tuhan bagi kaum lemah, kaum yang dilemahkan.

Kaulah Tuhanku. Kepada siapa Kau akan mempercayakanku? Kepada seseorang yang akan memanfaatkanku, menyalahgunakan aku? Atau, kepada musuh yang kau anugerahi kuat melebihi kekuatanku? Boleh saja, asal Kau tidak marah padaku, aku bisa menerima. Pilihan-Mu selalu kupercaya lebih mengesankan dari pilihanku.

Aku meminta sembari memohon, permohonan yang disertai segala keyakinan atas kemurahanMu. Ijinkan aku berlindung dalam cahaya-Mu. Cahaya yang menerangi segala benda yang ada di dunia. Perkenankan aku mencoba mendekat, dekat yang memang Kau sengajakan untuk didekatkan.

Asalkan kemurkaanMu tidak Kau turunkan kepadaku. Asal kemarahan-Mu tidak kau tujukan kepadaku. Segalanya hanya untuk kepuasan-Mu dan semoga Engkau puas.

Penulis : Ifa Alif

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY