“Setelah membawa lentera, tugas sesungguhnya bukanlah membawanya kemana-mana, tetapi senantiasa menjaga nyala lentera itu”

Jalan Menuju Lentera

Gadis itu terpanah melihat banyak lentera bertebaran di tempat ini. Lentera yang menyala dengan berbagai macam frekuensi karena tak didapat dari satu sumber saja. Keindahan lingkar cahaya yang tentu membuat setiap langkah ingin mendekat, bahkan memilikinya. Hingga pada suatu titik gadis itu memutuskan membawa lentera itu bersamanya.

April 2015, entah, dorongan apa yang membuat gadis itu memberanikan diri untuk menyusuri perjalanan yang tak banyak diketahuinya. Pengetahuannya hanyalah tentang lentera yang berada di muara perjalanan ini. Bahkan, jalan untuk sampai ke tempat tujuan pun masih belum melekat diingatannya. Sekali lagi, keinginan untuk terpapar hangatnya sinar lentera dan terkena pancaran cahayanya terlampau kuat.

Benar saja tersesat menjadi menu utama perjalanan malam itu. Gadis itu hanya bisa tersenyum lebar dan sesekali berdecak keheranan karena sudah beberapa kali melewati jalan yang sama. Tetapi dia benar-benar menikmati perjalanan malam itu, dan terus berusaha mencari jalan yang benar.  Baginya tersesat adalah bagian paling mengasyikan saat melakukan perjalanan, karenanya kita dapat membangun kemesraan untuk selalu berucap ihdinasshirotolmustaqqim.

Sampailah pada tempat dimana lentera-lentera itu berada. Sungguh ketika sampai gadis ini teramat terpesona melihat keelokkan lentera itu. Sorot cahayanya tak menyilaukan, tetapi meneduhkan. Membuat yang berada di sekitarnya merasa damai. Tempat untuk menuju pada Yang Satu dan mampu menyihir tubuh kecilnya untuk tetap sadar hingga fajar datang. Hujan cahaya, cahaya tentang nilai Rasulullah dan Maha Cinta yang termaktub dalam sebuah lentera.

Ada bulir-bulir kerinduan yang menyelinap masuk tanpa permisi. Rindu yang selama ini dinantikannya. Kerinduan pada lentera yang seolah sedang melengkapi sesuatu yang tidak pernah berhenti dicarinya. Lentera ini membuatnya rindu untuk bertemu kembali, rindu untuk bertajali setiap harinya, bahkan setiap saat.  Pertemuan dengan lentera yang menyituasikan gadis itu untuk membawanya pergi atau hanya melihatnya saja dan melupakannya saat itu juga. Ketika memilih untuk membawa lentera sebenarnya gadis itu sedang memilih untuk meneruskan tugas selanjutnya.

Kesadaran Menjaga Lentera

Tugas itu bukanlah membawa lentera kemana-mana. Seperti yang diketahui sifat cahaya dalam lentera adalah berisi energi panas dan energi cahaya. Energi tersebut sewaktu-waktu dapat berubah atau dinamis. Karena sifat energi yang kekal tetapi dapat berubah bentuk. Di sinilah peran gadis itu mulai terlihat, dia harus mampu melihat kapan sebuah lentera akan kehilangan nyalanya. Kapan energi yang dimiliki lentera akan berubah bentuk, sehingga lentera tak lagi bercahaya. Akan menjadi percuma membawa lentera kemana saja kaki melangkah, tetapi tidak ada kesadaran apakah lentera itu masih menyala atau sudah lama kehilangan nyalanya. Lentera yang sesungguhnya dinamis diartikan sebagai sesuatu yang statis atau padatan. Tetap menjaga agar lentera itu menyala merupakan the main key bagi gadis yang telah memilih membawa lentera.

Bukan hanya mengerti mencegah perubahan energi cahaya tetapi juga bahan bakar untuk menyalakan lentera tadi. Cahaya yang berupa nilai-nilai sehingga dapat menerangi perjalanan siapa saja dapat dijaga dengan mengumpulkan bahan baku nilai, yaitu pencarian ke dalam diri sendiri. Mentadabburi apa saja yang telah diperoleh dari tempat lentera berada. Setelah mendapatkan belaian cahaya dari tempat lentera berada, maka harus bisa mengkondisikan suasana yang sama agar nyalanya yang mulai redup dapat menyala kembali di manapun berada.

Kondisi menyala dapat terus dipertahankan ketika pembawa lentera mampu menyelami lentera itu sendiri. Lentera yang memberikan segala cahayanya untuk sekitar, yang bertujuan agar kegelapan dapat mulai menemukan penerangan dengan bantuannya. Serta, menuntun untuk menemukan jalan, tak lupa menghangatkan dikala dingin. Tetapi terkadang siapa saja yang mendapat cahaya atau apapun dari lentera lupa bahwa yang memberinya memang lentera.

Tak apa, lentera memang tidak untuk disebut dan dibanggakan bahwa dia berjasa. Tugasnya hanyalah membuat yang gelap menjadi terang, dan yang dingin menjadi hangat. Lentera akan semakin terang ketika tak banyak yang memperhatikannya, tetapi dia tetap memberikan apa yang seharusnya ditebarkan olehnya. Yang berarti keberlangsungan nyala lentera sesungguhnya ketika lentera mampu menyebarkan energinya bukan malah menyimpannya. Sebuah titik balik ketika orang-orang mengingat dan menyanjung apa yang sudah dilakukan oleh lentera maka ada kemungkinan dia kehilangan dirinya dan berpotensi kehilangan nyalanya. Karena hal itu dapat menjadi hembusan angin kencang yang dapat mematikan lentera.

Bukan perkara yang mudah saat membawa lentera, dan menjadi suatu tantangan bagi gadis itu ataupun siapa saja yang mampu terus menjaga nyala lentera itu. Karena substansi dari sebuah lentera yang terus bergerak dinamis. Seseorang sering terjebak dengan kata lentera, merasa tenang bahwa telah memiliki lentera tetapi lupa dan terkadang kehilangan kesadaran untuk memastikan apakah lentera yang mereka bawa adalah lentera yang masih terjaga nyalanya atau mati suri. Dan ketika pembawa lentera telah mengetahui bagaiamana cara menyalakan lentera, mereka masih memiliki misi selanjutnya untuk meletakkan lentera….

Bersambung..
*merupakan sekuel ke-2 gadis-gadis pembawa lentera

Firza Dwi Hasanah

SHARE
Previous articleJemari, Jangan Terberai!
Next articleAbdi kesatria

LEAVE A REPLY