Millennial merebak seiring era kepemimpinan Obama. Millennial tak lain juga berasal dari kata Milenium, bilangan untuk tiap jangka waktu seribu tahun dalam kalender. Istilah alaf, alfun, berasal dari bahasa Arab yang berarti juga 1000. Tahun 2000 disebut sebagai awal dari alaf baru dalam memasuki alaf ketiga (tahun 2000 sampai tahun 2999). Sedang generasi Millennial merujuk pada mereka kelahiran antara tahun 1981-1994 (beberapa yang lain menyebut hingga sebelum tahun 2000).

Generasi Millennial Indonesia, generasi yang merasakan bagaimana besarnya letusan gunung berapi, dan melihat bagaimana dahsyatnya terjangan tsunami yang belum tentu akan terjadi pada kurun waktu 50-100 tahun mendatang. Mereka menempati porsi terbesar dalam demografi. Artinya mayoritas penduduk saat ini adalah generasi muda millenial. Mereka adalah orang-orang dengan usia produktif, juga calon pemimpin pada 2045, 100 tahun kemerdekaan Indonesia nanti.

Generasi Millennial Maiyah, merupakan generasi yang teramat beruntung karena diakselerasi kehidupannya oleh para expert, sesepuh guru-guru Bangsa dalam segala lini, baik dalam hal spiritual, pendidikan, kesehatan, politik dll. Terdapat dua belas ciri (perilaku dan life style) mereka, dua di antaranya adalah IT Addict (kecanduan teknologi informasi) dan FOMO (aktif bermedia sosial seperti facebook dan twitter).

Revolusi Industri Keempat, pada Digital Technology, menurut Cak Nun merupakan revolusi pemudahan sekaligus radikalisasi pengambrukan, hari-hari dan malam-malam kehidupan manusia akan disibukkan oleh lalu lalang kejayaan dan kehancuran bersaling-silang, bahkan sudah tidak ada ikatan siang atau malam, ruang sudah diperas dan waktu sudah dilipat. Dan itu semua bukan terletak di masa depan. Bukan skala dekade. Apalagi kurun atau era. Ini sudah dan sedang berlangsung.

Maka Cak Nun memberikan 4 kunci yang harus dimiliki oleh generasi ini, yakni Aqidah dan Akhlak harus beres, harus memiliki jiwa militer (kemampuan memiliterkan diri sendiri), memahami akuntansi dan manajemen dan juga menguasai Teknologi Informasi. Menyoal Pemuda, menurut United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) mendefinisikan sebagai “…a period of transition from the dependence of childhood to adulthood’s independence and awareness of our interdependence as members of a community…”. “Pemuda” adalah mereka yang sedang menjalani transisi dari masa kanak-kanak menuju periode ketika mereka dituntut untuk menjadi lebih mandiri dan independen. Pada periode tersebut, mereka juga diharapkan untuk memiliki kepekaan sebagai bagian dari masyarakat tempatnya beraktivitas. Secara usia, UNESCO juga membatasi mereka yang dapat disebut sebagai pemuda adalah mereka yang berusia antara 15-24 tahun. Sedang mengutip pasal 1 ayat 1 dari UU Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan yang berbunyi : “Pemuda adalah warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16 (enam belas) sampai 30 (tiga puluh) tahun.”

Mas Harianto pada sebuah sesi maiyahan pernah membongkar kosakata Pemuda, Pemuda bukan hanya pembatasan secara rentang usia saja. Kita mengistilahkan pencuri untuk mereka yang pekerjaannya mencuri, penjahit untuk yang pekerjaannya menjahit dan pemuda adalah untuk mereka yang pekerjaannya memudahkan orang lain, memberikan terobosan akan masalah-masalah yang ada, dalam kategori demikian Cak Fuad, Cak Nun, dan  Cak Dil  pun masuk dalam kategori pemuda yang sangat inspiratif di Negeri Maiyah.

Namun, Pemuda Generasi Milennial Maiyah juga merupakan generasi yang menyaksikan sadisnya pengkhianatan, maraknya pembunuhan karakter dan kejinya pemfitnahan. Di punggung mereka terdapat tanggung jawab berat, tumpukan masalah segala bidang, hutang bertriliun-triliun rupiah yang belum pernah terbayangkan apakah akan ada uang sebanyak itu. Apakah negeri ini akan menyusul Zimbabwe yang memakai mata uang Yuan karena tak sanggup membayar hutangnya?

Sedang karena kita tak pandai menggunakan media sosial dengan mudahnya diadu domba oleh Asing. Dan semakin dalamnya kita berseteru maka mereka akan semakin tertawa terbahak atas kebodohan kita. Bung Karno pernah berpesan, perang melawan asing itu lebih mudah, sebab  mereka jelas memiliki hidung yang berbeda dengan hidungmu, namun yang paling menakutkan adalah terjadinya perang saudara. Kekhawatiran Bung Karno kian menjadi nyata, bahwa memperoleh kemerdekaan atas negeri ini lebih mudah daripada mempertahankan kemerdekaan itu, sebab ketika kita tak mampu mempertahankannya maka kita akan menjadi bangsa kuli. Lalu, pertanyaannya sekarang, apakah kita masih merdeka dan berdaulat atas diri kita? Atas apa yang kita makan dan kita pakai?

Dalam demokrasi hari ini, banyak orang menginginkan adanya perubahan namun tidak mau ikut proses pahitnya. Padahal untuk hidup sehat terkadang harus memakan obat pahit. Kita memaki Asing yang menguasai tanah kita, tapi itu juga terjadi tak lain karena persetujuan asing dan pribumi. Semoga dari sini terlahir kesadaran seberapapun kepepetnya, kita tidak dengan mudah menjual tanah kepada asing. Pemuda yang pekerjaannya memudahkan harus peka akan masalah sosial di sekitar, memiliki kesadaran tinggi, memiliki analisis kritis serta cepat tanggap mencari strategi akan masalah dan tetap nguri-uri budaya di tengah gerusan gencarnya pengaruh luar yang melunturkan tradisi.

Generasi Millenial Maiyah belajar kembali, bagaimana pendidikan yang benar, sistem pemerintahan yang baik dan persaudaraan yang indah agar tidak mudah dipecah belah. Kita sudah teramat jauh dari kata kelaparan dibandingkan kakek nenek kita yang berjuang tempo dulu, maka apa yang menjadi penghalang memperbaiki negeri selain kemauan. Memperbaiki dari lini terkecil, diri sendiri, keluarga, sahabat, komunitas-komunitas kita. Mari terus menanam di setiap detik yang tersisa, terjang libas segala batas.

Hessen | Germany Oktober 2016
Nafisatul Wakhidah

LEAVE A REPLY