Detik demi detik berdetak sangat lambat
Menyiksaku dalam penantian
Detik demi detik berdetak semakin lambat
Menderaku dalam pengharapan

Semakin erat aku dekap kehidupan
Semakin sempurna kekalahan
Dan ketika senja berangkat gelap
Duka dan sesal datang terlambat..
(CNKK)

Jarum jam di dinding itu seolah tak jenuh berputar. Ia selalu kembali ke tempat ia berangkat. Entah siapa yang pertama kali memberi ide, bahwa ia dinamai penunjuk waktu. Tak sedikit orang yang kemudian mengabaikannya, hingga level kehilangan kesadaran yang kemudian tak bisa lagi membedakan jam dan waktu. Jam adalah waktu, dan waktu adalah jam. Begitulah kebanyakan pikiran orang, seolah-olah detik ke-1 dan ke-61 merupakan peristiwa yang sama.

Tetapi waktu tidaklah berjalan siklikal (melingkar) sebagaimana jarum jam. Bertanyalah pada para pembalap MotoGP, apakah berarti waktu 1 detik itu? Itu akan sangat menentukan posisi start saat balapan dimulai. Dan itu akan memberi perbedaan level rasa kebahagiaan yang sangat signifikan saat menyentuh garis finish. Bertanyalah pada mereka yang sedang berjalan kaki dan “nyaris” terserempet kereta api andai saja ia melangkah lebih cepat 1 detik. Tampak lucu memang bagaimana bisa perbedaan 1 detik bisa memberi kebahagiaan hingga 1000 kali lipat.

Adakah yang lebih lucu lagi? Ketika ribuan, jutaan bahkan ratusan juta orang hanya melalui hari demi hari yang seolah tak ada beda, karena dimulai dengan terbitnya matahari di waktu fajar, dan berakhir munculnya sang rembulan saat senja datang. Orang-orang yang tampak acak aktifitas kesehariannya tetapi sesungguhnya memiliki pola dasar yang sama, yakni sama-sama menunggu bumi berubah dengan ajaibnya untuk memberi orang-orang itu kenyamanan hidup. Apakah itu berarti pekerjaan menunggu adalah pekerjaan sia-sia? Ini jelas pertanyaan sarkastis, apalagi bila yang dituju adalah para jomblo..sekali lagi, menunggu bukanlah pekerjaan sia-sia, hanya lucu saja. Toh, terkadang memang ada beberapa peristiwa atau momen yang tak bisa disentuh ataupun dimanipulasi selain ditunggu. Sebagaimana momen maghrib bagi jiwa-jiwa yang mengabaikan isi perut semenjak subuh. Ia hanya bisa ditunggu, tak bisa diusahakan untuk dipercepat.

Tetapi bagaimanapun, menunggu tetaplah memiliki potensi menjenuhkan nan melelahkan. Mungkin bila hanya raga fisik yang lelah, merebahkan tubuh ini beberapa saat sudah cukup untuk bangkit kembali. Tetapi jiwa yang lelah akan sangat mudah membuat seseorang kehilangan pagar-pagar kesadarannya hingga kemudian membiarkan stimulasi apapun memasuki sisi terdalam akalnya tanpa disaring terlebih dahulu.

Dan…

Cobalah perhatikan, apakah yang lebih sering menimbulkan kekacauan antara diam dan bergerak membabi buta? Bahwa manusia seharusnya bergerak sesuai keperluannya, yang itu berarti diam terlalu lama dan bergerak terlalu agresif, keduanya adalah sama-sama tidak berdampak baik nantinya. Tetapi diantara keduanya, bila terpaksa harus memilih, maka pertimbangannya adalah mana diantara keduanya yang memberi dampak merugikan paling sedikit. Jawabnya diam. Sebuah gerakan tanpa rencana tujuan akan sangat berpotensi menimbulkan luka-luka atau masalah-masalah baru.

Maka jangan terburu panik bila seorang anak susah makan. Tunggu sajalah, ia mungkin sedang di jalan yang benar, meneliti setiap butir nasi yang masuk ke dalam mulutnya. Karena anak itu diam-diam sudah meyakini di luar kesadarannya bahwa setiap butir nasi yang dimasukkan, menentukan masa depannya, bahkan anak cucunya kelak. Dan sebuah penelitian detail selalu membutuhkan waktu panjang. Tetapi mulailah membangun kewaspadaan bahkan sedikit kepanikan, bila seorang anak semenjak dini sangat doyan makan. Anak itu bisa jadi, tanpa disadarinya, sedang merobohkan benteng-benteng pertahanan dirinya dan membangun keserakahan-keserakahan baru. Dan disitulah sebuah ritual pengosongan perut pada waktu-waktu tertentu diperlukan, sebagai sarana mengendalikan dorongan-dorongan keserakahan. Bagaimanapun, tubuh manusia tak dicipta untuk mampu menampung banyak makanan. Tubuh mungil ini sangatlah terbatas kapasitasnya hingga diperlukan kesadaran akal yang kontinyu untuk mengelolanya.

Kesadaran manakah?

Mata terbuka, mampu menyaksikan segala yang ada di depannya, sama sekali bukan perwujudan bahwasannya seseorang tersebut terjaga kesadarannya. Kesadaran sama sekali tidak identik dengan bangun. Pun ketidaksadaran tidak identik dengan tidur. Ada situasi-situasi dimana seseorang tampak terbuka matanya, seolah menatap tajam ke depan, tetapi sama sekali tak paham apa yang sesungguhnya terjadi di hadapannya. Dan ini adalah kebanyakan waktu hidup kita dalam 24 jam sehari. Sebaliknya, ada situasi dimana mata tampak tertutup rapat, tetapi seseorang itu mampu memahami apa yang ada dihadapannya, baik pada dimensi ruang maupun waktu. Yang terbaik adalah ketika seseorang terbuka matanya sekaligus ia paham apa yang ada di depannya, tetapi ini tak mudah.

Sebuah tempat bisa dicipta. Lihatlah bangunan-bangunan kota kembar atau lebih dikenal dengan konsep twin city. Sebuah kota di Indonesia bisa sangat mirip dengan konsep kota di Australia, karena memang disesuaikan. Atau lebih mudah lagi, pergilah rekreasi ke Taman-taman Mini. Disana akan tersaji miniatur-miniatur atau prototipe sebuah tempat di seluruh Nusantara bahkan dunia.

Tetapi tidak dengan waktu. Belum pernah ada dalam sejarah sebuah momen dapat di-kloning atau diciptakan mirip dengan momen yang lain. Peristiwa  mudik di saban hari raya tiba, sekilas tampak sama dari tahun ke tahun. Tetapi, bila diperhatikan saja sedikit mendalam, selalu ada perbedaan yang teramat mencolok.

Mulailah membangun skala prioritas kesadaran. Setidaknya ada dua dimensi yang senantiasa dihadapi tiap-tiap individu. Dimensi ruang dan waktu. Bila kau tak mampu memahami sekarang sedang berada dimana dan bahkan tak paham hendak melangkah kemana, memang itu sebuah kecelakaan. Tetapi percayalah, itu bukan kecelakaan besar, bahkan itu sebuah kecelakaan yang menguatkan. Pun bila tak jua menemukan seseorang yang merupakan mindmate-mu, seseorang yang sesungguhnya adalah kau sendiri di luar tubuhmu, percayalah itu sama sekali bukan musibah bagi hidupmu. Bisa jadi itu Tuhan sedang memperkuat akar-akar akalmu, agar kau mampu membangun jalan dengan kebahagiaan menuju Keindahan Sejati.

Tetapi bila kau tak jua sadar bahwa waktu tak berjalan sebagaimana detik-detik jam di dinding, bisa jadi yang sedang kau bangun adalah bencana terbesar hidupmu. Bila masih saja terlalu erat kehidupan dunia didekap, bersiaplah terbangun mendadak ketika dihadapanmu tiba-tiba saja senja beranjak gelap, dan tak ada lagi yang bisa dirasakan kecuali duka dan sesal yang menancap teramat dalam hingga tak mampu dicerabut.

Mulailah mengamati hari demi hari, jam demi jam, menit demi menit, detik demi detik dengan mata hati termurni. Momentum datang tak menunggu permintaanmu. Mulailah berani bertanding apa yang sudah engkau latih. Bila 1 bulan penuh kau berani setiap hari menghadapi situasi hidup mati, yakni dengan secara konstan saban harinya mengosongkan perut, mengapa hari ini tak kau lanjutkan saja keberanian yang sudah terlanjur kau bangun?

Hidup memang pilihan, diam terhanyut oleh situasi, ataukah bergerak agresif hingga membabi buta. Satu hal yang perlu kau ketahui, selalu ada pilihan ketiga diantara tawaran dua pilihan. Mari kita mulai mainkan irama kehidupan, agar tahu kapan diam, kapan bergerak agresif.

Selamat berpuasa sepanjang zaman, dan mari berharap berhari raya di Sorga.

Christyaji Indradmojo

 

LEAVE A REPLY