Apakah komponen penyusun benda bernama manusia? Kebaikan, keburukan, keingintahuan, kemauan yang diaduk dan dikomposisikan menjadi  suatu kesatuan (entitas) pada ruang dan waktu tertentu.

Api, cahaya dan panas.

Kapasitas yang teramat tinggi, membuat tubuh mampu menampung apapun, terkadang tanpa seleksi. Pun ketika tubuh membutuhkan cahaya untuk memandu jalannya, tubuh tak menyeleksi jenis cahaya yang masuk. Bahkan api pun ditampungnya. Bukan tanpa alasan tubuh mau menampung api, karena tubuh pun membutuhkan panas untuk bergerak. Api merupakan pedang bermata dua, bisa membantu sekaligus bisa membunuh. Bergantung pada penggunanya. Ia bisa saja mengambil cahayanya saja untuk menerangi hidupnya. Dibutuhkan kesadaran yang teramat tinggi untuk ini. Paling mudah ambil cahaya dan panasnya. Ketika keputusan ini diambil dengan mengabaikan kesadaran, bersiap-siaplah terbakar, karena gelombang panas akan jauh lebih besar daripada gelombang cahaya.

Cukuplah ambil cahaya dari api, sedang panasnya biarlah diambil bagi yang membutuhkan. Tubuh tak memerlukan banyak panas untuk bertahan. Tubuh tak membutuhkan seluruh darah untuk bertahan. Dan bahkan bila kesadaranmu mencapai puncak, engkau akan paham bahwa yang diperlukan untuk hidupmu adalah kemauan. Engkau tak memerlukan tubuhmu sama sekali, seperti yang kau pikirkan saat ini. Tubuhmu ada hanyalah supaya orang lain bisa memahamimu walau hanya sedikit. Tubuhmu ada supaya orang lain tak kebingungan bila suatu saat menerima bantuan atau pertolongan yang dilewatkan melaluimu. Maka, biarkanlah bila orang lain membutuhkan tubuhmu untuk menegakkan hidupnya. Berikanlah darahmu bila orang lain membutuhkan untuk melepas dahaganya. Ia hanya belum paham, belum sampai pada kesadaran tertinggi hingga masih membutuhkan tubuh dan darahmu. Bantulah ia dengan tubuh dan darahmu, mungkin itu bisa membantu kesadarannya. Lagipula, tubuh dan darahmu bukanlah milikmu, itu milik-Nya. Mungkin sudah tiba saatnya engkau tak lagi membutuhkan tubuh dan darahmu untuk mencapai kesadaran puncakmu. Bila sesuatu di dirimu tak lagi dibutuhkan, maka itu tak akan lagi menjadi penunjang melainkan berubah menjadi beban hidup.

PNS vs kemerdekaan

Bila menjadi pegawai adalah keputusan jalan hidupmu, bersiap-siaplah kehilangan kemerdekaan. Tetapi jangan sampai terlarut dalam kegelisahan bahwa kemerdekaanmu tergadaikan. Capailah kesadaran tertinggi supaya dapat membedakan kemerdekaan semu dan kemerdekaan sejati. Supaya memahami perbedaan kemerdekaan tubuh dan kemerdekaan diri. Supaya bisa mengerti perbedaan kemerdekaan identitas dan kemerdekaan personalitas. Bila suatu saat terpaksa kehilangan kemerdekaan identitas, maka berjuanglah hingga titik kesadaran terakhir agar tak kehilangan kemerdekaan personalitas. Karena kemerdekaan personalitas engkau butuhkan untuk menghilangkan dirimu. Iya, menghilangkan dirimu. Karena engkau pasti tahu dan yakin bahwa dirimu sesungguhnya adalah penghalang terbesar untuk mencapai “diri-Nya”.

Biarlah tahimu untuk para lele, tak usah bawa cambuk untuk mengusir mereka.

Siapa yang bisa tahu bila sesuatu yang kau anggap buruk itu merupakan hal terbaik bagi pihak lain. Belajarlah pada lele dan tumbuhan. Tak semua yang ada di dalam tubuhmu adalah milikmu hingga tak perlu berusaha mati-matian mempertahankan semuanya. Belajarlah bijak.

Membuktikan Kesalahan, Memprasangkakan Kebenaran

Ada berbagai cara agar otak seseorang mendapatkan pengetahuan. Apakah otak bersih bagaikan kertas putih disaat seseorang pertama kali dilahirkan? Secara anatomi, tidak. Otak manusia saat lahir terdiri dari materi putih dan abu-abu, dimana materi putih yang sangat dominan terletak di bagian dalam bersama materi abu-abu sebagai pelapis yang meliputinya. Dan karena itu seolah-olah otak berwarna putih. Entah kenapa bagian luar berwarna abu-abu. Mungkin itu berhubungan dengan aktifitasnya. Semakin banyak aktifitas maka materi putih itu lambat laun menjadi abu-abu dan mungkin menghitam suatu saat nanti. Tetapi berdoalah agar otak tetap bertahan di abu-abu tak sampai jatuh pada kehitaman. Putih menunjukkan betapa sangat permisifnya otak menerima segala informasi, sedang hitam menunjukkan bahwa otak tak mampu lagi menerima apapun. Abu-abu merupakan gradasi yang teramat lebar antara putih dan hitam. Semakin banyak dan sering otak digunakan mengolah  informasi yang masuk (berdialektika), maka keabu-abuan otak akan semakin gradatif. Seberapa gradatif-kah otak kita? Tak perlu dijawab kawan. Bukan itu tak penting, tapi ini bukan ruang dan waktu yang tepat untuk menjawab hal itu.

Informasi di atas hanyalah sebuah rentetan logika yang menjelaskan bahwa saat seorang manusia dilahirkan sebenarnya tidak dalam kondisi kosong nol. Dari warna otak, terindikasi bahwa manusia lahir sudah membawa seperangkat pengetahuan meski pengetahuan itu mungkin setingkat operating system yang hanya cukup membuat manusia menyala tetapi belum bisa dioperasionalkan lebih lanjut untuk fungsi yang lebih kompleks.

Operating system, atau OS, meminjam istilah dunia perkomputeran, merupakan kumpulan program yang digunakan untuk menyalakan komputer atau gadget pada tahap awal. Maka dikenal ada OS Windows, OS Macintosh, OS Linux, OS Android, OS Symbian dan seterusnya.  Bayangkanlah, ketika membeli komputer yang hanya dilengkapi OS saja, apa yang bisa komputer ini lakukan? Komputer akan melakukan fungsi-fungsi dasar yakni menyalakan layar, memfungsikan keyboard dan fungsi-fungsi mendasar lainnya yang sangat tidak aplikatif. Sekali lagi tidak aplikatif. Tetapi itu sama sekali tidak menghilangkan betapa penting/krusialnya OS ini. Tanpa OS, komputer takkan mampu menjalankan apapun. OS adalah pondasi.

Begitulah analogi sederhana apa yang terjadi pada bayi baru lahir. Sesungguhnya bayi itu bukanlah kertas putih bersih, ia lahir sudah tertanam OS di otaknya. Apa tandanya? Perhatikan, ia bisa menangis MANDIRI, ia bisa melacak dimana letak puting payudara ibundanya secara MANDIRI, ia bisa menelan air susu MANDIRI, ia bisa tidur, bangun, pipis, berak secara MANDIRI. Siapakah yang telah mendidik bayi itu sebelumnya hingga ia TAHU apabila minum air susu itu dengan mulutnya tidak dengan hidung atau matanya? Silahkan dicari sendiri-sendiri, jawaban paling ringan adalah pengetahuan tentang kemandirian itu telah terprogram di dalam OS.

Lalu, apabila ingin menyelesaikan pekerjaan mengetik indah, membuat tabel, membuat presentasi dan pekerjaan-pekerjaan rutin harian, apa yang perlu dilakukan pada komputer itu? tanamkan program-program dasar yang banyak dan rutin orang memakainya. Maka, mulailah dikenal microsoft office (word, excel, powerpoint), open office, Kingsoft office, GoogleDocs, internet explorer,  windows media player, dll.

Kebanyakan orang menduga dan berpikir bahwa inilah sebenarnya fungsi dari komputer, membantu pekerjaan sehari-hari. Banyak orang sudah puas bila komputer yang dimilikinya bisa melakukan fungsi-fungsi itu. Mengetik, memberi hiasan animasi sambil mendengarkan musik atau kadang-kadang diselingi melihat video, berselancar di dunia maya, itu sudah sangat menyenangkan bagi banyak orang. Tetapi…

Apakah memang sebatas itu kemampuan sebuah komputer? Jawabnya teramat jelas dan lugas…

TIDAK!! Sekali TIDAK!!

Komputer ternyata mampu mengerjakan hal-hal yang teramat kompleks, seperti membuat gambar dan desain dengan CorelDraw, mengedit foto-foto dengan Photoshop, membuat film dengan moviemaker, mengerjakan data statistik dengan SPSS, dan fungsi-fungsi spesifik lainnya. Dan sudah barang tentu tak banyak orang yang mampu mengoptimalkan fungsi-fungsi ini. Dan juga tak semua komputer mampu menjalankan fungsi-fungsi ini. Hanya komputer-komputer tingkat Ihsan yang bisa menjalankannya. Tingkat Ihsan? Muhsin? (simpan dulu pertanyaan itu.. 🙂 )

Baiklah, sekedar memperjelas. Sesungguhnya paparan di atas menjelaskan tentang 3 tingkatan komputer.

Komputer pertama (yang hanya berisi OS) itu adalah komputer tingkat Islam, muslim. Ia berlaku sebagaimana barang-barang elektronik lainnya, berlaku standar, yakni bila ada listrik ia menyala tetapi menyalanya bukan untuk melayani si pemakai melainkan ia menyelamatkan martabatnya sendiri sebagai komputer. Memorinya teramat kecil, algoritmanya pun teramat sederhana. Ia hanya punya dua keputusan, ya atau tidak, menyala atau mati, benar atau salah. Secara morfologi, Ia sudah sah disebut komputer karena sudah memiliki motherboard, layar dan keyboard/mouse, meski secara fungsi ia akan dipertanyakan, benarkah ini komputer?

Komputer kedua (berisi software standar) merupakan komputer iman, mukmin. Ia tak lagi sekedar menyala, tetapi mulai mampu memberikan kesenangan pada penggunanya. Kesenangan yang berujung pada kenyamanan penggunanya dan kemudian membangun rasa aman. Ia mulai memiliki memori besar, algoritma yang mulai kompleks, sehingga ketika diberi input iapun tak lagi memberi pilihan hanya 2 jawaban tetapi lebih. Minimal 3 jawaban, yes-no-cancel, shutdown-sleep-hibernatelock-log off, dll. Ia tak lagi ekstrim melainkan lebih friendly dalam menjawab sebuah permasalahan yang masuk. Ia mulai bisa menawarkan jawaban “sebaiknya”. Jadi, ia tak lagi memberi jawaban benar atau salah. Dengan memori yang lebih besar, ia memberi gradasi jawaban benar-cenderung benar-baik-cenderung baik- cenderung buruk-buruk-cenderung salah-salah.

Komputer ketiga (berisi software spesial) merupakan komputer ihsan, muhsin. Kenapa? Why? Komputer ini sebenarnya tak memiliki kewajiban untuk berfungsi detail seperti itu. Dan tak banyak orang yang menuntutnya agar bisa berfungsi seperti itu. Tapi lihatlah, ia selalu berkeinginan memberikan lebih, kebahagiaan lebih. Ia tahu bila banyak orang sudah cukup puas dengan kemampuan komputer menampilkan foto ataupun memutar video, tetapi ia menawarkan sesuatu yang lebih semisal mengedit foto ataupun video dengan tujuan membuat orang yang melihatnya menjadi sangat bahagia, tak sekedar bahagia. Komputer ini ‘nyaris’ menyatu dengan penggunanya, seolah-olah komputer dan penggunanya adalah garwa (sigarane nyawa – belahan jiwa), saling menutupi lubang-lubang kekurangan. Komputer ketiga ini seolah memiliki banyak ruang sehingga si pengguna mampu meletakkan muatan-muatan berlebih di otaknya (ide, gagasan) pada tempatnya. Keindahan merupakan kata yang tepat untuk mewakili situasi ini. Ketika segala sesuatu berada pada ruang dan waktu yang tepat atau berada pada tempat yang seharusnya, itulah keindahan. Saat komputer ini diberi input ‘masalah’, maka pilihan outputnya/jawabnya sangat gradatif jauh melebihi gradatifnya komputer kedua, bahkan terbuka ruang untuk menciptakan jawaban sendiri. Secara sederhana, pilihan jawaban antara benar dan salah adalah benar-cenderung benar-indah-tampak indah-relatif indah-baik-cenderung baik-baik-cenderung buruk-buruk-cenderung salah-salah.

Mungkin cukup membingungkan. Pesan yang ingin disampaikan adalah semakin tinggi spesifikasi sebuah komputer, ia semakin tak mudah untuk menjawab ‘salah’, ia tak mudah menyalahkan setiap informasi yang masuk. Ia lebih fleksibel dalam proses memutuskan, tetapi tetap tegas algoritmanya. Artinya, bila langkah keliru yang dilakukan berulang-ulang tanpa evaluasi hasil akhirnya adalah tetap diputuskan ‘salah’.

Abaikan sejenak tentang klasifikasi ngawur tentang komputer.

Mari memperhatikan para jabang bayi. Adakah perbedaan perilaku antara bayi dunia timur dan barat? Antara bayi utara dan selatan? Antara bayi putih dan tidak putih? Antara bayi laki-laki dan perempuan?

Nyaris tidak ada. Karena semua bayi-bayi itu lahir dengan OS yang sama.

Dalam perjalanan hidupnya, apakah bayi-bayi yang beranjak menjadi anak-anak kemudian remaja tetap memiliki perilaku yang sama? Kebanyakan tidak. Perilakunya amat tergantung pada software-software yang ditanamkan lingkungannya. Walau demikian, meski perilaku-perilaku berbeda, tetapi motivasi dasar hidupnya relatif sama, yakni kebutuhan bertahan hidup, dengan atau tanpa alasan yang jelas.

Pada titik dimana kebutuhan bertahan hidupnya terpenuhi, disinilah mulai ada pembeda. Kebanyakan orang sudah cukup bahkan sangat puas dengan kemampuannya memenuhi kebutuhan bertahan hidupnya, bahkan kebutuhan bertahan hidupnya itu menjadi keinginan bertahan hidupnya.

Hanya orang-orang yang bersoftware spesial saja yang mampu menyadari bahwa ada perbedaan antara kebutuhan dan keinginan hidup. Ia menyadari bahwa motivasi bertahan hidup adalah kebutuhan yang tak memerlukan banyak energi. Sedang ia adalah sosok yang sangat kaya akan energi karena kemampuan akalnya yang mampu mengelola tubuhnya untuk menyerap energi dari luar. Kesadarannya kemudian membawanya untuk menggunakan anugerah energi ini untuk mengajak orang-orang lain menemukan kesadaran yang sama dengan dirinya, meski itu bukan kewajibannya. Ia menggunakan kelebihan energinya untuk membantu orang-orang lain  agar menemukan dirinya masing-masing, karena kebahagiaan tertinggi akan bisa dicapai bila seseorang mampu mengenali dirinya sendiri (untuk kemudian meniadakannya agar tak menghalangi jalan menuju ke yang Maha Ada).

Tak banyak orang seperti ini, sebagaimana komputer ketiga. Orang ini tak lagi berparameter benar-salah ataupun baik-buruk. Ia memiliki parameter indah-tak indah. Ia sangat memahami bahwa asal dan muara sebuah kebenaran adalah kebenaran. Hanya saja untuk mempermudah menjelaskan kepada orang lain ia akan mengatakan bahwa puncak kebenaran adalah kebaikan dan puncak kebaikan adalah keindahan. Tentu yang dimaksud adalah yang sejati. Artinya, keindahan sejati hanya akan bisa dirasakan oleh mereka yang telah melakukan kebaikan sejati. Dan kebaikan sejati hanya akan bisa dirasakan oleh mereka yang telah menunaikan kebenaran sejati. Sekali yang sejati, bukan merasa benar tetapi benar yang sebenar-benarnya.

Mari lihat sebentar para binatang, pohon dan tumbuhan lainnya. Adakah perilaku mereka yang menyimpang? Mungkin ada tetapi teramat sedikit. Bahkan para makhluk tak berakal itu pun bisa tumbuh dan berkembang sesuai hukum alam. Sesuai hukum alam? Garis bawahi kata ‘sesuai hukum’. Itu definisi dari benar. Apa kesimpulannya? Mereka jauh lebih banyak berlaku sesuai hukum alias berlaku benar, kecuali yang tidak. Bahkan yang berlaku atau berperilaku tidak seperti kebanyakan lainnya belum tentu tidak benar, bisa jadi itu adalah variasi alam. Jadi, untuk mengatakan mereka salah, itu harus dibuktikan. Kenapa?

Kenapa?

Ini jawabnya…

Sebelum sesuatu dibuktikan, selalu diawali dengan prasangka. Baiklah, kita punya dua subyek hukum, sebut saja si benar dan si salah.

Mari bersimulasi..

  1. Bila sesuatu diprasangkakan benar, kemudian dalam pembuktiannya ia benar, apa implikasinya? Itu keadilan, tak ada yang dirugikan.
  2. Bila sesuatu diprasangkakan benar, kemudian dalam pembuktiannya ia ternyata tidak benar alias salah, apa implikasinya? Ia akan dihukum, tak ada yang dirugikan.
  3. Bila sesuatu diprasangkakan salah, kemudian dalam pembuktiannya ia ternyata salah, apa implikasinya? Itu keadilan, ia akan dihukum agar terampuni salahnya dan menjadi benar, dan tak ada yang dirugikan.
  4. Bila sesuatu diprasangkakan salah, kemudian dalam pembuktiannya ia ternyata tidak salah alias benar, apa implikasinya? Ia akan bebas dan mungkin akan mendapat hadiah sebagai ganti rugi pencemaran nama baiknya (karena prasangka salah).

Baiklah, simulasi itu belum memberi jawaban apapun, karena prosesnya tampak benar dan bisa dibuktikan segera. Tetapi pembuktian tak semudah itu kawan. Artinya, seringkali keputusan tak didasarkan pada pembuktian tetapi pada prasangka, kenapa? Karena kita membutuhkan keputusan cepat.

Mari bersimulasi dengan prasangka benar dan salah.

  1. Bila prasangka benar maka ia akan dibebaskan.
  2. Bila setelah perlakuan hukum, dikemudian hari ternyata terbukti benar maka tak ada pihak yang dirugikan.
  3. Bila setelah perlakukan hukum, dikemudian hari ternyata terbukti salah, juga tak ada yang dirugikan, kecuali rasa keadilan yang terlukai.
  4. Bila prasangka salah maka ia akan dihukum.
    1. Bila setelah perlakuan hukum, dikemudian hari ternyata terbukti salah maka itu keadilan.
    2. Bila setelah perlakuan hukum, dikemudian hari ternyata terbukti benar maka telah terjadi kejahatan. Ini bernama fitnah yang mungkin lebih kejam dari pembunuhan.

Maka, sesungguhnya tak mudah mengatakan atau memvonis sesuatu itu salah. Tak masalah bila itu dikemudian terbukti salah. Bila tak terbukti maka itu adalah sebuah kejahatan yang teramat besar yang mungkin lebih kejam dari kesalahan itu sendiri.

Sedang untuk kebenaran, tak perlu menunggu pembuktian untuk mengatakannya, karena implikasinya yang tak merugikan.

“lebih baik membebaskan orang salah daripada menghukum orang benar” itu pelajaran yang bisa diambil ketika baju perang Khalifah Ali bin Abi Thalib dicuri.

Sebuah hukum ada, itu didasarkan pada prasangka buruk. Sedang akhlaq ada, itu didasarkan pada prasangka baik. Dua-duanya perangkat untuk membuat seorang menjadi benar. Dua-duanya tak ada yang lebih antara satu dengan lainnya karena memiliki wilayah masing-masing, jadi dua hal yang tak bisa dan tak perlu dibandingkan.

Maka, bila menurut keyakinan dan/atau prasangka sesuatu benar, katakan saja, pembuktian bisa setelahnya. Sedang bila menurut keyakinan dan/atau prasangka sesuatu itu salah, jangan pernah mengatakan, tetapi buktikan terlebih dahulu agar tak menjadi fitnah, kejahatan yang lebih kejam.

Hmmmm..bukan hal mudah menjelaskan kalimat sederhana ini..

“bahwa untuk urusan Muamalah (horisontal), hukum dasarnya adalah boleh kecuali ada larangan atau TERBUKTI membawa mudharat atau ketakbermanfaatan..”

Maka yang HARUS dibuktikan adalah KESALAHAN. Sedang kebenaran tak ada keharusan karena hukum dasarnya, bahkan mungkin cukup diprasangkakan…

Penulis : Christyaji I

LEAVE A REPLY