Kali ini matahari tersenyum riang. Awan menampakkan keelokan. Begitu pula dengan dedaunan, terasa bernyanyi sembari bersimpuh malu. Semua itu menjadi satu kesatuan pagi. Keindahan-keindahan inipun seolah menjadi hadiah persembahan dari Sang Pencipta teruntuk manusia. Entah apa yang direncanakanNya. Manusia yang begitu menampakkan kerusakan saja masih diberi nikmat.

            Bagi manusia-manusia yang berpikir, akan selalu kembali mempertanyakan apa maksud kenikmatan tadi. Apakah gambaran kemuliaan ataukah sebaliknya? Sembari mencoba menemukan jawaban. Mari persilahkan Sang pemilik hidup menjawab dengan caraNya sendiri.

Terhadap semua nikmat yang telah dihadirkan, masalah paling inti bukanlah apa pesan yang ingin disampaikan. Pesan dan makna memang salah satu yang utama, tapi yang teramat utama adalah “Apakah manusia akan menggunakan kenikmatan itu begitu saja?”. Yah tentu, bukan manusia yang memahami kemanusiaan jika hanya memikirkan dirinya sendiri. Bukan manusia yang mengerti jika hanya menggunakan kenikmatan tersebut biasa-biasa saja.

            Kata banyak adagium, sebenarnya-benarnya manusia adalah manusia yang dapat menampung yang lain. Menjadikan yang lain merasa aman bersamanya. Tidak hanya memikirkan ke-aku-annya, namun berpikir tentang keberlanjutannya, keturunannya, lingkungannya, sesama manusia, sesama makhluk lain, yang nampak maupun yang tak kasat.

Katanya, salah satu tanda manusia yang berpikir tidak hanya untuk dirinya sendiri adalah mampu menggunakan alat sesuai kebutuhan dan proporsi. Apapun alatnya, ada takarannya.  Ada perhitungan, kadar, porsi, batas atas, margin puncak dan sebutan-sebutan lain.

Sekarang, di sini dan di banyak tempat lain. Ada begitu banyak alat yang dianggap memberikan manfaat besar, namun di sisi lain juga memberikan banyak masalah. Salah satu alat itu adalah kuda besi. Jika dilihat dari jenisnya, maka kuda besi digolongkan dalam dua jenis, pertama yang berkaki dua dan berkaki empat. Sebut saja kedua jenis kuda besi ini adalah sepeda motor dan mobil. Keduanya adalah tersangka utama perrmasalahan polusi negeri ini, dan segenap negara yang mengaku bertempat tinggal di dunia.

            Kesalahan seolah ada pada alatnya. Kuda besi dianggap penyebab utama ketidakteraturan, ketidaktertataan, kesemrawutan, keamburadulan wajah jalanan. Seolah-olah alat tersebut punya kuasa yang teramat digdaya. Sembari minum kopi, ketika sampai di titik penghayatan yang semakin dalam dan mendekat di kondisi mengerti, ternyata ditemukan kesimpulan sederhana bahwa keegoisan manusialah yang mengakibatkan kuda besi berbuat rusak.

Sekadar Sederhana

Di titik ini, kemudian mari kita coba kembali mengusik nurani untuk mengenal alam, mengajak bersahabat dengan lingkungan, dan mengahayati peran manusia. Apa yang sebenarnya dibutuhkan untuk dapat berpindah tempat, alat alternatif yang dapat membantu  peran kuda besi. Alat yang simpel, murah, hebat tetapi tidak meninggalkan banyak ketidak beraturan. Gowes!

            Sepeda onthel. Yah memang tak sekencang bus, mobil, motor, pesawat apalagi buroq. Memang hanya sekedar alat transportasi sederhana. Hanya ada dua roda, dua pedal, dan sebilah setir. Kesederhanaan yang mungkin menjadikan orang malu dan mulai enggan menggunakan. Padahal Mbah Muhammad senantiasa memberikan teladan tentang berbagai tindak tanduk perihal sederhana dan kesederhanaan. In other word, ketika manusia benar-benar merasakan fungsi sepeda onthel, bisa jadi menjadi pemicu untuk menemukan syukur, memperindah warisan, dan puncaknya mendekatkan diri menjadi manusia yang sebenarnya. Selama perjalanan, sepanjang kaki mengayuh, sambil mengheningkan cipta, semua laku itu akan terhitung sebagai perjalanan menuju Maha Cipta.

 

Menikmati Syukur, Mensyukuri Nikmat.

Dalam satu detik, pemain paling kondang sejagat bumi yang bernama Ronaldo mendapat Rp. 33.000. Setiap nafasnya setara sekian rupiah. Namun mari coba melihat masa lalunya, rupannya uang itu ia dapatkan dengan usaha yang sangat melelahkan di masa lampau. Bertahun-tahun Ronaldo latihan, bekerja keras, tetap berlatih disaat yang lain mungkin sedang leha-leha istirahat. Kemudian, kerja keras masa silam itu terbayar di kehidupan sekarang. Nikmat.

Sebagai manusia yang berpikir, sejak lahir kita dihadiahi nafas dan seperangkatnya tanpa terkendala suatu apapun. Menikmati semua itu otomatis, dan gratis. Andai saja manusia dapat merasakan keluar masuknya oksigen dan sedikit lebih tahu tentang pembakaran energi, manfaat oksigen dalam paru-paru, jantung darah dan berbagai perangkat hidup lain. Andai saja kita bisa melihat bagaimana bentuk oksigen, bagaimana wujud molekulnya dan ikatan-ikatan partikelnya. Maka, ketakjuban mana yang tidak mengandung nikmat. Dan kerennya, semua ketakjuban yang berhubungan dengan nafas dan oksigen tadi mudah didapatkan dengan mengayuh sepeda onthel. Sejauh kaki mengayuh. Udara terasa menggebu memenuhi seluruh paru-paru. Pelan-pelan bagian kaki memberikan tekanan memutar pedal. Roda berputar lancar berirama, menyatu mengiringi. Sedikit lelah, namun menabung manfaat di masa mendatang.

 

Memperindah Keturunan

Mari sejenak merenung. Membayangkan apa yang terjadi jika saja manusia generasi mendatang tidak mendapatkan udara berkualitas karena membludaknya kendaraan bermotor yang kian hari semakin menumpuk dan meramaikan kemacetan. Mari berandai lagi, apa yang terjadi jika alam kekurangan udara yang kaya oksigen? Manusia harus membeli botol yang berisi udara bersih. Manusia harus memakai selang oksigen dan membawa tabungnya kemana-mana. Membeli botol yang berisi udara segar memang terkesan guyon, tapi dewasa ini hal tersebut sudah benar-benar terjadi di China. Udara segar merupakan barang langka di China.

Menggunakan sepeda onthel memang terlihat remeh. Tapi kawan, selalu ada pemula payah di setiap sejarah besar. Selalu ada langkah kecil di setiap perjalanan panjang. Bersepeda memang nampak lama dan perlahan. Tetapi tatkala bersepeda, manusia dapat mengaktifkan seluruh indera yang melekat. Mata mampu menangkap bagian-bagian pesona keindahan yang dilewati, telinga mendengar sayup-sayup alam bernyanyi lirih, kulit merasakan belaian lembut semilir angin, dan hidung membau beragam aroma. Sembari melatih kepekaan hati, menikmati sayup-sayup gema panggilan Tuhan berkumandang. Dan membayangkan segerombol manusia masa depan gowes dan mulai mencintai lingkungan. Ah, sedaap.

LEAVE A REPLY