Hari itu kami kalah start dengan sang Mentari yang bersaing dengan kokok ayam jago. Mentari menunjukkan wajahnya lebih dulu. Padahal kami adalah gadis-gadis tanah wetan, malu kepada bapak dan ibu yang sedari tadi mulai beraktifitas sebelum sang mentari datang. Lantas kami bergegas mencuci muka, memaksa raga terjaga sembari melihat jam yang menunjuk pukul setengah tujuh lebih. Padahal kami harus duduk di bangku kuliah untuk menimba ilmu. Tak apa, mengingat semalam tadi kami baru merebahkan tubuh ketika subuh.

Serentak kami bangun dan merapikan tempat tidur. Kami melihat sosok ibu yang sedang memasak. Dan beliau berkata, “Ini saya sudah masak makanan banyak, habis ini sarapan dulu”.  Terhenyak, lalu gerakan polos mengangguk dan berkata “Nggeh bu, mboten usah repot-repot”. Tak pantas rasanya berbicara sebercanda itu, numpang tidur selepas Maiyahan karena kost sudah ditutup itu sudah merepotkan semenjak dari awal.

Tak banyak bicara, sibuk, tertata rapi dan bahkan harus membuat janji apabila ingin bertemu dengannya. Beliau adalah sosok ibu dokter yang merangkap menjadi ibu dosen. Sekaligus ibu rumah tangga, ibu arisan, ibu guru bagi anak-anaknya serta ibu Maiyah bagi gadis belia ini.

Gosip Kehidupan

Malam itu baru saja maghrib, sehari selepas agenda Maiyah. Satu hari setelah kami teramat merepotkan ibu dokter. Berbekal waktu yang tak banyak dan belum sempat membuat janji, dengan berani mencoba menemui sang ibu, sekadar berhajat untuk wawancara sembari ngegosipin kehidupan. Niat menggali tetesan-tetesan ilmu yang sempat dicicipi selama mengarungi mahligai fana ini. Ibu dokter sudah aktif dalam simpul-simpul Maiyah yang ditemuinya sejak menempuh kuliah di Yogyakarta. Sempat terpesona dengan pengajian yang di dalamnya mampu menampung segala pendapat dan tidak menjatuhkan satu sama lain, tak seorang pun. Ibu tadi pun diam-diam aktif mengikuti perjalanan pengajian Maiyah yang aktif berkeliling nusantara terutama ketika berada di Yogyakarta. Aku hanya bisa mengangguk-angguk ritmis mendengar sambil membayangkan cerita yang amat mengesankan itu.

Ibu meneruskan ceritanya. Setelah lulus dari  salah satu kampus paling kondang se- Yogya. Beliau melanjutkan pengabdian pada almamater binaan di Pulau Kalimantan. Program beasiswa itu membuat ibu harus terbang jauh ke pulau seberang. Meninggalkan anak, suami beserta orang tua. Meskipun kala itu orang tua amat sangat mendukung karena terhitung sebagai pengabdian kepada negara. Sampai-sampai tugas sebagai ibu yang harusnya dilakoni dialihkan ke orangtuanya.

Pengabdian menjadi tenaga pengajar tak hanya sekali dua kali. Dengan harapan dari almamater binaan sang ibu menjadi dosen tetap. Namun apa daya, sang ibu memiliki keluarga yang tak bisa ditinggalkan. Pertimbangan awal dahulu, sang bapak berkenan untuk mengikuti karir sang ibu, menemani tinggal di pulau seberang. Namun masa kembali tak mengijinkan manusia terlalu berkuasa atas rencananya, kemudian sang bapak juga memiliki tanggung jawab untuk mengurusi orang tua. Perpisahan jarak harus dijalani. Tapi hati tetap terhubung, ikatan yang bukan sekadar jalinan dunia.

 

Kondisi ini menjadikan ibu harus terbang menggunakan burung besi pulang-pergi, jarak jauh terbentang ratusan kilo Surabaya-Samarinda. Sebulan sekali, ibu harus pulang untuk menjenguk keluarga, merawat barang sebentar dan kemudian kembali mengabdi. Di satu sisi, ibu bertanggung jawab atas tugas pengabdian pada negara yang telah membiayai selama pendidikan S2. Di satu sisi lain dia juga harus merawat anak yang tengah menikmati masa golden age. Pilihan yang tak mudah bagi ibu manapun, jalan yang sulit bagi setiap istri yang begitu memuja suaminya.

Kedekatan Cinta

Ibu muda pengembara bermental baja, begitulah kiranya yang pantas disematkan pada ibu. Atas jasanya, teruntuk segala pengorbananya. Tak ada niat sedikitpun untuk melepaskan pengabdiannya, hanya saja situasi dan kondisi tak memungkinkan untuk terus mengajar di pulau seberang. Terkadang pikiran berat dari pertimbangan panjang sejenak lewat. Pertimbangan yang mengingatkan kembali peran ibu yang sangat utama dalam perkembangan anak. Kesadaran bahwa pendidikan yang utama adalah pendidikan keluarga.

Selama terjun dalam simpul-simpul Maiyah. Sang ibu selalu datang membawa permasalahan yang tak sempat diutarakan di atas forum. Namun tetap saja mampu merasakan getaran gelombang itu, gelombang Maiyah. Getaran yang seringkali menjawab semua kegundahan. Ada-ada saja jawaban yang berhasil ibu tangkap dari Mbah Guru Cak Nun apalagi Cak Fuad, meski tanpa bertanya sekalipun.

Ada prinsip yang terngiang-ngiang di benak sang ibu yakni berat memang melepaskan pekerjaan sebagai pengabdi negara, namun lebih disayangkan lagi harus jauh dari keluarga. “Kerja bisa dimana saja kok, toh tidak melulu harus menjadi dosen.” Bahkan masih teringat denggan saat di benak ibu, Cak Fuad menyarankan untuk membuka praktik saja. Harapan memang harus selalu diusahakan dan yang utama adalah proses, bukan melulu masalah hasil.  Allah berkali mengigatkan bahwa Ia selalu menghargai setiap proses yang diusahakan hambaNya. Tak peduli gagal ataukah berhasil. Fi sabilillah, berjuang di jalan Allah. Bukan berhasil di jalan Allah. Maka setiap perjuangan apapun yang mengatasnamakan kedekatan dengan sang Khalik adalah ibadah juga.

Satu  prinsip yang sang ibu pegang dengan erat dan diyakini hingga kini yakni, Gunakan kacamata Tuhan. Sangat boleh manusia berkeinginan, bukan sebuah dosa manusia bercita-cita. Namun ketika tidak bersilaturahmi dan meminta ridho-Nya, apakah mungkin yang dilakukan menjadi berkah? Maka apapun, hal apa saja yang tengah diusahakan, mari membersamai usaha itu dengan keinginan untuk bersilaturahmi menyapa Tuhan. Mendekati tidak hanya sekadar ada mau, tapi mendekati karena memang mau. Menyapa bukan karena sedang butuh, namun atas kesadaran tanpaNya kita takkan pernah utuh. Kedekatan atas nama cinta. Innallaha layughoyiruma bi qaumoumin, walayughayiruma bi anfusihim

Penulis : Mery Yulikuntari

LEAVE A REPLY