Membahas lebih cerdas tentang hakikat manusia dalam mengarungi kehidupan. Pasti tak akan jauh dari pembahasan mengenai tujuan. Ada maksud mengapa dari milyaran planet sistem heliosentris, dipilih bumi sebagai kampung halaman. Ada maksud pula kenapa manusia diberi kekuasaan penuh atas jabatan barunya sebagai khalifah dunia. Ada misteri yang terkadang jelas dan seringkali bersembunyi, mengapa dari sekian juta makhlukNya, manusia teramat diistimewakan.

Pernah suatu ketika dengan guyonannya yang begitu serius Mbah Nun menyampaikan perihal kedudukan makhluk. Makhluk atau ciptaan itu dibagi atas empat tingkatan. Pertama adalah makhluk materi, ciptaan yang hanya berwujud saja tanpa ada ciri hidup. Tingkatan kedua adalah makhluk berketumbuhan. Ciptaan yang berwujud dan memiliki ciri hidup tumbuh. Ketiga adalah makhluk yang berwujud, tumbuh, berdarah daging dan bernafsu.  Terakhir adalah makhluk berwujud, tumbuh, berdarah daging, bernafsu dan berakal. Sekilas dari tingkatan makhluk-makhluk tersebut, tingkatan keempat terasa lebih lengkap dan kece jika dibandingkan satu sama lain. Lalu apa sebenarnya makna keempat tingkatan itu? Jika dianalogikan dengan unsur kebendaan, maka tingkatan di atas dapat dirupakan sebagai batu, tumbuhan, hewan dan manusia. Batu berada di tingkat pertama, sementara manusia di tingkat terkomplet.

Manusia Berkewajiban

Di wilayah dunia dan seisinya, manusia diberikan jabatan sebagai pimpinan. Karena dari segala makhluk, modal yang diberikan kepada manusia jauh lebih lengkap. Manusia dijadikan tingkatan teratas karena manusia memiliki kualitas melebihi lainnya. Semulia dan seberharga apapun batu, batu tetap tidak bisa tumbuh memperbanyak diri. Dia tetap konstan dan bahkan tak punya kuasa atas dirinya. Seindah dan sekokoh apapun pohon, dia tetap tak berdarah daging. Hanya memiliki kekuasaan terbatas atas dirinya. Sementara hayawan, dia bebas memposisikan dirinya. Punya kuasa bergerak kemana saja. Menjadi makhluk yang berkeinginan dan berkehendak. Kini tiba saatnya mengulas lebih dalam tentang manusia. Manusia memiliki keistimewaan yang dikaruniakan pada ketiga tingkatan lain. Kapanpun ia bebas bertindak sebagai batu. Berperan sebagai tumbuhan atau bertingkah persis seperti hewan. Manusia punya hak atas itu semua. Tapi jangan dilupakan bahwa ia punya karunia yang tidak dimiliki tingkatan lain. Ya benar, akal. Maka selain memiliki hak, manusia memiliki kewajiban juga, yakni kewajiban menggunakan akalnya. Kewajiban menjadi insan yang mampu bersikap layaknya manusia yang berkualitas sekaliber makhluk tingkatan atas.

Mengesankan bukan? Lalu apa fungsi akal itu? Kawan, mari coba kita usik lebih asik tentang akal. Akal secara fungsi fisiologis digunakan sebagai media berpikir. Lebih sederhananya digunakan sebagai wahana ‘ngakali’ segala proses kehidupan. Memaknai apa yang sejati dan hakiki menjadi manusia berketujuan. Dan yang paling keren adalah, akal bisa dijadikan bekal untuk menjadi manusia yang ‘ngerti’.

Manusia ‘ngerti’ selalu dianggap lebih berkualitas dibanding manusia yang sekadar pintar. Bahkan manusia pintar seringkali kalah dengan manusia bejo, karena bejo dianggap karunia langsung dari Tuhan yang maha mengesankan. Dan manusia ngerti memiliki kualitas di atas bejo. Jika bejo adalah karunia langsung searah dari Tuhan ke makhluknya, maka ngerti adalah hubungan dua arah antara makhluk dengan Tuhan. Karena manusia ngerti seringkali melibatkan Tuhan dalam segala aksi dan proses berpikirnya.

Mengerti menjadi sesuatu yang indah dan diidamkan. Karena memang untuk sampai pada tingkatan ngerti, sudah barang tentu tidak sembarang manusia bisa. Pintu dan kesempatan untuk sampai pada level ngerti dibuka selebar-lebarnya. Namun tak banyak manusia yang mampu menapakinya. Mungkin itu juga yang menjadikan banyak wanita selalu menyertakan kriteria ‘pengertian’ disamping kualitas lain yang didambakan. Selain tampan dan mapan, wanita pintar selalu tidak ketinggalan mengikut sertakan bahwa pria idamannya adalah sosok yang pengertian. Maka sudah jelas bahwa pengertian memiliki kualitas yang tak kalah dengan tampan dan mapan. Namun sebuah kenyataan jika pria tampan itu banyak, yang mapan juga melimpah, tapi pria yang pengertian dianggap sudah semakin jarang. Karena memang pria pada umumnya seringkali hanya mengejar kemapanan, ketampanan dan meninggalkan kualitas lain yang jauh lebih menentramkan, menjadi pria yang pengertian. Begitupun juga manusia mayoritas,  seringkali silau dengan kemilau dunia.

Memahami Makna Kesejatian

Tradisi jawa seringkali menggunakan kata ‘sejati’. Dalam falsafah dan pepatah Jawa, seringkali banyak sanepan dan pengandaian. Seolah hidup ini diisi begitu banyak kepalsuan dan manusia harus berupaya mencari apa yang sejati. Ketika telah menemukan kesejatian itu maka sampailah ia di titik yang penuh pengertian. Santun, mengayomi dan penuh kasih sayang, mendekati kualitas Muhammad. Proses pencapaian kesejatian itulah yang bisa disebut sebagai proses me-Muhammad-kan diri. Proses menuju yang maha sejati. Dan tentang pengandaian, bisa jadi itu adalah bahasa paling sederhana untuk menjelaskan pada khalayak yang belum sampai pada level tertentu. Tujuannya bukan untuk menyembunyikan, karena memang kesejatian itu tidak bisa diturun temurunkan atau dengan mudahnya dibagi-bagikan. Butuh proses pencarian untuk menemukan apa yang sejati. Sanepan dan pengandaian itu adalah petunjuk bagi para pencari kesejatian.

Sama dengan alQur’an bukan? Al Qur’an pun juga banyak berisi pengandaian. Maka bukan sebuah kebetulan jika manusia jawa jaman dahulu, yang belum sampai padanya kabar tentang Islam tapi kearifannya begitu islami. Di masa bangsa-bangsa Arab masih di kejahiliyahan, peradaban Jawa telah sampai pada titik mengerti. Jawa di sini bukan hanya berbicara suku kawan, tapi jawa dalam arti luas yang berarti Negara Nusantara. Maka banyak yang menyimpulkan bahwa Islam yang sejati bukan hanya sekadar Islam dalam arti agama. Islam juga dapat berarti jalan hidup. Dan kedudukan Alquran begitu jelas, yakni pedoman dan petunjuk bagi manusia untuk menemukan kesejatiannya. Syaikh Nur Samad Kamba juga pernah menyampaikan bahwa al Quran adalah pedoman manusia untuk me-Muhammad-kan diri. Kenapa manusia harus seperti Muhammad? Karena Muhammad adalah kekasih Tuhan yang paling dicintai. Siapa yang tidak ingin dicintai Tuhan yang maha kece itu kawan? Lalu bagaimana bagi manusia yang tidak pernah mengenal petunjuk dan pedoman untuk mencari kesejatian? Tenang kawan, Tuhan itu begitu mengesankan. Dunia dan seisinya inipun adalah al Quran pula. Maka beruntunglah bagi manusia yang mampu menggunakan akalnya untuk berpikir. Manusia ulul albab,  manusia yang selalu menyertakan Tuhan dalam dirinya.

Meniadakan Diri, Mengenal Isyarat Tuhan

Lalu apa isyarat untuk menemukan kesejatian itu? Mbah Nur Samad Kamba pernah menyampaikan bahwa kesejatian hanya di dapat dalam keheningan. Karena isyarat-isyarat Tuhan hanya dapat dirasakan oleh manusia yang peka. Kepekaan manusia berada di performa terbaik saat ia berada dalam tempat yang hening. Keheningan yang dimaksud adalah tentang sebuah jalan. Jalan itu disebut sebagai jalan sunyi. Jalan sunyi adalah jalan untuk menemukan kesejatian. Salah satu cara menempuh jalan sunyi adalah dengan poso (berpuasa). Poso dapat disarikan sebagai ngeposno roso. Ngeposno adalah menuju, memiliki tujuan pada yang sejati. Maka modalnya cukup sederhana, bermodal cengkir, kencenge pikir (pikiran yang lurus). Terakhir, pikir adalah fungsi akal, roso adalah fungsi hati. Maka keduanya harus berharmoni. Untuk itu mari bersama belajar nenuju pos-pos sejati. Menjadi bapak yang tidak hanya disebut bapak hanya karena memiliki anak dan berwujud bapak-bapak. Namun juga bapak yang kebapakan dan memiliki kualitas untuk ‘mapakne’ sang anak. Mari belajar jadi simbah yang tidak hanya tua secara usia. Namun juga simbah yang selalu ‘nambah’ anak cucu agar semakin mendekati kesejatian. Mari bersama ‘memayu hayuning bawana’, mempercantik dunia yang sejatinya sudah begitu indah. Karena dunia ini juga al Qur’an dan Tuhan begitu mencintai keindahan. Mari menjadi manusia yang sejati, manusia yang ngakali dirinya untuk senantiasa bermanfaat bagi yang lain.

Ifa Alif
Malang, 19 Desember 2015 – Refleksi Silatnas

 

SHARE
Previous articleTaman Kehidupan
Next articlePengobat Rindu

LEAVE A REPLY