Jari-jari mungil ini masih saja lincah menyentuh sana sini di senja yang tampak cerah itu. Sebuah smartphone berdiagonal 4.5 inchi menjadi sasaran sentuh jari-jari mungil itu. Jari-jari itu sedang menjadi saluran bagi otak yang mungkin sedang penuh berisi sampah-sampah tak diundang. Mata dan telinga yang terbuka terlalu lebarlah yang membuat sampah-sampah di luar kepala itu menerobos hingga ke kedalaman otak tanpa permisi.

Sampah-sampah itu mungkin masuk dengan arus yang teramat deras. Hingga ia tak hanya sekedar masuk, tetapi memberi hantaman-hantaman ringan hingga berat yang sanggup ngudhal-ngudhal (memporakporandakan) sampah-sampah yang sesungguhnya telah lama terpendam di dalam kepala. Dan hasil akhirnya bisa ditebak. Laksana sebuah gelas jernih berisi air jernih dan endapan tanah yang tiba-tiba saja ditambahi air dengan arus deras, maka suasana dalam gelas akan mendadak keruh. Bahkan seandainya yang mengisi itu air paling jernih sekalipun. Itu takkan menghalangi kekuatan arus untuk mengeruhkan suasana.

Sepertinya itu merupakan gambaran yang pas untuk kondisi otak di senja itu. Dan situasi itu tak berjalan sekali dua kali. Ini situasi yang kesekian kali, hanya saja baru tersadari kali ini. Terserah apapun analisisnya, yang jelas itulah fakta yang sedang tersaji saat ini. Fakta ini semakin memperkuat bahwa hidup tak berjalan linier atau datar-datar saja. Bahkan meski suatu saat nanti andai bumi memang terbukti datar, itu tak akan menghilangkan fakta bahwa hidup tak berjalan datar. Semakin jelas bahwa hidup merupakan harmoni irama yang kadang kala naik, dan di lain kala ia turun. Hingga tak keliru juga bila ada yang berpendapat bahwasannya hidup itu berputar.

Keranjang sampah terbatas

Otak seringkali tak ubahnya keranjang sampah yang teramat besar, alih-alih sebuah representasi sesuatu yang lebih jernih dan berharga dari berlian. Tergantung apakah otak diperlakukan secara seimbang atau tidak. Tak ada orang yang tak tahu bahwa otak merupakan organ yang teramat terbatas ukuran dan kapasitasnya. Terkhusus pada otak makhluk hidup bernama manusia, ia telah berkembang sedemikian pesatnya hingga kemudian memiliki “struktur fungsi” khusus yang dinamai akal. Keterbatasan kapasitas itulah yang mendorong otak untuk saban harinya meningkatkan aspek fungsionalnya, agar tetap adaptif untuk dipergunakan sehari-hari dalam rangka mempertahankan kehidupan.

Derajat atau level aspek fungsional itu, orang-orang sering menyebutnya dengan kecerdasan. Common sense, minimal ada 3 aspek yang tercakup pada sebuah benda hingga layak disebut fungsional. 3 aspek itu ialah input-proses-output. Pun demikian dengan otak. Ada bagian saraf sensoris yang berfungsi menyerap input, ada bagian saraf integratif yang berfungsi mengolah dan memproses input, dan ada bagian saraf motoris yang berfungsi sebagai eksekutor atau memancarkan output.

Konsep dasarnya sederhana. Sebuah output yang teramat besar, pasti ada input besar sebelumnya. Tetapi tidak sebaliknya. Sebuah input yang teramat besar, tak selalu menjadi output yang besar pula, bergantung bagaimana kualitas pemrosesannya. Sebuah kegagalan proses bisa menghasilkan situasi lethologica, yakni bahasa yang telah tersusun rapi dan terencana untuk dipancarkan, mendadak berhenti di ujung lidah hingga tak ada suara sekecil apapun yang keluar. Kecuali hanya lidah yang serasa kelu, seolah menanggung beban sampah yang teramat berat.

Maka, sebuah kecerdasan tak fair bila hanya diukur pada satu aspek saja. Itu akan menimbulkan hasil yang teramat bias. Meski bias sama sekali bukan kesalahan, tetapi jelas ia juga bukan kebenaran. Yang jelas, bias adalah kepalsuan, bisa kesalahan palsu ataupun kebenaran palsu. bila itu sebuah kesalahan palsu, mungkin itu masih memberi manfaat untuk seseorang, yakni memotivasi atau mendorong seseorang untuk beraksi melakukan perbaikan-perbaikan. Sedang pada kebenaran palsu, inilah jebakan maut yang berpotensi mematikan. Seseorang  yang merasa benar cenderung merasa nyaman. Dan siapa sekarang orang yang mau pindah dari zona nyaman? Kebanyakan orang takkan pindah atau move on, kecuali manusia-manusia yang senantiasa menjaga kesadarannya sepanjang waktu hidupnya. Kesadaran untuk tak berhenti hanya menjadi manusia penyerap, melainkan “harus” menjadi manusia pemancar atau bahkan manusia penata dan pengelola ruang dan waktu. Kesadaran bahwa hidup tak berbatas kematian, melainkan ada kehidupan lagi sesudah mati, entah berapa kali kehidupan itu akan berulang.

Menakar Keseimbangan

Keseimbangan merupakan kesetaraan akumulasi gelombang masuk dan keluar pada rentang waktu tertentu. Ketika gelombang masuk terlalu banyak diserap, dan tak segera dipancarkan keluar, itu memberi potensi peningkatan tekanan pesat di dalam otak. Meski hal itu tak sampai melumpuhkan otak, tapi itu sudah lebih dari cukup untuk sekedar mengacaukan keteraturan kerja otak untuk beberapa saat. Cukup menimbulkan chaos sesaat kata orang. Mungkin bila kondisi chaotic (kacau) itu hanya terbatas pada neokorteks, itu tak akan membunuh seseorang dengan cepat, hanya mengacaukan kemampuan rasional logikanya dalam menyusun algoritma berpikir yang sistematis. Tetapi bila kondisi chaotic itu merembet hingga pada otak primitifnya (reptilian brain-nya), itu sangat bisa mengancam kemampuan seseorang dalam mengambil keputusan yang benar pada situasi hidup-mati.

Hal ini tak terjadi sebaliknya. Bila pancaran gelombang keluar lebih besar dari yang diserap, itu tak akan membunuh orang itu. Paling hanya menimbulkan kegaduhan sosial, karena orang itu akan berbicara dan bertindak tanpa tujuan yang jelas. Kondisi yang lebih dikenal dengan istilah schizophrenia.

Kemampuan untuk menyaring dan membatasi penyerapan serta kemampuan untuk memancarkan dan mengendalikan irama pemancaran gelombang elektromagnetik otak, itu yang kemudian sering disebut dengan kecerdasan. Seseorang yang utuh kecerdasan, akan paham bagaimana harus memancar, kapan harus memancar, dan kemana harus dipancarkan gelombang otaknya.

Pancaran yang keluar dari otak, bisa menerangi dunia sekitarnya tetapi juga bisa berpotensi eksplosif (mudah dipicu untuk meledak), bila tak dikendalikan iramanya. Maka sekali lagi, hidup tak menyoal seberapa banyak gelombang yang diserap ataupun dipancarkan, melainkan menyoal bagaimanakah kemampuan mengendalikan irama kehidupan agar tak melukai diri sendiri ataupun orang lain.

Ada sebuah fenomena unik yang dialami hampir semua orang dalam sequel perjalanan hidupnya. Seringkali seseorang merasa “tiba-tiba” menjadi pemenang ketika harus berduel dengan masalah kehidupan yang ada di hadapannya. Dalam euforia kemenangannya, ia merasa mendapat mukjizat atau keajaiban bisa memenangkan duel itu. Mengapa ajaib? Karena ia tak merasa, apalagi memahami bahwa tanpa sadar ia sesungguhnya telah membangun ketahanan dan kekuatan di masa lalunya. Mungkin ia terlalu lama berkutat untuk ‘menghilangkan’ kelemahan dirinya, sampai-sampai tak ada sedetik pun waktu untuk menyadari kelebihannya.

Bukan Keajaiban

Tetapi satu hal yang perlu diketahui. Dunia tak melulu berjalan dengan ajaibnya di atas mukjizat. Maka ketika engkau merasa “tiba-tiba” menjadi pemenang, jangan lagi berpikir itu keajaiban. Itu adalah usahamu sendiri. Yang jelas itu bukanlah usahamu di masa depan, melainkan itu datang dari usaha-usaha “kecil”mu di masa lalu yang tak jua kau sadari. Kemenangan hanya milik mereka yang mengasah kecerdasannya. Dan itulah jawabannya, bahwa kecerdasanmu yang membuatmu menjadi pemenang, itu bukan akumulasi usahamu di masa depan, melainkan akumulasi usaha-usaha kecil nan konstanmu di masa lalu.

Mulai detik ini, buatlah rencana untuk masuk ke dalam di gunung tertinggi yang ada di sekitar tempatmu tinggal pada malam hari. Agar engkau memiliki waktu yang berkualitas dengan “aku”mu yang lain yang mungkin lagi berkelana di luar dirimu saat ini. Kemudian dalam keheningan malam, belaian mesra angin, sejuknya embun, belajarlah berkontemplasi (merenung) untuk sekedar menoleh ke belakang, mengamati hari-harimu yang tampak sama. Nanti engkau akan ketemu bahwa hari yang tampak sama itu sesungguhnya memiliki kedahsyatan karakter sendiri-sendiri yang unik, yang itu membuatmu hari ini menjadi teramat cerdas dan sanggup menjadi pemenang.

Thanks to Anjelin,  for your expiration J
Christyaji Indradmojo

 

LEAVE A REPLY