Pagi yang tenang seolah membawa pesan bahwa hari itu akan berjalan beriring ketentraman yang muncul karena rencana yang telah tersusun rapi dan runtut semenjak 2 minggu yang lalu. Lubang sekecil apapun telah disiapkan antisipasinya seolah tak akan ada lagi aral yang menghalangi. Sebuah rencana detil yang teramat sempurna, membuat diri sangat percaya bahwa itu akan terlaksana sempurna pula.

Hingga kemudian sebuah pesan singkat membuyarkan ketenangan pagi, mencambuk kesadaran yang nyaris terlelap oleh sempurnanya rencana. Kesadaran itu,  menyengat memori yang sejurus kemudian mengingatkan pada kata-kata ajaib. “Meski tak ada yang sempurna di dunia, itu sama sekali bukan halangan untuk memberikan yang terbaik”.

Sebaik-baik Rencana

Dan, tiba-tiba tersadar bahwa manusia tempatnya lupa. Kesadaran-kesadaran yang benar-benar terlupa dan terabaikan, di saat-saat perencanaan kemarin sebelum eksekusi hari ini. Semua lupa berkata “Sesempurna apapun rencana kita, selalu ada kemungkinan untuk tak terlaksana, maka marilah berharap yang terbaik selesai berencana”.

Itu mantra wajib bagi para gadis petualang ini. Mantra yang aslinya berbunyi “persiapkan kemungkinan terburuk, tetapi berharaplah kemungkinan terbaik”. Apakah sebenarnya yang terjadi pagi itu? Apa isi pesan singkat itu?

Ini jawabnya…

Entah dapat ide darimana, entah dimana bertemu Jibril Sang Penyampai ilmu, yang jelas para gadis itu dengan PeDe-nya menyusun sebuah rencana ‘Operasi senyap Penyelamatan Generasi Penerus Bangsa’. Sebuah rencana yang teramat besar, apalagi ditujukan untuk Bangsa yang nyaris tidak lagi memiliki syarat atau kemungkinan untuk tidak hancur.

Jelas sebuah rencana operasi yang teramat konyol. Belum lagi eksekutor dari rencana itu adalah sekumpulan gadis-gadis yang amat tidak terlatih dan terampil berkuda, memanah ataupun berenang. Gadis-gadis itu belum mahir berkuda untuk mampu bepergian jauh, belum juga terampil memanah buruan demi bertahan hidup, ditambah lagi belum juga memiliki ketenangan bertahan di dalam air menghadapi gelombang badai kehidupan. Silahkan jumlahkan sendiri berapa banyak kekonyolan-kekonyolan itu.

Ah, takkan selesai tepat sehari ini mau mendaftar berapa banyak kekonyolan yang telah terjadi. Sepertinya juga butuh waktu lama untuk dijumlah. Mungkin lebih tepat dikalikan. Semakin sempurna kekonyolan itu ketika sebuah pesan berbunyi “Pak kami ketinggalan Kereta ke Jogja, ini kami masih di atas ojek mengejar di stasiun berikutnya..”

Duuaaaarrrrr…!!! Petir halilintar menyambar di pagi yang teramat tenang tenteram..

Bagaimana bisa? Haahh, bagaimana mungkin??

Marah.. ya marah responku saat itu. Itu wajar sebagai fase pertama orang stres. Setengah mati menyimpan rasa itu agar tak terlalu mencolok terungkap. Sejurus kemudian marah itu terkendali berganti pada rasa denial, rasa penolakan. Ah tak mungkinlah gadis-gadis ini bertindak tolol, meski memang sedang melakukan pekerjaan teramat konyol. Fase kedua stres ini pun untunglah tak berlangsung lama, berganti masuk fase ketiga, depresif. Putus asa rasanya melihat kenyataan pada akhirnya. Hanya beginikah hasil dari kerja keras kemarin?

Agak lama juga berada di fase 3 ini, sampai pada akhirnya tanpa sadar masuk pada fase 4, bargaining, tawar menawar. Setelah mempertimbangkan cost dan benefit, dan juga kekonyolan-kekonyolan yang memang sudah memapar sejak awal, keputusan akhir pun diambil. Kata-kata pun meluncur dari area Broca otak menyasar jari jemari untuk mengetik pesan singkat berbunyi “Sudahlah memang belum diijinkan, kembalilah segera dengan hati-hati ke rumah”. Akhirnya fase 5 bisa tercapai, acceptance, menerima kenyataan sepenuh hati apa yang terjadi hari ini. Lamat-lamat mulut ini berdendang cuplikan lagu SO7, “..aku pulaaaang, ku terima kekalahan…”

Ketenangan pagi itu yang mulai beranjak siang berangsur-angsur tenteram kembali, meski dengan sedikit kegundahgulanaan yang sepertinya sengaja mencengkeram nurani dan tak mau pergi. Lama, lebih lama dari temaram senja.

1 jam berlalu. Kegelisahan mulai menyergap kembali. Menyeruput pelan-pelan susu kotak menjadi sebuah pengalihan terhadap kegelisahan ini, kegelisahan menunggu gadis-gadis mungil pulang kembali ke rumah. Sekonyong;konyong handphone berbunyi memunculkan pesan singkat.. “Pak, mengingat pengorbanan teramat besar yang telah dijalani, kami sekarang melanjutkan perjalanan dengan Bus..” Alhamdulillaaaaahh.. tiba-tiba meluncur polos dari mulut ini, nyaris saja air mata hendak ikut meluncur keluar andai tak ingat itu sedang di keramaian.

Bisikan Para Penjaga

Sekejap kemudian ingatan melayang pada suatu pagi, hari dimana perang Uhud terjadi. Para pemuda Madinah hendak menemui Rasulullah untuk meminta maaf atas kengeyelannya malam hari saat menyusun strategi perang dan membatalkan rencana pergi ke lembah Uhud melainkan mengikuti usul Rasulullah saat awal-awal pertemuan, yakni bertahan di benteng Madinah, tidak menyerang secara head to head.

Pemuda-pemuda ini dicegat oleh Sayyidina Umar, sedetik kemudian memberi jawaban pada para pemuda itu. “Pantang bagi seorang Nabi menanggalkan baju perangnya yang telah dipakai hingga selesainya perang..”. Sebuah pemikiran yang mengejutkan tentunya. Apa maksud Nabi? Tak banyak yang memahami, hingga beberapa orang memahami bahwa pesan inti dari jawaban nabi itu adalah sebaik-baiknya rencana akan menjadi bencana bila tak dijalankan sepenuh jiwa  raga. Dan, seburuk-buruknya perencanaan yang didasari niat baik, memberi kemungkinan hasil yang baik.

Mirip apa yang terjadi pada hari ini, mata hati terharu membayangkan gadis-gadis petualang yang “tampak konyol” itu didampingi Rasulullah dan Jibril selama perjalanan “konyolnya”. Membayangkan Rasullulah membisiki telinga hati gadis-gadis tentang kekonyolan perang Badar. 300 vs 1000 yang berakhir dengan kemenangan.

Membayangkan Rasulullah berbisik, “Wahai gadis-gadis, kalian tak hanya memenangkan perang Badar yang merupakan kemenangan kecil, melainkan kalian baru saja meraih kemenangan besar, mengalahkan nafsu lelahmu, nafsu malasmu, nafsu nyamanmu, nafsu bodohmu.”

Kemudian aku bangun tersadar, teringat pelajaran bu guru Matematika, bila terlanjur melakukan kekonyolan, jangan diTAMBAH dengan 1 kekonyolan, tetapi TAMBAHlah dengan berlipat-lipat kekonyolan dan ketololan alias diKALIkan, maka hasilnya adalah KEBAHAGIAAN sejati. Begitu kira-kira bu guru Matematika berujar.

Penulis : Christyaji I

LEAVE A REPLY