“Perang minimal anak cucu Maiyah adalah Cyber technology dan kemunafikan politik global.”

Seringkali gelombang maiyah mendapat warning dari si mbah. Entah yang halus, metaforis, retoris dan berbagai macam bentuk penyampaian lain. Namun yang paling berkesan, dan acapkali sering kembali didengungkan adalah amanah untuk menjadi pribadi yang eling lan waspada bahwa dunia tengah memainkan peran sulapan. Maka anak cucu Maiyah harus sadar siapa penyihirnya, bagaimana metode sihirnya dan segala yang berkaitan dengan sulap-sulapannya. Tujuan warning tersebut adalah agar keluarga Maiyah dan segala yang sadar dapat memposisikan diri, tidak kagetan dan endak gampang katut.

Dalam rangka menjaga kesadaran. Anak cucu Maiyah diberikan opsi untuk terus mempersiapkan diri. Opsi yang sebenarnya wajib muakad di tengah kondisi yang sekarang, namun dibingkai dengan kalimat sunah biasa. Mendisiplinkan diri dengan militer, menguasai hujan deras cyber technology, kecakapan akuntansi serta kemampuan muhasabah kehidupan secara menyeluruh dan Aqidah akhlak. Persiapan total, persiapan diri pribadi dan diri sosial. Persiapan menjadi pemimpin secara intrinsik maupum ekstrinsik. Membekali diri dengan kencenge pikir, pikir yang menuju satu tujuan sebab telah menakar dan menghitung kondisi yang ada di lapangan.

Perihal disiplin militer, kedisiplinan yang paling wahid adalah di lingkungan militer. Akademi militer mengajarkan bagaimana bertanggung jawab sekaligus bermental kesatria. Menanggung adalah masalah kelapangan hati sementara mental adalah kejernihan pikiran. Kombinasi yang pas untuk menyadarkan diri bahwa saat ini bangsa Nusantara tengah berada di kondisi yang dikalahkan oleh kekuasaan global. Dan salah satu hal yang patut dilakukan adalah mengakui kekalahan – secara de facto dan de jure memang demikian- dengan mengalah. Lantas apa yang dilakukan para kesatria selepas mengakui kekalahan? Cerita wayang akan mengisahkan bahwa ia akan meguru dan mertapa. Mendisiplinkan diri untuk melengkapi apa yang berdasar hati nurani ada yang kurang pada dirinya. Untuk kembali berjuang, bukan berjuang menuju kemenangan melainkan berjuang menuju keutuhan diri. Dan permasalahan bangsa adalah lahan basah untuk berjuang, dan setiap kesatria selalu mencintai bangsanya. Kesatria adalah kasta bangsawan, kasta kedua dalam ajaran Jawa Kawi dan amaliyahnya adalah hubbul wathan.

Cyber technology. Semenjak SMK saya belajar di lingkungan komputer. Belajar mengenai masa lalunya, masa kontemporer, hingga bagaimana rencana masa depannya. Hingga pada kesimpulan bahwa komputer dan seperangkat internetnya semakin digunakan sebagai alat kapitalis. Maka tak heran kita akan seringkali mendengar istilah venture capital, pendapatan per kapita dsb. Tidak semuanya, tapi dominan demikian. Selalu ada dua sisi dari sebuah alat. Alat digunakan untuk hal bermanfaat, dan untuk memberikan manfaat pada dirinya terus menerus kemudian sengaja lupa kepada kerugian orang lain yang ditimbulkannya.

 

Lantas, haruskah kita mengutuk cyber technology? Bukan sefatalis demikian kawan. Cak Dil senantiasa mengingatkan bahwa biasakan diri menjadi pribadi yang sibuk mengidentifikasi, menemukan masalah yang otentik kemudian menentukan sikap. Salah satu sikap yang tepat adalah memanfaatkan cyber tech untuk me-Muhammad-kan diri dan keluarga, keluaga di rumah maupun keluarga sebangsa. Sebuah langkah anti mainstream di tengah penggunaan teknologi yang amat mainstream. Masyarakat mainstream memanfaatkan teknologi untuk pamer dan memuja dunia.

Apa pula yang dimaksud cyber technology? Meminjam istilah orang-orang pintar, bahwa untuk mengetahui makna bisa berangkat dari akar per katanya. Cyber adalah bahasa enggres dari maya. Technology adalah teknologi, sebuah alat praktis untuk membantu kehidupan manusia. Jika keduanya digabung dalam sebuah kata benda maka akan menghasilkan definisi sebagai teknologi maya. Maya yang dimaksud bukan teknologi gaib mbah dukun, melainkan teknologi yang berkaitan dengan dunia internet, dunia digital, dunia virtual yang salah satunya adalah mbah gugel. Gugel telah disandangi predikat mbah oleh para anak cucunya. Karena ia disangka telah mencapai tingkat waskita, weruh sak durunge winarah dan tahu berbagai macam hal. Sehingga manusia banyak yang ketergantungan akan mbah gugel, kemudian lupa untuk tetap sadar. Lupa memerdekakan pikir bahwa manusia harus menyaring informasi, lupa berkaca mata bahwa kebenaran global bukanlah kebenaran sejati.

 

Dunia internet semakin deras. Banjir bandang informasi tak terbendung. Manusia tidak dihitung sebagai kesatuan diri tapi di total menjadi jumlah follower. Manusia semakin diakrabkan dengan angka dan perhitungan kemudian diajak menjauh dari banyak hal yang kualitatif. Makan pelem menghitung jumlah pelemnya dan mengabaikan kesadaran pelok. Padahal pelok adalah cikal bakal lestarinya pohon pelem. Maka hal yang paling mengesankan yang bisa diusahakan oleh anak cucu Maiyah adalah sadar, eling waspada terkait fenomena zaman, sehingga cakap untuk menghadapi berbagai varian fenomena yang lain. Saat ini dan di masa mendatang.

 

Ifa Alif

Saya Asli Jawa, maka saya mempelajari Jawa. Sesekali saya juga belajar Arab dan Barat, bahasanya, budayanya, peradabannya dsb. Hanya sesekali, Jawanya beberapa kali.

Dengan belajar ngaji Arab, saya tetaplah orang Jawa, tidak menjadi orang Arab. Perihal banyak hal baik yang bisa dipelajari dari Arab, hal itu tidak membatasi saya untuk tetap nguri-nguri Kabudayan Jawi. Demikian pula dengan segala kecanggihan Barat yang pernah saya pelajari, meski hanya sedikit, walau tak pernah banyak. Kecanggihan tersebut tidak merubah ke-Jawa-an saya. Cukup lama saya belajar tentang kecanggihan komputer, hingga pada satu kesimpulan sederhana bahwa nyatanya Ke-Kuna-an nenek moyang saya tidak kalah dengan kecanggihan apapun, dari bangsa manapun.

Karena ditakdirkan lahir sebagai Jawa, maka saya memiliki kewajiban untuk menjadi Jawa yang njawani. Kewajiban yang memang datang dari Tuhan yang telah menakdirkan saya menjadi Jawa.

#Jawadigawa #Arabdigarap #Baratdiruwat.

LEAVE A REPLY