Entahlah, ini judul yang keberapa kali kepakai. Rasanya selalu ada saja yang kurang untuk menjabarkan judul ini. Meski sebenarnya ada padanan lain yang bisa dipakai, entah itu ‘Keterbatasan Pengetahuan, Kesempitan Pengetahuan, Kedangkalan Pengetahuan, Kecupetan ilmu’. Tapi rasa-rasanya belum ada yang mewakili kata-kata ‘Limitasi Pengetahuan’. Dua kata yang terlalu bermakna dan akan selalu berkembang artinya seiring bertambahnya kapabilitas otak seseorang.

Meski berkali-kali sudah didiskusikan bahwasannya limitasi secara sederhana adalah keterbatasan, tetapi tetap saja banyak yang lupa bila saat berbicara batas maka dimensinya bukan hanya wilayah ataupun ruang, tetapi juga menyangkut dimensi waktu.

Sedang pengetahuan sama sekali tak identik dengan ilmu, sesungguhnya. Meski otak manusia saat lahir dibekali dengan “tahu-tahu” mendasar, sebagian besar ruang otak terkomposisi dari ‘ketidaktahuan-kebelumtahuan’. Terdengar aneh memang kata ‘tahu-tahu’ ini, sehingga dalam perjalanannya mulut lebih mudah mengucapkan ‘pengetahuan’ yang tak lain merupakan kumpulan dari ‘tahu-tahu’ yang dalam kurun waktu tertentu bersemayam di dalam otak.

Baiklah, mari disepakati bahwa ketika bertemu kata ‘pengetahuan’ maka itu identik dengan kumpulan ‘tahu-tahu’ dalam otak.

Maka, dalam perjalanan hidupnya pada kurun waktu tertentu, manusia tanpa sadar tertarik mengisi ruang-ruang ketidaktahuan-kebelumtahuan dengan pengetahuan-pengetahuan baru. Terkadang ingin mengisinya secara cepat, dilain waktu ingin mengisi secara lambat laun agar mendapat pengetahuan yang presisi atau tepat. Terkadang pengetahuan itu didapat dari pengamatan & penelitian secara terstruktur, terkadang didapat dari olah logika atau pemikiran mendalam. Bahkan tak jarang disaat otak dan tangan tak mampu digerakkan tetapi tiba-tiba muncul keinginan untuk mengisi ruang ketidak-belumtahuan, ia langsung saja mengisi dengan pengetahuan yang entah darimana asal dan prosesnya. Mungkin berasal dari memori masa lalunya yang terpendam teramat dalam dilekukan terdalam otaknya. Kemudian banyak orang menyederhanakan bahwa pengetahuan yang mengisi ruang kosong otak itu bisa didapat minimal dari 3 proses yang berbeda yakni pertama, proses penelitian yang melibatkan keyakinan, pemikiran logis akal, ketrampilan sistematis tangan. Kedua, proses yang melibatkan keyakinan & pemikiran logis. Ketiga, proses yang hanya melibatkan keyakinan.

Pengetahuan yang didapat melalui proses pertama sering dinamai dengan pengetahuan ‘ilmu’. Pengetahuan yang didapat melalui proses kedua sering dinamai pengetahuan ‘filosofis’, dimana prosesnya sering disebut dengan filsafat. Sedang pengetahuan yang didapat melalui proses ketiga sering disebut dengan pengetahuan ‘teologis’, sebuah pengetahuan yang tak jelas asal dan prosesnya, tetapi dipakai oleh otak pada saat tertentu untuk menjawab sebuah pertanyaan atau permasalahan.

 

Baru teringat, bahwa tak semua pengetahuan-pengetahuan yang baru tercipta atau didapat tersebut ditanam di dalam otak. Bahkan ada yang mengatakan lebih dari 99% informasi yang baru masuk ke otak langsung dibuang. Artinya, hanya kurang dari 1% informasi baru yang ditahan otak untuk kemudian ditanam didalam memori. Informasi-informasi ini adalah bahan dasar pengetahuan.

Lantas, pengetahuan yang bagaimana yang ditahan (diretensi) otak?

Otak hanya akan meretensi (menahan) pengetahuan-pengetahuan yang dianggap benar oleh individu itu. Sekali lagi, yang DIANGGAP benar, bukan yang benar sejati.

Benar dalam hal apa?

Dalam hal mempertahankan kehidupan. Otak hanya menyimpan pengetahuan-pengetahuan yang sekiranya bisa digunakan individu tersebut saat pada suatu ketika perjalanan hidupnya ia menghadapi ancaman kehidupan. Ia membutuhkan pengetahuan itu agar bisa dengan cepat menghindari ancaman itu, atau bahkan menghadapi ancaman itu bila terpaksa.

Bila seseorang hanya merencanakan kehidupannya hanya sampai kematian batasnya, maka ia tak akan meretensi pengetahuan-pengetahuan yang diperlukan untuk menghadapi kehidupan sesudah kematian. Sebaliknya, seseorang yang memiliki konsep bahwa ia harus mampu bertahan menjalani kehidupan setelah kematian, niscaya ia akan berusaha mengisi ruang-ruang kosong otaknya dengan pengetahuan-pengetahuan yang bisa digunakan saat diperlukan menghadapi ancaman-ancaman kehidupan setelah kematian.

Maka disaat berbicara pengetahuan, sesungguhnya tidak bisa terlepas dengan konsep kebenaran. Pengetahuan diperlukan untuk mengetahui mana yang benar. Bila tak tertarik mencari kebenaran, alih-alih kebenaran tertinggi (sejati), lupakan saja keinginan ataupun cita-cita ataupun permohonan melalui doa untuk bertambahnya pengetahuan (populernya bertambahnya ilmu ?). Toh sepertinya takkan tertanam bahkan sekedar menempel di otak pengetahuan itu karena tak tahu arah tujuannya.

 

Terserah ruang-ruang kosong otak mau dibanjiri dengan pengetahuan dari proses yang mana. Sekedar mengingatkan betapa dahsyatnya pengetahuan teologis. Pengetahuan yang tak jelas asal dan prosesnya, tetapi sangat diyakini kebenarannya. Seolah-olah otak adalah tempat penitipan. Maka silahkan memilih, mau memfungsikan otak sebagai tempat penitipan ataukah memfungsikan otak sebagai wilayah yang memiliki kemerdekaan tanpa mengabaikan batas-batas.

Bila otak difungsikan sebagai tempat penitipan pengetahuan, maka output yang didapat adalah individu itu akan hidup mengalir seperti air, seperti makhluk-makhluk yang lain.

Sedang bila otak difungsikan sebagai wilayah yang merdeka terbatas, outputnya adalah individu itu akan hidup dengan kreasi-kreasi baru setiap saat yang membuat hidupnya berwarna-warni, dan itu sering disebut keindahan.

Sekali silahkan memilih, kehidupan dalam kebenaran ataukah kehidupan dalam keindahan. Ditengah-ditengah diantara kedua kehidupan itu ada kehidupan dengan kebaikan.

Ah, terlalu panjang kiranya uraian pengetahuan ini. Tapi memang inilah bukti bahwa dua kata itu, limitasi & pengetahuan, tak jua habis-habis diuraikan.

Hal yang ingin kusampaikan sebenarnya adalah…

Ini akan panjang..?

Seiring berjalannya waktu, otak manusia menyerap informasi-informasi baru setiap saat.

Apa artinya?

Bila saja konsep kebenaran tak jua dipahami (dan itu hampir pasti, karena bukan hal mudah membuat konsep kebenaran, apalagi kebenaran sejati) maka akan banyak pengetahuan-pengetahuan tak sejati yang menempel di otak bagai benalu mengerubuti sebatang pohon, meski sesungguhnya kunci kebenaran sejati ada dilubuk otak terdalam manusia. Bila terlalu banyak benalu, maka itu akan semakin menyulitkan akses ke kunci kebenaran tersebut.

Lalu?

Selagi masih belum hilang kesadaran akan kebenaran sejati, segeralah uji pengetahuan-pengetahuan yang baru saja masuk ke otak.

Bagaimana mengujinya?

Beritahukan saja pengetahuan-pengetahuan baru itu kepada sesama, kepada orang lain. Meski orang lain belum tentu juga valid, tetapi ia tetap bisa menjadi cermin dan pembanding bagi diri kita.

Jangan menunggu pengetahuan itu menumpuk menyelimuti otak, karena semakin banyak pengetahuan maka semakin butuh kerja keras pula untuk mengklasifikasi dan menyingkapnya.

Sekali lagi, otak tak mampu membedakan mana yang ‘benar’ dan mana yang ‘dianggap benar’. Dua-duanya dibaca sebagai kebenaran. Kesadaran kepada kebenaran sejati yang memiliki potensi membedakan.

 

Lalu, bagaimana memberitahukan pengetahuan-pengetahuan baru itu kepada orang lain?

Berkumpul, berbicara, berdiskusilah denga orang lain. Tapi itu sulit didapat momennya, karena engkau sudah memilih jalan sunyi. Maka hal paling rasional adalah beritahu orang-orang iti dengan menuangkan pengetahuan-pengetahuan itu dalam TULISAN.

Ya, MENULISLAH, dalam rangka menguji pengetahuanmu, Menulislah mumpung waktu belum berjalan terlalu jauh,

Menulislah senyampang masih terbatas pengetahuanmu,

Menulislah selagi mata dan telingamu belum terkontaminasi..

Yakinlah, seiring berjalannya waktu akan banyak kotoran-kotoran pengetahuan yang memasuki mata dan telingamu kemudian cepat atau lambat meracuni akal dan nuranimu hingga hilang kesadaran akan konsep kebenaran sejati.

Menulislah, karena saat ini tak akan kau temui lagi di masa yang akan datang,

Menulislah, selagi belum bertambah kompleks masalah-masalah kehidupan mengujimu..

Bersyukurlah sesyukur-syukurnya bila hari ini engkau menyadari sedang mengalami ‘limitasi pengetahuan’. Ini saatnya menutup mata dan telinga barang sejenak. Salurkan energi sepenuh-penuhnya ke tangan, ke ibu jari, jari telunjuk & jari tengah untuk menggerakkan pena.

Tak membutuhkan sistematika, keindahan, keruntutan bahasa dalam tulisanmu.

Yang dibutuhkan adalah NIAT menjaga kesadaran menemukan konsep kebenaran…

 

Gunakan masa mudamu sebelum datang masa tuamu..

 

Syukurilah kesempitanmu, kedangkalamnu, keterbatasanmu dengan…

MENULIS..

MENULIS….

MENULIS……

MENULIS……..

MENULIS………

MENULIIIIIIIIIIISSSSSS….

Sampai berjumpa pada “Limitasi Pengetahuan” berikutnya…?

LEAVE A REPLY