Tuhan, aku berguru kepadaMu

Tidak tidur di kereta waktu..

(MV)

 

Kereta ini perlahan mulai bergerak ke arah barat. Meski masih ada yang berlalu lalang, tetapi mayoritas penumpang sudah pada duduk tenang. Bahkan ada yang sekejap kemudian sudah memasang headset di telinga kemudian memejamkan mata. Kereta selalu saja menawarkan kenyamanan, tak peduli itu kelas ekonomi. Dan itulah karakter utama dari benda ini yang menyebabkan ia disebut kereta.

Saat singgah di stasiun berikutnya, mata ini yang sedari tadi tak jua terpejam “tak sengaja” menatap kereta lain yang berlawanan arah. Setelah 2-3 menit sama-sama berhenti, kereta di luar itu perlahan mulai bergerak. Tampak tak mudah kereta yang lebih elok itu untuk bergerak. Roda-roda besi seolah dipaksa dengan kekuatan penuh untuk menggelinding. Tiba-tiba saja otak ini membayangkan betapa berat itu semua. Pun juga mendadak membayangkan berapa ongkos yang harus dikeluarkan untuk ‘mencipta’ sebuah kenyamanan. Eh..kereta.

Kereta itu bergerak semakin cepat, tetapi mata ini masih bisa sedikit menyaksikan sisi dalam dari kereta itu yang berisi deretan penumpang-penumpang yang mayoritas tampak duduk tenang. Jauh tampak lebih nyaman kereta diluar itu daripada kereta yang mengangkut tubuh ini. Ya, karena itu adalah kereta kelas eksekutif, vs kelas ekonomi. Jelas beda harga.

Kenyamanan bukan Penyelamat!

Sekonyong-konyong renjatan elektromagnetik dari otak terdalam ini menyeruak membangkitkan kesadaran yang sudah lama senyap. Tak ada ongkos yang murah untuk kenyamanan super! Selalu ada harga yang harus dibayar bagi siapapun yang menginginkan kenyamanan. Dan ini sebenarnya bukan masalah utama.

Masalah utamanya adalah, mengapa orang berlomba-lomba mengejar kenyamanan? Apakah kenyamanan akan membuat hidup seseorang lebih baik? Apakah kenyamanan berbanding lurus dengan keamanan?

Jawabannya absurd. Hampir semua orang tak tahu jawabannya, dan memilih untuk tak mau menjawab. Memilih menikmati saja kenyamanan. Toh hidup hanya sementara, begitu alasannya. Jelas ini sebuah jawaban fatalistik, jawaban karena kemalasan berpikir.

Dimanakah Kewaspadaan?

Kalau saja mau sedikit memperpanjang pikiran, akan sampai pada jawaban bahwa sesungguhnya kenyamanan itu justru berpotensi membunuh perlahan-lahan. Kenyamanan akan menyebabkan seseorang cepat atau lambat kehilangan kemampuan waspadanya. Lalu, bisa membayangkan ‘kan bagaimana bila engkau berjalan tanpa kewaspadaan terhadap kanan kirimu, atas bawahmu, depan belakangmu?

Kewaspadaan tak hanya menyoal keselamatan fisik, tetapi juga keselamatan berpikir. Bila saja otak tak diaktivasi secara terus-menerus, bahkan disaat mata terpejam sekalipun, maka bayangkanlah sendiri apakah seseorang mampu bertahan dalam perjalanan hidupnya. Luka fisik akibat ketidakwaspadaan mungkin bisa sembuh tanpa bekas seiring berjalannya waktu. Tetapi bila cara berpikir sudah terluka, tak mudah bagi sel-sel saraf otak untuk membaik dan berfungsi seperti sedia kala. Yang terjadi bila itu dibiarkan terus-menerus adalah terjadinya kecacatan berpikir. Orang takkan lagi mampu berpikir zigzag apalagi spiral apalagi siklikal. Orang takkan lagi mampu mengidentifikasi mana sebab mana akibat. Bahkan pada hal yang kasat mata pun, orang takkan mampu lagi membedakan mana kerbau mana gudel. Sehingga ketika ada suatu bangsa yang katanya besar malah menikmati menyusu pada bagian bangsa bernama Maiyah, orang tak ada yang heran. #eh

Menyadari Kecacatan

Kecacatan berpikir itu menyebabkan seseorang hanya mampu berpikir linier. Yang hanya bisa menjawab satu permasalahan hanya dengan 2 kemungkinan jawaban, ya dan tidak. Orang-orang ini berani mati meyakini bahwa bila sesuatu itu tidak salah berarti benar. Padahal diantara salah dan benar itu ada gradasi berupa 1/100 benar, 1/50 benar, 1/25 benar, 1/12 benar, 1/8, benar, ¼ hingga ½ benar. Sehingga tidak bisa lagi membedakan antara kesalahan dan kelalaian. Bahwa ada kekeliruan yang disengaja yang disebut “salah” dan ada kekeliruan yang tidak disengaja yang disebut “lalai”.

Kecacatan berpikir inilah yang kemudian menjalar pada kemampuan seseorang memperlakukan ruang dan waktu. 2 komponen dimensi yang selalu menyertai setiap kelahiran manusia. bukan tanpa sebab seseorang dilahirkan di dunia pada tempat atau ruang tertentu dan pada waktu tertentu pula. Kesadaran akan perbedaan waktu siang dan malam, perbedaan Timur dan Barat semakin hilang pada jaman dimana informasi menyebar agresif. Ditambah lagi penciptaan cahaya-cahaya artifisial (palsu) yang tak terkendali, tak hanya menyebabkan seseorang tak lagi mampu membedakan siang dan malam, tetapi juga semakin mengaburkan kemampuan seseorang untuk memahami keberadaan Cahaya Sejati.

Ketidakmampuan mendeteksi hal-hal remeh secara detail, sebenarnya menjadi sumber utama masalah bagi siapa saja yang menjalani hidup. sepertinya ada yang terlupa, bahwa tak ada benda sekecil debu pun diciptakan tanpa tujuan.

Apesnya, alam seolah mengamini fenomena tersebut. Apakah ada konsekuensi yang segera terjadi ketika waktu dilipat? Apakah ada dampak segera yang terjadi bila suatu pekerjaan ditunda tanpa alasan? Jawabannya adalah nyaris tidak ada! Itulah apesnya. Hanya orang-orang dengan kualitas kesadaran tertinggilah yang bisa merasakan dan memahami itu semua. Tapi, berapa banyak di dunia manusia jenis ini? Silahkan hitung sendiri dengan statistik tercanggih. Tapi sedikit bocoran jawaban, itu jenis manusia langka.

Karena itu semuanya, waktu tak ubahnya kereta. Ia berjalan terus pada relnya dan tak pernah kembali. Ia berjalan pelan hingga melenakan dan menyamankan. Hingga sesuatu tampak tak pernah berubah dari hari ke hari, sampai kemudian kita sudah sangat jauh melampaui hari-hari itu. Dan baru menyadari ketika tak ada lagi energi yang bisa digunakan untuk bergerak dan sudah saatnya turun dari kereta waktu karena sudah sampai di penghujung perjalanan hidup fana ini.

Lalu, kepada siapa lagi kita akan berguru tatkala terlena dan ternyamankan tertidur di kereta waktu ini?

Mata ini tiba-tiba terbelalak merah ketika bahu disentuh lembut seorang gadis…dan aku masih di kereta!

Semoga gadis itu bukan wujud lain Izroil. 🙂

 

KA Dhoho Penataran Tulungagung-Malang
12-09-2017, 13.47 WIB
Christyaji I

LEAVE A REPLY