Aliran yang bergetar dan getaran yang mengalir. Begitu Mbah Nun kerap kali menggambarkan sebuah kehidupan. Selalu berubah mengikuti pergerakan zaman. Tak heran jika perubahan pun menjadi salah satu ciri dari adanya kehidupan.

Berbicara tentang kehidupan dan juga perubahan, tentu perubahan dalam aliran sungai kehidupan A tidak akan selalu sama dengan perubahan aliran sungai B. Perubahan getaran yang terjadi di bumi Nusantara belum tentu sama dengan yang ada di Belanda. Perubahan yang ada di kampung saya juga tidak harus sama dengan perubahan aliran di kampung Anda. Setiap aliran kehidupan mengalir sesuai dengan tempatnya. Sedang masing-masing tempat pun juga berbeda-beda. Jadi, sah-sah saja jika aliran dan getaran itu tidak selalu sama. Justru keberagaman itu lah yang membuat aliran-aliran setiap kita berhimpun menjadi gelombang kehidupan yang semakin berwarna. Dan semakin indah dengan segala pesonanya. Lalu, apa jadinya jika setiap keunikan kita diam-diam dihapuskan dan dipaksakan seragam? Masih kah indah, jika pesona kekayaan warna pelangi kehidupan kita dirampas dan dibiarkan tak bersisa selain hanya sewarna saja?

Pudarnya Pesona Desa

Berbicara tentang keindahan, tangan ini akan mencoba melukiskan satu dari berjuta keindahan yang dibentangkan-Nya di keluasan semesta ini. Alkisah, ada suatu daerah yang begitu subur. Rakyatnya adil dan makmur. Bukan makmur hanya semata-mata karena kaya akan harta benda. Lebih dari itu, keadilan lah yang membuat penduduknya sangat kaya akan jiwa. Seolah tabungan akan kesabaran serta keramahan dan cinta kasih mereka tak terhingga banyaknya. Hingga kepada siapa pun saja, mereka membagikan percikan-percikan kasih sayangnya. Berbuat baik kepada yang lainnya, saling sapa, saling bahu membahu antar tetangga, serta saling mengingatkan jika ada yang salah dan lupa.

Hilir mudik terdengar riuh rendah obrolan renyah di antara mereka. Guyub rukun. Saling bahu membahu meringankan beban antar tetanga. Kalau ada salah satu yang mempunyai hajat, yang lain pun dengan suka cita membantunya. Rewang. Begitu mereka mengistilahkannya. Membantu meringankan pekerjaan tetangga demi kelancaran hajat yang tengah ditanggungnya. Ada lagi sayan. Sebutan khusus untuk bapak-bapak yang tengah bergotong royong membantu mendirikan rumah atau pun bangunan-bangunan milik tetangganya. Selain itu, masih banyak lagi pemandangan akrab kekeluargaan yang terlukis indah di atas tanah desa sana. Seperti perkumpulan-perkumpulan yasinan, jamaah pengajian, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Kebiasaan-kebiasaan warga desa itu diam-diam telah turut menumbuhkan kepedulian di antara mereka. Dan semakin mempererat tali kekeluargaan serta persaudaraan di antara mereka. Bagaimana tidak semakin akrab dan peduli satu sama lain, jika dengan saling bertemu, mereka bisa saling bertukar cerita dan menanyakan kabar satu dengan yang lainnya.

Di lain sisi, tak jarang pertemuan antar ibu-ibu desa tersebut sering kali berujung pada merumpi. Meskipun begitu, bukan berarti aktivitas merumpi tersebut selalu berujung pada hal-hal yang negatif saja. Obrolan ibu-ibu tersebut justru bisa menjadi kontrol sosial di antara masyarakatnya. Jika ada yang berbuat salah, melanggar norma-norma yang ada di tengah masyarakat, akan selalu mendapatkan ‘hadiah cibiran’ ibu-ibu kampungnya. Dengan demikian, kita akan jauh lebih berhati-hati dalam bertindak. Menjaga norma-norma yang ada. Agar tidak sampai menjadi buah bibir masyarakat sekitarnya.

Akan tetapi, rupanya semakin ke sini perubahan membawa masyarakat desa tersebut semakin menjauh dari atmosfer kepedulian dengan sesama. Seolah semakin kokoh benteng individunya. Semakin sedikit yang belanja ke warung tetangga, semakin sedikit yang saling menyapa, semakin sedikit yang saling meringankan beban antar sesama, semakin sedikit yang peduli akan kelakuan masyarakat sekitarnya. Jika sudah begini, orang-orang yang berniat berbuat amoral pun akan semakin leluasa. Tak lagi takut mendapatkan sanksi sosial dari waga sekitarnya. Karena sudah tidak ada lagi yang peduli dengan apa yang dilakukan tetangganya.

Entah memang sudah tiba masanya masyarakat kita mengalami krisis kepedulian dengan sesama, atau kah memang ada yang sengaja mengikis kearifan perilaku masyarakat kita. Entahlah. Yang jelas, krisis kepedulian, melemahnya kontrol sosial, sangat berpengaruh pada perilaku masyarakat kita. Karena bagaimana pun, pendidikan untuk berlaku benar, baik, dan indah, tidak hanya didapatkan di bangku sekolah formal saja. Akan tetapi juga harus didapatkan melalui pendidikan kultural. Pendidikan yang ada di tengah masyarakat kita. Dan justru, pendidikan kultural ini lah yang dirasa jauh lebih berpengaruh terhadap keelokan laku masyarakat kita, dibandingkan dengan pengajaran yang didapatkan di bangku sekolah kita. Karena waktu kita menghirup nafas, jauh lebih banyak kita habiskan di tengah masyarakat. Dibandingkan dengan waktu kita dibangku sekolah yang penuh dengan aturan pengikat.

Lalu, jika gaung tawa canda, indahnya kepedulian dalam saling sapa tersebut tengah mengembara. Kemana lagi kita harus mencarinya. Selain kembali mengundangnya, dengan mulai memperbaiki  kembali jalinan kepedulian di antara kita. Megokohkan kembali benteng kontrol sosial kita. Lalu bersama berjalan menuju kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang Sebenarnya.

Hilwin Nisa’

LEAVE A REPLY