Aku pernah mengenal seseorang. Seorang pemuda biasa, teramat biasa malah. Tak lebih cakep dari pesinetron Indonesia yang tengah naik daun, tak lebih kece dari bintang Korea apalagi artis glamor nan kaya dari luar negeri. Sekilas yang nampak dari luar, pemuda ini terlihat sama layaknya pemuda-pemuda lainnya. Sungguh, sama sekali tidak ada yang nampak istimewa.

Namun aku tertipu tampilan visual. Ternyata, apa yang ada di balik tubuh mungilnya banyak menyimpan mimpi-mimpi yang ia ciptakan tidak hanya untuk diri sendiri. Banyak sekali hal-hal mengesankan, pemuda ini seperti penuh dengan ambisi, namun ambisinya tak pernah sederhana, ambisi yang santun menuntun untuk menebarkan biji kebaikan dimanapun ia berada. Dan berharap biji tersebut mandiri, tumbuh subur dan berbuah manfaat.

Suatu ketika, di masa-masa yang aku berhasil menjadi salah satu saksinya. Keputusan sulit harus segera ia pilih, pilihan dimana ia kudu memutuskan antara keluar dari zona aman dan nyamannya ataukah memilih untuk mengais ilmu di kota seberang, kota orang asing, kota yang tak sekalipun pernah ia kunjungi. Tidak akan ada lagi keluarga yang saban hari menemani. Tak akan lagi punya banyak kawan, semua akan nampak baru dan harus dimulai dari awal.

Keputusan sulit musti tetap diambil, langkah harus terus diayun. Sebab, mimpi-mimpi yang terlanjur ia janjikan pada hati tak pernah mau menunggu kesempatan berikutnya. Yang sulit baginya kawan, bukan perihal jauh dari keluarga maupun kawan-kawan yang sudah terlanjur menawan hatinya. Tapi lebih dari itu, keputusan itu harus diambil tatkala kampung halamannya terkena imbas dari aktifnya Merapi. Ditambah lagi, perantauan ke kota seberang itu selalu butuh biaya. Pemuda mungil merasa tak cukup punya bekal materi, ia tak cukup beruntung lahir di keluarga kaya. Tapi ia selalu bersyukur, bahwa keluarganya teramat luar biasa. Jauh luar biasa dari keluarga kaya manapun.

Akhirnya ia buat keputusan, keputusan yang siapapun pernah mengenalnya akan tahu bahwa itu adalah keputusan sulit. Ia putuskan untuk bertanggung jawab pada setiap mimpi-mimpinya. Dengan usaha keras, keringat yang meggenang serta tangis yang ia tahan untuk tidak nampak berlinang. Ia menantang keterbatasan yang ia hadapi dengan mencari beasiswa. Dengan segenap bekal yang ia miliki, dengan usaha dan do’a yang mungkin lebih banyak dari siapapun di usianya. Lalu ditakdirkan, dengan senang hati, Tuhan merestui langkah awalnya untuk melanjutkan mimpi. Tak hanya merestui, Tuhanpun memfasilitasi, kelak di cerita yang akan kukisahkan selanjutnya, kalian akan segera tahu apa fasilitas-fasilitas itu.

Atas kasih sayang Tuhan, pemuda mungil itu kini berlabel mahasiswa. Ia tercatat sebagai mahasiswa di salah satu Universitas Negeri wilayah Malang. Jauh dari keluarga, ia harus mampu berdiri di kaki sendiri, tidak lagi bersembunyi di balik punggung orang tua. Ia sadar betul bahwa saat berani bermimpi maka harus berani melangkah dan berani bertanggung jawab.

Perjalanan memang selalu penuh kejutan, dan perjalanan pemuda mungil jelas tidak mudah. Dulu saat ia hendak berangkat, dengan penuh semangat ia berhasil meyakinkan orang tuanya bahwa ia akan baik-baik saja. Dari semangat itu pula, kedua orang tuanya berhasil merelakan kepergian pemuda mungil, berhasil dengan berat hati. Namun kenyataan memang tidak selalu monoton, tak terus menerus seperti yang diperhitungkan. Manusia berhak merencanakan, takdir yang akan memutuskan.

Selanjutnya, perjalanan hidupnya sungguh tidak bisa dibilang mudah. Bagaimana tidak, seperti yang kuceritakan tadi, ia bukanlah seorang pemuda yang terlahir dari pejabat kaya raya, ia hanya anak seorang petani salak dengan segala keterbatasannya. Petani salak yang lahannya turut terkena imbas Merapi. Para petani banyak yang tak berhasil mendukung anaknya tetap kuliah. Atas kondisi itu, saat berkuliah ia memanfaatkan kaki untuk berjalan pulang-pergi kampus. Dan satu hal yang amat ia syukuri adalah bahwa suatu ketika Tuhan memberikan ia fasilitas sepeda onthel. Sepeda onthel yang berhasil ia miliki dari tabungan beasiswanya. Saat kebanyakan teman-temannya naik motor matic yang sama sekali tak membuat banyak gerakan kaki, ia amat rajin menggerakkan kakinya untuk mengayuh. Demi satu tujuan kawan, kayuhan itu bertujuan satu, mendekat pada mimpi.

Satu yang ia percaya dengan segala keterbatasan yang melekat. Ia berkeyakinan bahwa seorang pemuda harus bisa memanfaatkan masa mudanya. Masa muda adalah masa memasuki puncak performa fisik. Masa muda adalah modal utama untuk berjuang.

Tragedi Perselingkuhan!

Rutinitasnya masih sama, ia masih setia bercengkerama dengan sepeda onthelnya. Hingga suatu ketika, karena keperluan yang teramat mendesak. Ahirnya ia beranikan diri meminjam sepeda motor kepada salah satu temannya. Di mata sepeda onthelnya, tentu ini adalah sebuah pengkhianatan. Dan pengkhianatan apapun selalu memicu rasa kecewa. Itu juga mungkin yang dirasakan si sepeda onthel.

Memang Tuhan selalu penuh kejutan. Sekali lagi, Tuhan memberikan ia fasilitas, kali ini fasilitasnya hadir dengan ‘beda’. Selanjutnya cerita berjalan sederhana namun menjadi sesuatu yang kompleks dibenak pemuda mungil. Ia meminjam sepeda motor untuk bertamu ke rumah salah satu guru besar yang ada di kampusya. Untuk sekadar bercerita perihal pengalaman yang Tuhan hadirkan.

Tapi siapa yang menduga. Lewat pertemuan itu juga, motor pinjaman yang tadi ia parkir rapi di depan rumah si guru besar ternyata di curi orang. Entah, pencurian itu dikerjakan oleh bajingan ataukah malah malaikat yang menyamar jadi bajingan. Satu yang ku tahu kawan, saat itu hati pemuda mungil benar-benar hancur. Seolah semua mimpi yang pernah ia bangun, seluruhnya runtuh.

Bagaimana mungkin, Tuhan yang kata orang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang memberikan ujian seberat ini. Untuk membeli sepeda saja ia harus bersusah payah menyisihkan sebagian uang beasiswanya, berhemat dan menambahinya sedikit demi sedikit, lalu bagaimana bisa ia harus mengganti sepeda motor temannya yang sudah terlanjur ia hilangkan. Rasanya, hukuman ini tak pantas dilimpahkan atas pengkhianatan yang ia lakukan pada sepeda onthelnya. Rupanya Tuhan tidak benar-benar Maha Penyayang.

Keyakinannya bahwa jika ummatNya punya niat baik sudah barang pasti akan dijagaNya sejenak luntur dari hati. Marah, takut, putus asa, bingung semua bercampur menjadi satu, bercampur aduk. Lebih bercampur dari nasi yang terlanjur menjadi bubur. Lebih tak karuan dari bubur ayam yang beberapa kali diaduk. Bagaimana bisa di tempat yang seaman itu motor yang ia parkir bisa hilang tak berbekas. Jika itu motornya sendiri mungkin bebannya tidak akan seberat ini, namun kenyataannya sepeda motor yang ia bawa adalah sepeda motor pinjaman. Sepeda pinjaman dari salah satu temannya yang berbaik hati berkenan meminjamkan motornya. Kebaikan hati di tengah modernnya dunia yang semakin jauh dari tolong menolong.

Sejenak ia teringat perkataan bapak guru, bapak guru yang menjadi salah satu dosennya di kampus. “Apapun itu, jika sudah menyoal dengan takdir Tuhan, sudah barang pasti adalah hal yang baik dan akan membaikkan. Ketka kau mampu menghadapi dan menanganinya dengan keindahan.”

Beberapa hari berselang, selepas kejadian hilangnya sepeda motor. Beberapa hari selepas ia berhasil menerima kenyataan itu. Dengan tawa yang mengembang, dengan sisa-sisa keberaniannya ia ceritakan pada bapak guru. Cerita yang dibalut dengan wajah tetap tersenyum menutupi semua kesedihan dan menyimpannya untuk diri sendiri.  Ia menceritakan semua kejadian beberapa hari lalu yang ia alami kepada bapak guru. Mencoba ikhlas dan menerima semua cobaan yang ia hadapi, dengan satu keyakinan bahwa akan selalu ada jalan keluar di setiap cobaan, “buntu,  awal adanya pintu.

Namun yang sejati, Tuhan memang maha luar biasa, selalu mampu menunjukkan rasa sayangnya kepada umatNya dengan jalan-jalan yang berkesan. JanjiNya selalu pasti, bahwa tidak akan pernah memberi cobaan kepada umatNya jika umatnya tidak mampu untuk melewatinya. Tanpa terduga, tulisan essay yang ia kirim sebelum kejadian hilangnya motor pada suatu kompetisi esai nasional, ternyata diterima dan mendapatkan juara pertama. Benar-benar diluar dugaan, akhirnya uang yang ia dapatkan bisa untuk membantu menganti motor yang telah hilang. Ini adalah fasilitas lanjutan.

Sekarang, ketika tulisan ini dibuat, pemuda ini tengah berjuang menebar biji-biji kebaikannya. Kali ini ia tidak hanya berada di luar kota yang jauh dari kampung halamannya. Namun sekarang ia tengah berada di bagian belahan bumi lain, belahan bumi Eropa. Mendekati mimpi sembari mencari serpihan cahaya-cahayaNya yang terserak tersebar di Negeri Jerman. Tekad yang besar serta keistiqomahannya bersepeda yang ia terus lakukan ahirnya terjawab. Dua bulan yang lalu pemuda ini berangkat ke Jerman untuk melanjutkan mimpi-mimpi. Mimpi yang telah ia rangkai dengan perjuangan yang sama sekali tidak mudah. Dan kau tahu kawan, rutinitas yang setiap hari ia lakukan bersama sepeda onthelnya? Itu merupakan rutinitas harian yang dilakukan masyarakat Jerman. Dan berkat latihannya selama kuliah untuk istiqomah jalan dan bersepeda, kini kakinya sudah cakap mengayuh beriringan dengan pemuda lain seantero negeri yang tengah menempuh jalan hidup di Jerman. Tidak hanya mengayuh, kaki mungilnya juga mampu tegak berdiri dan melangkah dengan pasti di Jalanan kota Hessen.

Aku rasa sosok seperti inilah yang patut kita sebut sebagai pemuda. Dimana ia mampu mengenali dirinya sendiri. Mengupayakan mimpi, berbakti pada kebaikan dengan mengupayakan apa yang melekat dan apa yang dimiliki. Dan tetap berjuang walaupun benar-benar sadar bahwa perjalanan hidup tidak selalu mulus nan mudah. Di balik segala keterbatasannya, di dalam tubuh mungilnya tekadnya teramat luar biasa. Meski tubuh yang ia miliki tak lebih tinggi dari syarat menjadi satuan militer.

Dan apakah kau tahu kawan? Sebenarnya sosok yang kuceritakan bukanlah sosok pemuda yang ideal. Karena dia bukanlah pemuda, ia adalah pemudi. Sosok yang kuceritakan tadi adalah pemilik gen dan darah feminine. Ia adalah seorang perempuan mungil dan kecil yang berasal dari sebuah desa kecil di kawasan Muntilan, Magelang Jawa Tengah. Memang tubuhnya sangat mungil namun tekad yang ia tunjukkan teramat besar. Keyakinan yang selalu ia miliki adalah saat dimana kita hanya memiliki niat yang baik maka jangan pernah mudah untuk menyerah dan berbalik arah. Hal itu yang selalu aku ingat dan kuteladani, sekarang, nanti sampai aku mampu membuatnya ia iri.

Masa muda adalah masa dimana kita mencoba mengenal diri sendiri. Berada pada fase performa fisik maksimal namun belum memiliki pengalaman yang lebih. Para pemuda masih memerlukan pembinaan dan pengembangan ke arah yang lebih baik, agar dapat melanjutkan dan mengisi pembangunan yang kini telah berlangsung. Untuk itu para pemuda manapun perlu menyelesaikan pencarian jati diri, dengan cara belajar dimanapun, kapanpun dan dengan siapapun.

Pemuda adalah seseorang yang mampu bertaggung jawab terhadap segala keputusan dalam hidupnya, walaupun dalam keterbatasan pengetahuan, meski terbatasnya kemampuan. Mampu memilih jalan mana yang akan ia ambil dan berkomitmen memperjuangkannya. Memilih keluar dari zona aman, mengais ilmu di kota maupun negara orang dengan mandiri.

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah
Merantaulah, kau akan mendapat keluarga dan kawan-kawan baru
Berkeringatlah, nikmatnya hidup begitu terasa setelah kau lelah berjuang 

Aku melihat air menjadi keruh karena diam tertahan
Jika mengalir ia menjadi jernih, jika tidak maka jadi keruh menggenang
Singa jika tak meninggalkan sarang tak mendapat mangsa
Anak panah jika tak meninggalkan busur tak akan mencapai sasaran

Jika matahari di orbitnya tak bergerak dan tetap diam
Tentu manusia mudah bosan dan enggan memandang
Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika tetap di dalam hutan
Imam Syafii

Penulis : Nyuhani Prasasti
Foto :

SHARE
Previous articleDataran Lantai yang Landai
Next articleMasterpiece

LEAVE A REPLY